MENGUAK TABIR PERISTIWA 1 OKTOBER 1965 - MENCARI KEADILAN


Acrobat Reader is required

Dipersembahkan kepada:
Seluruh Korban Rejim Jendral Suharto

English Version
Dedicated to:
all the Victims of General Suharto´s Regime

 

http://www.mesias.8k.com/konspirasi.htm

Konspirasi dan Genosida:

Kemunculan Orde Baru dan Pembunuhan Massal1

OLEH BONNIE TRIYANA
2

Gestapu 1965: Awal Sebuah Malapetaka

Pada hari kamis malam tanggal 30 September 1965, sekelompok pasukan yang terdiri dari berbagai kesatuan Angkatan Darat bergerak menuju kediaman 7 perwira tinggi Angkatan Darat. Hanya satu tujuan mereka, membawa ketujuh orang jenderal tersebut hidup atau mati ke hadapan Presiden Soekarno. Pada kenyataannya, mereka yang diculik tak pernah dihadapkan kepada Soekarno. Dalam aksinya, gerakan itu hanya berhasil menculik 6 jenderal saja. Keenam jenderal tersebut ialah Letjen. Ahmad Yani, Mayjen. Suprapto, Mayjen. S. Parman, Mayjen. Haryono M.T., Brigjen. D.I Pandjaitan, Brigjen. Sutojo Siswomihardjo dan Lettu. Piere Tendean ajudan Jenderal Nasution. Nasution sendiri berhasil meloloskan diri dengan melompat ke rumah Duta Besar Irak yang terletak persis disebelah kediamannya.

Di pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, sebuah susunan Dewan Revolusi diumumkan melalui corong Radio Republik Indonesia (RRI). Pengumuman itu memuat pernyataan bahwa sebuah gerakan yang terdiri dari pasukan bawahan Angkatan Darat telah menyelamatkan Presiden Soekarno dari aksi coup d´etat. Menurut mereka, coup d´ètat ini sejatinya akan dilancarkan oleh Dewan Jenderal dan CIA pada tanggal 5 Oktober 1965, bertepatan dengan hari ulang tahun ABRI yang ke-20.

Empat hari kemudian, jenazah keenam jenderal dan satu orang letnan itu diketemukan di sebuah sebuah sumur yang kemudian dikenal sebagai Lubang Buaya. Di sela-sela acara penggalian korban, Soeharto memberikan pernyataan bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh aktivis PKI didukung oleh Angkatan Udara.

Sehari setelah penemuan jenazah, koran-koran afiliasi Angkatan Darat meng-ekspose foto-foto jenazah tersebut. Mereka mengabarkan bahwa para jenderal tersebut mengalami siksaan di luar prikemanusiaan sebelum diakhiri hidupnya.3 Pemakaman korban dilakukan secara besar-besaran pada tanggal 5 Oktober 1965. Nasution memberikan pidato bernada emosional, ia sendiri kehilangan seorang putrinya, Ade Irma Nasution. Upacara pemakaman itu berlangsung tanpa dihadiri Soekarno. Ketidakhadirannya itu menimbulkan beragam penafsiran.4

Pemuatan foto-foto jenazah korban dan berita penyiksaan yang dilakukan memberi-kan sumbangan besar terhadap lahirnya histeria massa anti PKI. Di sana-sini orang-orang tak habis-habisnya membicarakan penyiksaan yang dilakukan oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Perempuan-perempuan Gerwani itu diisukan mencukil mata jenderal dan memotong kemaluannya.5

Segera setelah media massa Ibukota yang berafiliasi dengan Angkatan Darat melansir berita tersebut selama berhari-hari, dimulailah suatu pengganyangan besar-besaran pada PKI. Di Jakarta, Kantor pusat PKI yang belum selesai dibangun diluluhlantakan. Beberapa orang pemimpin PKI ditangkap. Tak hanya sampai di situ, anggota PKI pun mengalami sasaran.

Secara de facto, sejak tanggal 1 Oktober 1965, Soeharto merupakan pemegang kekuasaan. Soekarno sendiri secara bertahap digeser dari percaturan politik, lebih dalam lagi ia layaknya seorang kapten dalam sebuah team sepak bola yang tak pernah menerima bola untuk digiring.

Strategi dan taktik Soeharto dalam melakukan kontra aksi Gestapu 1965 sangat efektif dan mematikan6. Dalam waktu satu hari ia berhasil membuat gerakan perwira-perwira „maju“ ¨ itu kocar-kacir.

Sehari setelah menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), Soeharto mengeluarkan surat perintah bernomor 1/3/1966 yang memuat tentang pembubaran serta pelarangan PKI dan organisasi onderbouwnya di Indonesia. Inilah coup d´etat sesungguhnya. Bersamaan ini, dimulai drama malapetaka kemanusiaan di Indo-nesia.

Ganjang Komunis!: Pembunuhan Massal serta Penangkapan Anggota dan Simpati-san PKI di Daerah.

Di daerah-daerah, kampanye pengganyangan PKI diwujudkan dengan tindakan penculikan dan pembunuhan secara massal terhadap anggota dan simpatisan PKI. Semua anggota organisasi massa yang disinyalir memiliki hubungan dengan PKI pun tak luput mengalami hal serupa.

Pembantaian dilakukan kadang-kadang oleh tentara, kadang-kadang oleh sipil, orang-orang Islam atau lainnya.7 Di sini, tentara merupakan pendukung utama. Masyarakat merupakan unsur korban propangadis Angkatan Darat yang secara nyata memiliki konflik dengan PKI. Di beberapa tempat memang terjadi konflik antara PKI dan kelompok lain di kalangan masyarakat. Di Klaten misalnya, aksi pembantai-an massal menjadi ajang balas dendam musuh-musuh PKI yang berkali-kali melaku-kan aksi sepihak penyerobotan lahan-lahan milik tuan tanah di sana. Aksi sepihak ini berakibat bagi kemunculan benih-benih konflik di masyarakat. Pasca Gestapu 1965, PKI menjadi sasaran utama kebencian yang terpendam sekian lama.8

Apa yang terjadi di Klaten tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Jombang dan Kediri. Namun kedua daerah ini memiliki sejarah konflik yang sangat kronis. Kaum komunis menuduh umat Islam telah mengobarkan „Jihad“ untuk membunuh orang komunis dan mempertahankan tanah miliknya atas nama Allah, sedangkan umat Muslim menuduh PKI dan Barisan Tani Indonesia (BTI) melakukan penghinaan terhadap agama Islam.9 Saling tuduh ini merupakan manifestasi konflik kepentingan diantara dua kelompok.

Bagi PKI, tanah merupakan komoditi politik-ekonomi yang dapat dijadikan alasan untuk menyerang kaum Muslim sebagai penguasa tanah mayoritas. Sedangkan kaum Muslim menggunakan isu ideologis atheis terhadap PKI untuk menyerang balik. Dua hal ini memang berujung pada kepentingan ekonomis. Namun, dengan keyakinannya masing-masing, kedua kelompok ini berhasil membangun sebuah opini yang mengarahkan pengikutnya pada titik temu konflik berkepanjangan. Keduanya sama-sama ngotot.

Berbeda dengan di Jombang, Kediri dan Klaten, di Purwodadi, pembunuhan massal lebih tepat dikatakan sebagai bagian dari genosida yang dilakukan oleh militer terhadap massa PKI. Di daerah lain yang menjadi ladang pembantaian, tentara hanya bermain sebagai sponsor di belakang kelompok agama dan sipil. Sementara di Purwodadi, tentara memegang peranan aktif dalam pembunuhan massal.

Purwodadi ialah sebuah kota kecil yang terletak 60 Km di sebelah Tenggara Semarang. Purwodadi ialah ibukota Kabupaten Grobogan. Daerah ini merupakan salah satu basis komunis terbesar di Jawa Tengah. Amir Syarifudin, tokoh komunis yang terlibat dalam Madiun Affairs tahun 1948, pun tertangkap di daerah ini.

Kasus Purwodadi sempat mencuat ketika pada tahun 1969, H.J.C Princen, seorang aktivis kemanusiaan, berkunjung ke Purwodadi. Dengan disertai Henk Kolb dari Harian Haagsche Courant dan E. Van Caspel10, Princen meninjau secara langsung keabsahan berita pembunuhan massal yang didengarnya dari seorang pastor. Adalah Romo Wignyosumarto yang kali pertama menyampaikan adanya pembunu-han besar-besaran ini. Romo Sumarto melaporkan berita tersebut pada Princen setelah ia mendengarkan pengakuan dari seorang anggota Pertahanan Rakyat (Hanra) yang turut dalam pembunuhan massal.11

Digunakannya unsur Hanra dalam pembunuhan massal sangat dimungkinkan karena lebih mudah diorganisir dan dikendalikan secara langsung oleh tentara setempat. tak terjadinya konflik horizotal di Purwodadi menyebabkan militer harus turun tangan langsung untuk melakukan pembunuhan massal. Di Jombang, Kediri dan Klaten, tentara hanya mensuplai senjata bagi kelompok-kelompok sipil. Selanjut-nya mereka hanya memberikan dukungan-dukungan baik dalam penangkapan mau-pun dalam hal penahanan Anggota dan Simpatisan PKI.

Pembunuhan dan penangkapan Anggota dan Simpatisan PKI di Purwodadi dibagi kedalam dua periode. Pertama, ialah penangkapan dan pembunuhan yang dilakukan tahun 1965. pada peristiwa ini ukuran penangkapan ialah jelas, artinya militer hanya menangkap mereka yang memiliki indikasi anggota PKI aktif beserta anggota-anggota organisasi onderbouw PKI.

Penangkapan periode pertama lebih memperlihatkan bagaimana militer melakukan strategi penghancuran secara sistemik terhadap PKI. Organisasi yang memiliki hubungan dengan PKI atau apapun itu sepanjang berbau komunis dapat dipastikan ditangkap. Ini memang cara yang paling efektif kendati jumlah korban tentu sangat banyak.

Dengan cara ini penguasa Orde Baru dapat meminimalisir ancaman komunisme. Perang terhadap penganut Marxisme ini memang lebih rumit dari sekedar anti-komunisme.12 Dari sudut pandang manapun terlihat jelas jika Orde Baru berusaha membangun sebuah konstruk kekuasaan tanpa aroma komunisme sedikitpun.

Kedua, penangkapan dan pembunuhan massal yang dilakukan pada tahun 1968. Pada periode ini, ukuran penangkapan sangat tidak jelas, serba semrawut dan serba asal-asalan. Hanya karena menjadi anggota Partai Nasional Indonesia faksi Ali Sastroamidjojo- Surachman militer sudah dapat menangkapnya. Penangkapan ini dikenal sebagai penangkapan terhadap Soekarno Sentris atau dikenal sebagai SS.13

Operasi penangkapan pada tahun 1968 ini dilakukan di bawah Komandan Komando Distrik (Kodim) 0717 Purwodadi dengan dibantu Batalyon 404 dan 409. Operasi ini diberi nama Operasi Kikis. Melalui operasi inilah seluruh anasi-anasir kekuatan komunis dan Orde Lama (SS) ditangkap.

Tak jelas apa motivasi penangkapan terhadap orang-orang SS ini. Namun ini dapat dipahami sebagai usaha untuk mengkikis kekuatan Orde Lama. Di pusat kekuasaan, Soeharto sedang berusaha untuk mengukuhkan kekuasaanya. Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 1971, kekuatan anti Orde Baru tentu menjadi penghalang bagi kekuasaanya.

Pada perkembangan selanjutnya, orang-orang yang dianggap komunis ini didesain sebagai massa mengambang atau Floating Mass. Mereka tak dibiarkan memasuki sebuah organisasi politik tertentu selama kurun waktu lima tahun menjelang Pemilihan Umum (Pemilu),14 namun suara mereka dapat dipastikan disalurkan melalui Golongan Karya (Golkar). Konsep massa mengambang sendiri ialah sebuah konsep yang diajukan oleh Mayjen Widodo, Panglima Kodam VII/Diponegoro Jawa Tengah. Lalu konsep ini dikembangkan oleh pemikir dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga think-tanks Orde Baru yang berdiri pada tahun 1971 atas sponsor Ali Murtopo dan Soedjono Hoemardani, dua orang jenderal yang memiliki hubungan spesial dengan Soeharto.15

Tak berlebihan jika kasus di Purwodadi dapat dikategorikan ke dalam tindakan Genosida. Genocide menurut Helen Fein16 adalah suatu strategi berupa pembunuhan, bukan semata-mata karena benci atau dendam, terhadap sekelompok orang yang bersifat ras, suku, dan politik untuk meniadakan ancaman dari kelompok itu terhadap Keabsahan Kekuasaan para pembunuh.

Penangkapan dan pembunuhan massal pada tahun 1968 ini banyak menimbulkan korban. Banyak mereka yang tak mengetahui apapun tentang politik ditangkap bahkan dibunuh. Contohnya seperti apa yang diungkapkan oleh Bapak Sp.:

Saya hanya pemain sandiwara Ketoprak pedesaan. Namun, saya ditangkap karena saya dianggap memiliki hubungan dengan Lekra. Oleh karena itu saya sempat mendekam di Penjara Nusa Kambangan selama 3 tahun. Di sebuah Kamp di Pati, saya dipaksa untuk mengakui bahwa saya anggota PKI17

Ini membuktikan ekses negatif pada sebuah operasi militer. Hal serupa pernah diungkapkan oleh Ali Murtopo, ia mengatakan jatuhnya korban pembunuhan massal di Purwodadi ialah sebuah konsekuensi dalam sebuah operasi militer.18

Operasi militer merupakan salah satu usaha yang digunakan tentara Indonesia dalam mengontrol, memperkukuh dan memberikan sebuah ukuran kesetiaan bagi pemerintah pusat. Operasi ini kerap dilakukan dalam rangka menumpas gerakan perlawanan daerah terhadap pusat. Penguasa Pusat (Baca: Jakarta) memposisikan sebagai kosmis kekuasaan Raja sementara daerah ditempatkan sebagai Kawula. Hal ini merupakan hasil dari interdependensi antara kekayaan dan politik dalam masyarakat tradisional.19 Jelas sebuah operasi militer memiliki arti strategis dalam menjaga kekuasaan pusat atas kekayaan daerahnya.

Kebijakan operasi militer di Purwodadi tidak terlepas dari peranan komandan Kodim 0717 sendiri sebagai penguasa militer setempat. Letkol. Tedjo Suwarno, Komandan Kodim dikenal sebagai orang yang keras dan berambisi20. Atas perintahnyalah ratusan orang ditangkap selama tahun 1968.

Seorang saksi bernama Bapak Wt bercerita perihal penangkapan besar-besaran pada tahun 1968. Tahanan itu ditempatkan di sebuah Kamp di Kuwu, desa kecil yang terletak 25 Km di Selatan Purwodadi: Saya ditempatkan di sebuah kamp di Kuwu. Setiap sore datang sekitar dua ratus orang tahanan. Namun, di pagi hari, dua ratus orang itu telah dibawa oleh aparat. Yang tersisa hanya saya dan dua teman saya ¨21  di kemudian hari ia mendengar kabar bahwa ratusan orang itu di bunuh di daerah Monggot atau di daerah lainnya di sekitar Kabupaten Grobongan. Bagi mereka yang kaya dan memiliki hubungan khusus dengan para perwira militer, sogok atau suap kerapkali terjadi demi menyelamatkan suami, anak atau sanak saudaranya yang ditahan militer Purwodadi.

Tak heran jika pada waktu itu banyak perwira-perwira yang menumpuk kekayaan hasil dari uang sogok kerabat tahanan tahanan. Di waktu selanjutnya sudah menjadi kebiasaan jika seorang penguasa militer merupakan pelindung yang ampuh untuk apapun. Seorang pengusaha misalnya, ia dapat bebas berdagang di sebuah daerah dengan meminta backing pada penguasa militer setempat22. bukan isapan jempol jika penguasa militer di daerah memiliki pengaruh besar.

Figur kepemimpinan militer di daerah seperti halnya di Purwodadi memang memiliki pengaruh yang cukup kuat. Di masa Orde Baru, sudah menjadi kebiasaan jika seorang Komandan Kodim (Dandim) diangkat menjadi Bupati. Ini dilakukan atas pertimbangan kemanan dan realisasi dari Dwi Fungsi ABRI.

Fenomena tersebut dikenal sebagai konsep kekaryaan ABRI. Konsep ini diperuntukan bagi perwira militer yang karirnya mentok atau tak lagi memiliki kesem-patan menapaki jenjang karir yang lebih tinggi. Para perwira ini biasanya diplot menjadi kepala daerah baik di tingkat I atau II. Orde Baru menciptakan kategori daerah-daerah tertentu bagi penempatan perwira-perwira mentok ini.23

Pada masa Orde Baru, Penguasa militer di daerah, dari Tk I hingga II atau bahkan tingkat Komando Rayon Militer (Koramil) berusaha dengan keras menciptakan suasana aman dan stabil. Maka ukuran kestabilan keamanan pasca Gestapu 1965 ialah dengan mencegah timbulnya kembali kekuatan komunisme di Indonesia.24

Ada kesan dengan menahan sebanyak-banyaknya massa PKI merupakan prestasi tersendiri. Dengan cara ini kondisi sosial-politik setempat dinyatakan stabil dan terkendali. Pemerintah Orde Baru menganggap komunisme ialah musuh yang paling utama dalam pembangunan. Selama hampir 32 tahun, bahaya laten komunis di-dengung-dengungkan sebagai sebuah momok yang menakutkan. Ini ditunjukan dengan cara memutar film Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G.30.S/PKI yang disutradarai oleh Arifin C. Noor setiap tahunnya.

Kekhawatiran yang teramat sangat pada komunis (komunisto phobia) memang terlihat begitu jelas inheren pada masa Orde Baru. tak hanya itu, pemerintah Orde Baru tak segan-segan melemparkan stigma PKI pada organisasi-organisasi yang berlawanan dengan kebijakannya. Kasus 27 Juli 1996 memperlihatkan secara jelas usaha Orde Baru dalam membangkitkan ketakutan masyarakat akan komunisme.25

Penahanan ribuan anggota dan simpatisan PKI selama kurun waktu 1965 ¡V 1980-an (dalam beberapa kasus bahkan hingga masa reformasi tiba) juga bagian dari usaha Orde Baru mencegah penularan komunisme pada masyarakat. Tahanan politik ini dibuang di Pulau Buru, Nusa Kambangan dan penjara-penjara di tiap daerah. Tak ada itikad dari Orde Baru untuk melepaskannya. Segera setelah men-dapatkan tekanan internasional, khususnya Amnesti Internasional, pemerintah Orde Baru melepaskan beberapa tahanan politik dengan klasifikasi A, B dan C.26

Pemerintah memiliki berbagai dalil dalam aksi penahanan besar-besaran terhadap anggota dan simpatisan PKI. Pada tahun 1975, Pangkopkamtib Laksamana Sudomo mengatakan bahwa pelepasan tahanan politik di saat itu merupakan ancaman bagi kestabilan nasional.27

Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Sudomo, Letkol. Tedjo Suwarno di dalam sebuah kunjungan wartawan Ibu Kota ke Kamp-kamp di Purwodadi mengata-kan bahwa bila mereka dikembalikan ke masyarakat akan menimbulkan problem tersendiri dan masyarakat akan berontak.28 Di pihak lain, Bapak S mengatakan bahwa setelah penangkapan atas dirinya, keluarganya mengalami penderitaan. Ia sebagai kepala keluarga tak lagi dapat menghidupi istri dan anak-anaknya.29 Istrinya terpaksa berjualan nasi di depan Stasiun Purwodadi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan mengirim makanan sekedarnya pada Bapak S. yang saat itu di dalam Kamp di Purwodadi.

Penahanan atas anggota dan simpatisan PKI tidak saja menyisakan trauma mendalam30 bagi mereka namun keluarganya juga harus menghadapi kenyataan hidup yang serba kekurangan. Di Purwodadi banyak keluarga yang hidup dalam kesederhanaan akibat penahanan dan pembunuhan terhadap anggota keluarganya yang dituduh anggota maupun simpatisan PKI. Bahkan di sebuah desa di Purwodadi, dikenal sebagai “kampung janda” karena suami-suami mereka diciduk oleh militer.

Hingga kini tak dapat dipastikan secara pasti berapa jumlah korban yang meninggal dalam peristiwa pembunuhan massal di Purwodadi dalam kurun waktu tahun 1965-1968. H.J.C Princen mengatakan bahwa korban tewas ada sekitar 850 s/d 1000 orang. Sementara itu menurut perhitungan Maskun Iskandar, seorang wartawan harian Indonesia Raya, korban berkisar 6.000 jiwa.

Berapapun jumlahnya, satu nyawa manusia yang hilang merupakan dosa yang tak terampuni. Maka penegakan hukum ialah jawabannya untuk menghindari perulangan peristiwa serupa.  Litsus dan Label KTP: Kontrol atas Mantan Tahanan Politik

Penderitaan tidak berakhir begitu saja. Setelah para tahanan politik pulang dari pembuangan di pulau Buru, Nusa Kambangan atau penjara lainnya, aparat militer masih saja melakukan pengawasan pada diri mereka dan keluarganya. Bapak Rk, seorang tahanan politik jebolan Pulau Buru menceritakan bagaimana dirinya diintimidasi oleh aparat setelah pulang dari Pulau Buru pada tahun 1979.

Sepulangnya dari Pulau Buru, saya membuka praktek sebagai mantri. Obat-obatan yang saya bawa dari Pulau Buru saya gunakan untuk mengobati masyarakat yang membutuhkan. Namun karena hal tersebut, Koramil mendatangi saya dan memanggil saya untuk diinterogasi ¨31

Pengawasan yang extra ketat ini memang diberlakukan bagi mantan tahanan politik. Salah satu cara untuk memantau gerak gerik mereka pemerintah Orde Baru menetapkan untuk memberi tanda khusus Ex Tapol (ET) dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) para mantan tahanan politik.

Tindakan lainnya, selama Orde Baru, keluarga mantan tahanan politik tidak diperkenankan memasuki dunia politik atau menjadi pegawai negeri. Untuk yang satu ini pemerintah menetapkan Penelitian Khusus (Litsus) kepada calon pegawai negeri.

Seorang mantan tahanan politik pernah mengatakan sebuah lelucon bahwa label ET dalam KTP-nya bukan berarti Ex-Tapol tapi tidak lain adalah “elek terus” (Indonesia: Jelek Terus).

Menyitir apa yang pernah dikatakan oleh Ben Anderson bahwa kekuasaan Orde Baru dibangun diatas tumpukan mayat. Namun sejarah membuktikan bahwa atas nama apapun, sebuah orde yang dibangun di atas penderitaan rakyatnya pasti akan tumbang dengan sendirinya.*

_________________

1.   Makalah ini dibuat dalam rangka diskusi yang diselenggarakan Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS) di Yogyakarta 17 Oktober 2002.

2.   Penulis adalah Koordinator Kajian dan Diskusi pada Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah (Mesiass) dan Mahasiswa Sejarah Universitas Diponegoro, Semarang. Kini sedang menulis skripsi tentang pembantaian massal anggota dan simpatisan PKI di Purwodadi.

3    Bandingkan dengan Hermawan Sulistyo dalam Palu Arit di Ladang Tebu, Sejarah Pembantaian yang Terlupakan 1965-1966 (Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer, 2000) Hal. 8

4    Meskipun mungkin karena pertimbangan keamanan, ketidakhadiran itu tetap dianggap sebagai skandal. Lihat Hermawan Sulistyo dalam Ibid..hal. 8. Mengutip dari John Hughes dalam Indonesian Upheaval (New York: David McKay, 1967) hal. 137-138.

5    Untuk lebih lengkap, periksa Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Wanita di Indonesia (Jakarta: Kalyanamitra dan Garba Budaya, 1999) Hal. 498.

6    Dalam pledoinya Kolonel A. Latief menceritakan bahwa sesungguhnya Soeharto telah mengetahui bahwa akan ada sebuah gerakan yang akan menangkap Dewan Jenderal. Lihat Kolonel A. Latief dalam Pledoi Kolonel A.Latief Soeharto Terlibat G.30.S (Jakarta: ISAI, 2000), hal. 129.

7    John D. Legge dalam Sukarno Biografi Politik (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001) Hal. 457.

8    Untuk diskusi lebih lanjut lihat Kata Pengantar Soegijanto Padmo pada Aminudin Kasdi dalam Kaum Merah Menjarah (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2001)

9    Sedari awal semangat agama masuk dalam konflik tanah. Kelompok NU menuduh PKI dan BTI telah menyerang sekolah-sekolah agama dan menghina Islam, sementara kaum Muslim dituduh telah mendorong pengikutnya untuk mengganyang “kaum atheis“ dan mempertahankan milik mereka atas nama Allah. Untuk lebih lanjut lihat Hermawan Sulistyo dalam op.cit., hal. 146 mengutip dari Rex Mortimer dalam The Indonesian Communist Party and Landreform, 1959-1965 (Clayton, Victoria: Center of Southeast Studies, Monash University, 1972), hal. 48.

10   Harian Sinar Harapan, edisi 3 Maret 1969.

11   A Javanese Catholic priest, Father Sumarto, had pieced together an account of the massacre from the confession of conscience stricken Catholic members of the Civil Defense Corp, who had been forced to take for it. Untuk diskusi lebih lanjut periksa Brian May dalam The Indonesian Tragedy (Singapore: Graham Brash (Pte) Ltd, 1978), hal. 205

12   Memorandum Intelejen CIA, “Indonesian Army Attitudes toward Communism” Directorate of Intelligence, Office Current Intelligence, 22 November 1965, case #88-119, Doc. 119, butir 1.

13   Wawancara dengan Bapak S., seorang Sekretaris Sarekat Buruh Kereta Api (SBKA) Stasiun Purwodadi. SBKA, menurut versi Orde Baru, adalah onderbouw PKI. Bapak S., mengatakan bahwa penangkapan dan pembunuhan yang paling besar justru terjadi pada tahun 1968. Tentara dapat menangkap orang-orang hanya karena menjadi anggota PNI Ali Sastroamidjojo & Surachman (PNI-ASU) atau motif dendam lainnya.

14   General Widodo mantained that party activity in the villages disrupted the hard work and unity nescessary for development. Far better to let the population “float”¦ without party contact in the five year period during elections”.diskusi lebih lanjut lihat Hamis McDonald dalam Suharto´s Indonesia (Blackburn, Victoria: Fontana Books, 1980), hal. 109.

15   Lihat Dewi Fortuna Anwar, Policy Advisory Institutions: “Think &Tanks” ¨ dalam Richard W. Baker (ed) et.al., Indonesia The Challenge of Change (Pasir Panjang, Singapore: ISEAS and KITLV, 1999), hal. 237.

16   Helen Fein, Revolutionary and Antirevolutionary Genocides: A Comparison of State Murders in Democratic Kampuchea, 1975 to 1979, and In Indonesia. 1965 to 1966, dalam Contemporary Studies of Society and History, Vol. 35, No. 4, October 1993, Hlm. 813. Dikutip dari Hermawan Sulistyo dalam loc.cit..Hal. 245-246

17   Wawancara dengan Bapak Sp.

18   Harian Sinar Harapan, Selasa 11 Maret 1969.

19   Interdependensi antara kekayaan dan politik dalam masyarakat tradisional menimbulkan dua hal. Pertama, negara dan raja harus mengontrol harta kekayaan kawula guna menghindarkan ancaman politis dari mereka. Kedua, kawula yang secara politik dan fisik berada di bawah harus dieksploitasi sedemikian rupa¡Klebih lanjut periksa Onghokham dalam Rakyat dan Negara ( Jakarta: LP3ES dan Pustaka Sinar Harapan, 1991), hal. 103.

20   "Pak Tedjo itu kelihatannya berambisi menjadi Bupati Grobogan. Ia dulu sering berceramah kemana-mana tentang Pancasila. Ia memang terkenal galak“. Wawancara dengan Bapak A

21   Wawancara dengan Bapak Wt

22   Dalam banyak hal, sipil tampaknya lebih tergantung pada militer baik secara politik, kekuasaan maupun ekonomi, ketimbang sebaliknya. Untuk hal ini lihat Indria Samego dalam TNI di Era Perubahan (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1999), hal. 34. Juga lihat Harold Crouch dalam General and Business in Indonesia, Pacifis Affairs, 48, 4, 1975/76.

23   Replika selama masa Orde Baru, dengan munculnya kriteria daerah A, B dan C, secara politik sangat menguntungkan ABRI, terutama dalam penjatahan mengenai kepala daerah tingkat I dan II. Kriteria A merupakan daerah yang sangat rawan secara politik, sehingga jabatan politik (Bupati maupun Gubernur) harus dipegang oleh orang militer. kriteria B setengah rawan, dapat diisi oleh sipil maupun militer, tapi kenyataannya banyak diisi oleh militer. Sedangkan kriteria C adalah kriteria daerah aman, secara konsep dapat diisi oleh sipil tetapi kenyataannya justru sering diisi pula oleh militer. Untuk diskusi lebih lanjut lihat M. Riefqi Muna dalam Persepsi Militer dan Sipil Tentang Dwifungsi: Mengukur Dua Kategori Ganda. Dimuat dalam Rizal Sukma et.al.., dalam Hubungan Sipil ¡V Militer dan Transisi Demokrasi di Indonesia (Jakarta : CSIS, 1999), hal. 50.

24   Kebangkitan komunis tidak saja dikhawatirkan akan datang dari dalam negeri pun dari luar negeri. Pada tahun 1971, ketika kampanye Pemilu sedang dilakukan, beberapa orang diplomat Uni Soviet berkunjung ke Jawa Tengah. Panglima Kodam VII/Diponegoro di Semarang hampir-hampir melarang kunju-ngan mereka ke daerahnya. Hal tersebut ditanggapi oleh menteri luar legeri dengan mengeluarkan larang kunjungan ke daerah-daerah bagi diplomat negeri komunis itu. Untuk hal ini periksa Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), hal. 376.

25   Pada waktu itu, Kasospol ABRI, Letjen. Syarwan Hamid melekatkan label komunis pada Partai Rakyat Demokratik (PRD). PRD dituduh sebagai dalam di balik kerusuhan tersebut. Hingga kini, kasus pengrusakan terhadap markas PDI (sekarang PDI-Perjuangan) itu belum tuntas.

26   Kategori A diberikan pada mereka yang dianggap terlibat secara langsung pada peristiwa Gestapu 1965, kategori B berarti mereka yang dianggap memberikan dukungan pada Gestapu 1965 dan kategori C dilabelkan pada mereka yang mengetauhi peristiwa Gestapu secara langsung atau tidak. Pada bulan Septem-ber 1971, Jenderal Sugiharto mengatakan pada wartawan bahwa jumlah tahanan politik kategori A ialah 5.000 orang, untuk kategori B menurut Pangkopkamtib sekitar 29. 470 dan kategori C menurut Jenderal Sudharmono ada sekitar 25.000 orang tahanan. Untuk perihal ini silahkan lihat Amnesty International dalam Indonesia an Amnesty International Report (London: Amnesty International Publication, 1977), hal. 31-44.

27   Lihat Hamish McDonald dalam Ibid., hal.219-220.

28   Harian Indonesia Raya, Rabu 12 Maret 1969.

29   Wawancara dengan Bapak S.

30   Untuk lebih lengkap periksa Liem Soei Liong, It¡¦s the Military, Stupid! Dalam Freek Colombijn dan Thomas Lindblad (ed) et.al., Roots of Violence In Indonesia (Leiden: KITLV, 2002), hal. 199.

31   Wawancara dengan Bapak Rk.

 

*********** 0 0 0 0 0 **********

 

"AKU KERNET"

Ucapanku yang menyelamatkanku dari pembantaian di Sei Ular.

Aku, Hadiwijaya, asal Cepu - Jawa Tengah merantau ke Tanah Deli di tahun 1963 dan bekerja di Perkebunan Saentis PPN Sumut I. Perkebunan ini berada di Keca-matan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara, yang lokasinya di pinggiran Kotamadya Medan.

Aku bekerja sebagai buruh cangkol di perkebunan tembakau ini yang dikemudian hari diangkat menjadi centeng. Diperkebunan ini aku bergabung dalam Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri).

Di tahun 1965 terjadilah apa yang dikenal sebagai G30S. Dan pada tanggal 15 Oktober 1965 aku ditahan di Puterpra Percut Sei Tuan. Setelah 3 bulan berlalu, pada suatu malam di bulan Ramadhan tanggal 20 Pebruari 1966, aku beserta 20 orang lainnya dan diantaranya ada seorang perempuan, dipanggil keluar. Jam waktu itu sekitar 01.00 WIB dan kami seluruhnya diperintahkan oleh pengawal yang ber-pakaian sipil tapi bersenjata api laras panjang, untuk naik ke mobil prah bermerek Fargo milik perkebunan khas pengangkut tembakau. Mobil ini baknya berdinding tinggi dari kayu dan punya atap dari terpal. Di atas mobil, kedua jempol tangan kami diikat kawat dan tangan berada di belakang tubuh. Mobil kemudian melaju ke arah kota Lubuk Pakam + 25 km dari Medan. Dalam mobil kami 21 orang dikawal oleh 2 orang berpakaian sipil bersenjata api laras panjang. Setelah sampai di Lubuk Pakam, sopir mobil turun dan diganti dengan sopir dengan pakaian sipil tapi punya senjata api serta tambahan pengawal seluruhnya berpakaian sipil tapi bersenjata sebanyak 5 orang. Kemudian mobil bergerak ke kota Perbaungan + 18 km dari Lubuk Pakam. Setibanya di ujung jembatan Sei Ular, mobil dihentikan dan pengawal semua turun sedang mesin mobil tetap dihidupkan malah di gas keras-keras. Kemu-dian salah seorang pengawal tersebut menyuruh kami turun satu persatu ber-dasarkan nama-nama yang ada dalam daftar yang ada pada mereka.

Aku selama dalam perjalanan berhasil membuka ikatan kawat pada kedua jempolku, tetapi selama berada di atas jembatan Sei Ular tidak dapat melihat keluar karena tingginya dinding bak mobil, begitu juga aku tidak dapat mendengar apapun karena kerasnya bunyi mesin mobil.

Setelah turun ke 20 orang kawan-kawanku sesama tahanan, pengawal yang ber-tugas sebagai juru panggil menghardikku "Kau siapa !?" dan secara spontan aku menjawab "Aku kernet", "Kenapa kau tidak turun di Lubuk Pakam?", aku menjawab "Aku tidak disuruh turun".

Akhirnya semua pengawal naik kembali, mobilpun memutar arah kembali ke Lubuk Pakam dan disini seluruh pengawal serta sopir yang bersenjata turun dan sopir perkebunan naik. Mobilpun berangkat kembali ke Puterpra Percut Sei Tuan.

Di sini akupun turun dan masuk kembali ke tahanan, aku serta kawan-kawan taha-nan lain tidak ada berbicara sama sekali.

Di kemudian hari aku beserta yang lain-lainnya dipindahkan ke T.P.U.C jalan Medan - Binjai km 7 Medan. Di bulan Desember 1970 aku dibebaskan dari tahanan.

Medan, 30 September 2003

Dikutip oleh

Ida Hertati Makmun Duana

*************** 0 0 0 0 0 0******************

Kompas, Minggu 31 Juli 2005

Cerpen dengan latar belakang tragedi 65

Menunggu Telinga Tumbuh           

INDRA TRANGGONO

Depan Gedung Komnas HAM pagi hari. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. Kecemasan mengambang di bola matanya. Memasuki kompleks gedung, laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk. Tampak dari atas, tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. Mema-suki lorong gedung, ia berjalan menuju suatu ruang. Bajunya basah. Ada perasa-an setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang, sambil menimang dokumen lusuh itu.

Setelah hampir 40 tahun, sejak peristiwa berdarah itu berlalu, untuk pertama kali-nya perempuan itu mendatangi tempat itu. Ia datang bersama anak laki-lakinya, dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. Senja dirasakan-nya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. Para kele-lawar muncul dari lubang lebar, dalam, dan gelap yang lebih akrab disebut luweng.

”Her, aku masih mendengar jeritan bapakmu. Masih terngiang-ngiang. Gemanya sangat panjang. Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu.

”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan, gemetar.

”Bukan hilang. Tapi dilenyapkan….”

Pada usianya yang hampir 75 tahun, bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua, tapi tidak matanya. Seperti puluhan tahun lalu, tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang, dalam, gelap, dan sunyi.

Suatu pagi, Ibu meneleponku, ”Her, kalau kamu tidak mengajar, antar Ibu nyekar bapakmu, besok pagi.” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah.

Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun, kami berangkat ke makam Bapak, dengan colt station sewaan. Mobil pun terus melaju, menembus desa demi desa. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan, buru-buru Ibu mencegah. Ia minta mobil berjalan lurus. Aku kaget. Tapi kutahan. Sepanjang perjalanan, kami terdiam. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela.

”Maaf Bu, bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?”

”Bukan. Tapi di sana. Di Karang Bolong. Masih jauh.”

Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono, Nastiti, dan Murti. Tapi aku takut mereka kaget. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat, ya bapaknya Herjuno itu. Makam itu kosong. Waktu itu, setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan, aku merasa bingung dan cemas. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku. Kata petugas, ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. Soal jasadnya, itu urusan negara.”

Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara, teman, atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab, ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah?

Maka, diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara wajar dan terhormat. ”Makam” itulah yang kemudian mem-bebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. Aku terbebas? Tidak juga. Hingga kini, rasa pedih terus merajamku.

Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan. Bukan. Menurut Swang-gani, anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian, suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. ”Bersama tahanan lainnya, suamimu dilempar-kan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. Dari tempatku bersembunyi, aku mendengar jeritan mereka…,” ujarnya dengan gemetar.

Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan?

Seperti kota-kota yang lain, ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa, langit kota kecil itu pun selalu menyala. Seperti siang itu, bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar, diiringi sorak-sorai. Bagai tepung terigu ditebah angin, debu mengepul di jalanan. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. Wajah para pemuda itu tampak mengeras, kaku seperti baja. Tangan mereka terkepal. Kata-kata ”revolusi”, ”ganyang nekolim”, ”hidup Nasakom”, dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru.

Waktu itu, partai-partai saling bersaing. Ada PNI, ada Masyumi, ada NU, ada PKI, dan ada PSI.

Dalam zaman yang gemuruh itu, kami hidup menepi. Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus, kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng). Kami menempati rumah besar, warisan mertua. Sebuah rumah bergaya limasan, dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. Di bagian belakang, ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar.

Di pendopo itu, Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung, secara cuma-cuma..

Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular, seorang tokoh PKI di kota kami. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar, khas jahitan pasar. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. Dia menjawab ringan, ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril…. Kan nggak sopan to.”

Suatu ketika, Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. Katanya untuk rapat partainya. Mas Drajat terdiam. Ia memandangku. Aku pun terdiam.

”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk.

”Terima kasih. Terima kasih. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi….” Tawa Pak Tular berderai.

Kami hanya saling memandang.

Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat, tapi juga menjadi pusat kegiatan partai. Ada latihan ketoprak. Ada latihan menari dan menyanyi. Ada pendidikan bagi kader-kader partai. Pendopo kami selalu ramai. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. Mas Drajat pun tidak keberatan.

”Hati-hati dengan Pak Tular,” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya ber-sama Mas Drajat.

”Kami kan hanya meminjamkan tempat…. Apa salahnya?” kataku. Wajah bapak-ku tampak masam.

Beberapa bulan kemudian, lewat RRI, kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. Beberapa jenderal diculik. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. Tidak sampai seminggu, suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami, ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu, dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. Setiap saat itu, bau mayat tercium di mana-mana.

Sehabis isya, mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang.

”Ganyang Drajat!!!”

”Perkosa saja istrinya!!!”

”Gantung PKI itu!!!”

”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!”

Dengan jiwa yang kutegarkan, aku menemui mereka. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI.

”Bohong! Dasar Gerwani, kamu!!”

”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak. Aku sendiri tidak paham, kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya, aku gemetaran melihat parang, kelewang, bambu runcing, atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan. Dan ajaib, bentakanku menundukkan wajah mereka. Pak RT mampu menyabarkan mereka. Akhirnya, kerumunan pun bubar.

Esoknya, pada dini hari, kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. Pintu rumah kami digedor-gedor. Keras. Sangat keras. Dengan geme-tar, aku membuka pintu. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan.

Mas Drajat keluar dari kamar. Dia sangat tenang. Aku memeluknya. Dia mencoba memberikan penjelasan, ”Saya tidak tahu apa-apa…. Sungguh.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya, terakhir kali mende-ngarkan degup jantungnya. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat, ”Jaga kandunganmu.”

Aku pun bergegas membawa Darsono, Nastiti, dan Murti lari keluar. Menembus malam. Menuju rumah Bapak. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. Di rumah itu, aku melahirkan Herjuno. Sebulan kemudian, seorang petugas memberi kabar: suamiku mening-gal di tahanan.

Aku tak bisa lagi menangis. Dadaku sesak.

”Bangun Her, kita sudah sampai.”

Herjuno tergeragap bangun. Kami keluar dari mobil.

”Mana makam Bapak?”

”Di sana.”

”Itu bukan makam Bu, tapi luweng.”

Herjuno sangat kaget. Bahkan mungkin terguncang. Namun, ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya. Kami pun berdoa, sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat.

Kantor Komnas HAM, pagi hari.

Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang, membawa dokumen setebal kece-masan ibunya, sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya. Ia berharap negara berani untuk punya telinga, hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya, yang sepanjang hidup harus me-nanggung ’dosa sejarah’.

Sampai di depan pintu sebuah ruangan, langkahnya tertahan. Ia hendak berbalik, namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk. Dengan tenang, ia menemui seseorang. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya, ”Bu…, kini telinga negara telah tumbuh….”

Yogyakarta, 2005

*********** 0 0 0 0 0 **********

 

Ngebon Kambing Di Ladang Tebu

( Kisah Edi Sartimin, Korban stigma PKI)

“Ibu saya, Siti Hamidah, dari keturunan Tiawchu bermarga Lie. Itu petani. Orang tua laki laki bapak dari keturunan Konghu, Tan Tiang Seng. Itu tukang. Dulu kalau teman tanya margamu apa. Saya bilang setan. Se itu artinya marga dan Tan itu marga saya. Jadi saya bilang setan,” kata pak Edi, sapaan akrab Edi Sartimin, nama yang dipakainya selain nama asli, Tan Hoek Tjum.

Hampir tidak ada aktivis mahasiswa era 98 yang tidak kenal Edi Sartimin, atau setidaknya jika tak kenal namanya, familiar dengan seorang kakek yang setiap hari naik sepeda dengan sebuah kamera dibahu, dan hampir selalu memakai topi ala Che Guevara. Jika rindu pak Edi, datang saja ke kantor DPRDSU. Jika melihat sebuah sepeda tua berwarna biru, diparkir lengkap dengan kunci roda, carilah, Edi pasti ada di sekitar gedung besar itu. Disana Edi bisa melakukan beberapa hal. Ada kalanya melakukan orasi, ikut hanyut masyuk dalam aksi unjuk rasa, namun terkadang keluar dari barisan dan menjepretkan kamera Ricoh 500GX-nya. Hasil jepretan yang biasanya dibeli oleh teman teman seperjuangan itu menjadi cara unik pak Edi untuk bertahan hidup hingga saat ini.

Pertamakali menghirup udara bebas- dari penjara- tahun 1972, Edi mengawali hidupnya sebagai buruh bangunan, namun beberapa bulan kemudian berhenti. Atas inspirasi dari seorang kawan bernama Rahmat, seorang juru photo dan juga eks Tapol, Edi membeli sebuah kamera merk Seagul. Sembari belajar dari Rahmat, Edi berharap dapat bertahan hidup dengan menjadi tukang photo jalanan. Edi biasa mangkal di sekolah MAN I dan II Medan. Edi memperoleh pencarian yang cukup untuk menghidupi dirinya selama bertahun-tahun.

Namun jalan hidup yang normal (atau diatas normal?) ini rupanya tidak lama menjadi milik Edi. Tahun 1988, salah seorang tukang photo saingan Edi, melaporkan kepada kepala sekolah bahwa Edi adalah eks Tapol. Hal itu membuat kepala sekolah melaporkan Edi kepada aparat dan melarang Edi untuk masuk ke lingkungan sekolah. Berita itu cepat menyebar dan membuat Edi dibenci banyak orang termasuk di lingkungan tempat tinggalnya. Tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya oleh karena tidak diterima oleh lingkungannya, dengan berat hati Edi menjual kameranya, mengganti identitas dan pergi merantau ke Pekan Baru.

Ditempat baru mengawali hidupnya sebagai centeng rumah remang-remang milik seorang mantan Tentara yang masih kenal dengan Edi. Sang teman berjanji tidak akan mengungkapkan identitasnya kepada orang lain. Untuk pertama kalinya sejak keluar penjara, Edi dapat mengurus KTP tanpa tanda ET ditempat sang mantan tentara penolong itu. Karena sudah merasa ‘bersih’, dan dengan harapan dapat mengadu nasib dengan mencari pekerjaan yang lebih baik, secara halus Edi meminta keluar dari kafe maksiat itu.

Setelah mendapat ijin keluar dari sahabatnya itu, Edi memulai pekerjaan barunya, bergabung dengan penggarap hutan. Berteman dengan binatang-binatang hutan, sinso, dan tiga hingga lima orang teman setiap hari berada ditengah hutan melakukan penebangan-penebangan liar. Sesekali ketemu dengan orang Sakai atau orang Kubu yang masih telanjang. “Pak Edi pernah dikeroyok orang Sakai, terus melarikan diri menembus hutan sendirian. Pak Edi juga pernah tertimpa pohon lapuk karena getaran sinso hingga pingsan ditengah hutan itu.

Tidak betah dengan kehidupan liar itu, tahun 1994, Edi memilih kembali ke Medan. Maksud hati ingin bertemu keluarga, anak dan cucu di Tanjung Morawa, lagi-lagi Edi tidak diterima. “Dasar tidak tau berterimakasih, syukur syukur kau tidak digorok dulu,” demikian kata kata keluarga kepada Edi. Dengan berbagai pertimbangan, Edi kembali melakoni hidup sebagai penebang kayu di Pekan Baru. “Pekerjaan saya layaknya kerbau beban, menggerek gelondongan itu dengan memakai tali yang dililitkan didada, makanya fisik saya sehat” kata Edi.

Tidak diakui oleh istri, anak dan seluruh keluarganya tidak menyurutkan semangat hidup Edi. « Saya tidak hidup sebatang kara ».Walau keluarga mencampakkan pak Edi, pak Edi punya banyak anak « yang mengakui saya sebagai bapaknya ». Mereka pintar-pintar, banyak juga mahasiswa. Mereka semua keluarga saya. Walau demikian, Edi tetap memantau dari jauh keluarga biologis-nya. Mantan istrinya , almarhum Misnem, kawin dengan seorang Tionghoa. Pak Edi sudah punya cucu bernama Rrn yang sudah duduk di kelas tiga SLTA di Tanjung Morawa, dari putri kandungnya Ssn.

Dengan mencoba bertempur dengan ingatan, Edi menuturkan awal penderitaan yang kelak mengubah totalitas hidupnya ini. Edi Sartimin adalah anggota TNI Angkatan Darat dari pasukan khusus atau Batalyon Raiders dengan pangkat terakhir Kopral Satu. Sebelum masuk tentara, Edi akrab dengan kehidupan jalanan di Medan, sembari bersekolah di Herstel RK, Jl Sindoro Medan, sebuah sekolah milik Belanda. Orang tua Edi sesuai dengan marganya adalah seorang mekanik. Kerap Edi membantu perbengkelan orang tuanya itu. Suatu kali, tahun 1957, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Edi melamar sebagai anggota tentara. Walaupun mendapat tentangan utamanya dari ayahnya setelah mengetahui Edi lulus masuk tentara, Edi tetap mengikuti masa latihan yang dipusatkan di SKI Siantar ( sekarang Rindam), hingga akhirnya sepuluh tahun kemudian, Edi dihadapkan dengan tuduhan yang sama sekali diluar bayangannya.

Tiga hari sebelum ditangkap, pistol Edi telah lebih dulu diambil dengan alasan akan ditukar yang baru. Pukul 19.30, tanggal 19 September 1967, pulang nonton dari Deli bioskop, Edi ditangkap oleh tiga orang tentara dari Asrama Yon Para, jauh hari setelah peristiwa G 30 S PKI. Tentara yang masih teman dekat Edi itu mengaku disuruh oleh komandan batalyon Para, Mayor Besar Rino K, dengan alasan terlibat G 30 S PKI.

“Tiga hari pertama adalah neraka penyiksaan bagi saya. Sejak sampai di kamp, saya sudah melihat teman teman saya juga ditangkap, disiksa dan ditelanjangi. Kami semua dibuat telanjang bulat, ditunjang, dan tidak dikasih makan. Pada hari ketiga kami semua disuruh buat surat wasiat kepada keluarga, karena akan dibunuh. Semua. Banyak orang menangis sambil menulis surat surat itu. Ternyata itu mop saja, supaya mereka tahu apa yang kami tulis disitu, namun demikian, satu persatu kami juga diambil dan tidak pernah kembali. Hari hari di tahanan adalah masa yang mendebarkan, karena ada saja yang diambil pada malam hari untuk dibunuh. Orang orang yang tergabung didalam Komando Aksi, yakni preman-preman yang diorganisir oleh tentara selalu datang pada malam hari. Dengan persetujuan tentara yang menjaga tahanan, tahanan bisa diambil dan dibunuh oleh Komando Aksi itu. “ Pak, ngebon kambing pak,”Begitu orang orang komando aksi meminta kepada tentara penjaga, supaya orang orang yang dituduh PKI itu bisa mereka ambil untuk dibunuh,” tutur Edi. Mereka dibawa ke berbagai tempat untuk dibunuh dan dipersaksikan kepada khalayak ramai sebagai bentuk agitasi. Mayat mayat itu sengaja diletakkan di jalanan kota, di sungai seperti sungai Wampu, sungai Deli dan Sungai Ular, serta di perkebunan terdekat seperti kebun tebu dan tembakau di pinggiran kota. Mayat mayat itu tidak dikuburkan, dibiarkan dimakan oleh binatang seperti anjing di pinggir jalan.

Edi menjalani hukuman tanpa proses hukum formal yang jelas, pun mengakhiri-nya dengan tidak jelas pula tahun 1972, setelah menjalani hukuman di berbagi lokasi tahanan di Sumatera Utara seperti Rutan Suka Mulia, Tanjung Kasau dan Jalan Gandhi. Keluar dari tahanan, Edi masih harus menjalani wajib lapor dengan KTP bercap OT/ET. Pilihan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan jalan selanjutnya yang ditempuh Edi setelah berkali-kali ditolak oleh keluarganya.

Tahun 97, untuk kedua kalinya Edi memulai pekerjaan sebagai tukang photo, dengan memilih lokasi mangkal di Taman Muara Indah Varia Tanjung Morawa,Tamora, tempat wisata kecil bagi warga Medan. Seiring dengan perkem-bangan kamera kini, Edi mengaku sudah kesulitan mendapatkan order. “Karena kamera pocket dan kamera digital itu, saya sulit mencari pelanggan. Sejak awal tahun 2000 lalu, aku sudah jarang ke Tamora, saya lebih sering meliput dan mengikuti aksi-aksi sekarang”, kata Edi. Belakangan, Edi banyak membangun komunikasi dengan orang orang muda dan aktivis mahasiswa. Tercatat Edi pernah menjadi anggota PRD, kemudian mengundurkan diri dan bergabung dengan PDS, dan sejak tahun 2004 bergabung dengan Komite Aksi Korban Pelanggaran HAM 65 Sumut ( KKP HAM Sumut).

“Sekarang saya punya harta yang sangat mahal, satu sepeda, dan sebuah kamera. Inilah harta sekaligus alat saya untuk bertahan hidup. Yang masih pak Edi bingung, kedua benda mahal ini mau diwariskan sama siapa kelak kalau aku mati”. Kamera dan sepeda Edi, terlihat setua umurnya yang sudah 68 tahun. Jaman bisa sudah abad millenium, namun kesederhanaan Edi dengan kedua benda keramatnya, mengingatkan setiap orang atas aroma jaman 60-an. “Setiap hari, saya naik sepeda sejauh tiga puluh kilometer”.

, dunia masih terbalik-balik. Yang satu ini "tersangka" yang diloloskan karena "tidak cukup" bukti, sedang yang jutaan korban '65 harus meringkuk dalami tahanan belasan tahun sebagai "tersangka" tanpa bukti, bahkan tetap harus hidup sebagai pe-sakitan sampai sekarang setelah 40 tahun bersama sanak keluarganya.

Inilah kenyataan pahit, sangat tidak adil yang kita hadapi sebagai kenyataan!

Salam,

ChanCT

*************** 0 0 0 0 0 0******************

Kisah Para Perempuan Korban 1965 (1-2)

”Genjer-genjer” Menyeret Sumilah ke Plantungan

Oleh : Fransisca Ria Susanti

Pengantar Redaksi:

Penjara Plantungan di Kendal, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu dari kisah tragis para perempuan Indonesia yang diisolasi di bekas Rumah Sakit Lepra tersebut. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah menjadikan mereka sebagai "tumbal" hanya karena tudingan terlibat atau dianggap dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Minggu (24/7), para eks tahanan politik (tapol) Plantungan menggelar "reuni" di pendopo Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) di Bugisan, Yogyakarta. SH menurunkan kisah mereka dalam dua tulisan yang dimuat Jumat dan Sabtu (30/7).

Yogyakarta – Genjer-genjer mlebu kendil wedange gemulak/Setengah mateng dientas yong dienggo iwak/ Sego nong piring sambel jeruk ring ngaben/Genjer-genjer dipangan musuhe sego. (Genjer-genjer dimasukkan dalam kuali panas/ Setelah setengah matang diangkat untuk lauk/Nasi di piring dan sambel jeruk di atas cobek/Genjer-genjer dimakan bersama nasi) Bait di atas adalah penggalan lagu Genjer-genjer karya seniman Banyuwangi, Muhammad Arif dan dipopulerkan oleh Bing Slamet. Anda pernah mendengarnya atau barangkali menyenandungkannya pelan-pelan?

Generasi yang hidup di era 1960-an akrab dengan lagu ini. Di film “Gie” yang kini diputar di bioskop-bioskop Jakarta, dendang Genjer-genjer juga terdengar, dilantunkan para simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjelang peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965.

Jika Anda melantunkan lagu yang bercerita soal kemelaratan warga Banyuwangi di masa pendudukan Jepang itu sekarang, tak akan ada dampak apa-apa, kecuali mungkin tatapan aneh lingkungan sekitar yang menduga Anda sebagai anak yang dilahirkan dari rahim ibu pengikut Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) atau setidaknya simpatisan dari PKI. Namun jika lagu itu dinyanyikan menjelang peristiwa G30S, maka petaka menjadi takdir yang menghampiri.

Sumilah, perempuan asal Prambanan, Yogyakarta adalah salah satu contoh dari takdir itu. Gadis Sumilah yang waktu itu masih berumur 14 tahun sama sekali tak tahu asal muasal kenapa pagi tanggal 19 November 1965 itu, ia bersama 47 orang (tujuh perempuan) lainnya diharuskan berkumpul oleh lurah desanya di sebuah lapangan. Kemudian mereka diangkut oleh truk ke penjara Wirogunan. Sepanjang jalan, Sumilah mencoba mengingat apa kesalahannya, tapi tak juga ketemu. Satu-satunya yang melintas di ingatannya adalah kesukaannya menari bersama teman-teman sepermainannya dengan iringan Genjer-genjer. “Saya suka. Nada lagu itu enak sekali,” ujarnya mengenang, Minggu (24/7) siang di pendopo Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) di Bugisan, Yogyakarta. Namun justru kesukaan inilah yang menjadi malapetaka baginya. Ia tinggal di hotel prodeo selama 14 tahun, tanpa ada tuduhan maupun pengadilan. Mula-mula, ia tinggal di penjara Wirogunan, Yogyakarta. Setiap hari, ia hanya diberi makan jagung beberapa butir dan kadang-kadang sayur lembayung.

Ia menjalani pemeriksaan di bawah sejumlah tekanan. Saat ditanyakan jenis tekanan atau siksaan yang ia alami selama pemeriksaan, Sumilah melengos. Pandangannya menerawang. Kenangan itu terlalu menyakitkan. Enam bulan lamanya, Sumilah berada di Wirogunan, sebelum kemudian dipindahkan ke penjara Bulu di Semarang dan terakhir di Plantungan pada tahun 1971.

Di Plantungan inilah, Sumilah yang menjadi tahanan termuda, mengetahui bahwa ia adalah korban salah tangkap. Sumilah yang seharusnya menjadi target penangka-pan adalah seorang guru SD asal Kulon Progo, Yogyakarta yang menjadi anggota PGRI Non-Vaksentral. Kedua Sumilah ini sempat berada bersama di penjara Wirogunan. Meski begitu, Sumilah yang hanya jebolan kelas 4 SD tidak dilepaskan oleh petugas. Dan saat Sumilah bocah ini harus berada di bui selama 14 tahun, Sumilah lainnya yang menjadi target hanya menempati penjara Wirogunan selama tiga tahun. Empat puluh tahun setelah penangkapan yang ironis itu, keduanya terlihat duduk bersila, berdampingan di pendopo SMKI, Minggu (24/7) siang itu. Entah apa yang mereka bicarakan dalam acara reuni eks tapol Plantungan itu.

Seandainya masa lalu begitu menyakitkan untuk diceritakan, barangkali keduanya tengah berbincang tentang hidup yang harus mereka jalani di usia senja sekarang.

Sumilah asal Prambanan kini menjalani hidup dengan laki-laki bekas kader Pemuda Rakyat (PR) yang menikahinya setelah ia keluar dari penjara tahun 1978. Dikarunia dua putra, laki-laki dan perempuan, Sumilah kini menghabiskan hidupnya dengan berjualan sate di areal depan Prambanan. “Saya bertemu dengan suami saya di Muntilan. Saya waktu itu berjualan sate di tempat bulik saya dan ia merupakan salah satu pembeli,” tutur Sumilah mengenang.

Satu-satunya syarat yang diajukan Sumilah saat laki-laki itu melamarnya hanyalah supaya laki-laki itu bersedia menikahinya secara Katolik. Sementara kisah pahit masa lalu mencoba mereka lupakan. Di depan kedua anaknya, cerita tersebut juga tak dikatakan. Sampai kemudian, saat Syarikat (organisasi nonpemerintah di Yogyakarta yang memiliki kepedulian terhadap para korban peristiwa 1965) berniat mendokumentasikan kisah Sumilah dalam film dokumenter “Kado Untuk Ibu”, anak perempuannya yang duduk di bangku SMA, baru mengetahui tragedi yang menimpa ibunya.

Gadis yang besar di era reformasi itu pasti tak menyangka bahwa hanya gara-gara sebuah lagu, ibunya harus menghabiskan 14 tahun masa hidupnya di balik jeruji penjara. Sayangnya, 40 tahun setelah kesewenang-wenangan itu berlalu, negara ini tak juga menemukan aktor yang bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut. Jalan rehabilitasi terhadap para korban pun tak juga mulus. Nn

 

*************** 0 0 0 0 0 0******************

 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/29/sh03.html

Kisah Para Perempuan Korban 1965 ( 2 - 2 )

Sumpah Iman di Tengah Siksaan

Oleh : Fransisca Ria Susanti

YOGYAKARTA - Adegan Getsemani saat Yesus begitu ketakutan dan menginginkan agar proses penyaliban yang akan menimpanya tak terjadi, seperti diputar ulang di Plantungan, Kendal sekitar awal 1970-an. Bedanya, doa ini disampaikan di tengah berlangsungnya siksaan dan diucapkan oleh Sumarmiyati, perempuan asal Yogya-karta yang dipenjarakan oleh pemerintahan Soeharto hanya gara-gara ia menjadi anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), sebuah organisasi yang dicap underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sumarmiyati bahkan menyatakan sumpah, jika ia diberi kekuatan untuk bisa mengatasi siksaan dan diberi kesempatan untuk menikah dan punya anak, maka satu anaknya akan ia persembahkan untuk Tuhan. Sebagai penganut Katolik, sumpah “persembahan” ini adalah izin untuk membiarkan anaknya menjadi biara-wan.

Bersama perempuan lainnya, Sumarmiyati dimasukkan dalam penjara Orde Baru tanpa pernah diadili pasca Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Desember 1965, perempuan tersebut dimasukkan ke penjara karena keterlibatannya di IPPI. Tapi kemudian dilepaskan pada April 1966. Saat ia dikeluarkan, seorang pastor menampungnya dan menyekolahkannya hingga ia memperoleh ijazah untuk mengajar di Sekolah Dasar di Janti, Yogyakarta. Namun pada April 1968, Sumarmiyati kembali ditangkap atas tuduhan melakukan gerilya politik (gerpol). Bantahan terhadap tudingan ini sama sekali tak diperhatikan. Tak ada satu pun pengadilan yang digelar untuk membuktikan tudingan ini. Sumarmiyati dijebloskan ke penjara, untuk kedua kalinya, hingga tahun 1978. Ia berpindah-pindah dari penjara Wirogunan, lalu ke Bulu dan terakhir di Plantungan.

Dalam film dokumenter “Kado untuk Ibu” yang digarap oleh Syarikat (organisasi nonpemerintah yang memperjuangkan nasib para korban peristiwa 1965), Sumarmiyati bertutur bagaimana ia dan tapol perempuan lainnya ditelanjangi dan dipaksa untuk menciumi penis para pemeriksanya. “Kami disuruh melakukan itu karena menurut mereka kami layak diperlakukan seperti itu,” tuturnya getir.

Saskia Eleonora Wierenga dalam studinya tentang “Penghancuran Gerakan Perempuan Indonesia” menyebutkan bagaimana Orde Baru sengaja menciptakan stigma bagi perempuan yang terlibat atau diduga simpatisan PKI. Penciptaan stigma tersebut diperkuat melalui media massa yang ada saat itu, di antaranya harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha.. Dalam koran-koran tersebut, aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) – organisasi yang dicap underbouw PKI - digambarkan turut terlibat dalam pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya dengan melakukan tari-tarian saat pembantaian dilakukan. Mereka bahkan dilukiskan sebagai perempuan jalang yang menyetubuhi para jenderal tersebut sebelum dibunuh.

Drama Kecengengan

Guna menguatkan image tersebut, rezim Soeharto bahkan meminta para seniman menggambarkan adegan tarian para aktivis Gerwani ini di relief Monumen Pancasila Sakti. Pencitraan ini melahirkan stigmatisasi yang menyakitkan bagi para aktivis politik perempuan yang dekat dengan PKI, juga para perempuan yang ditangkap hanya karena diduga simpatisan organisasi tersebut..

 Namun bagi Sumarmiyati, stigma ini tak berarti banyak bagi dirinya ketika pada November 1978, dua bulan setelah ia keluar dari Plantungan, sang pacar yang juga baru keluar dari penjara datang melamar. Setidaknya, hidup serumah dengan laki-laki yang memahami pilihan politiknya, membuat Sumarmiyati lebih kuat dalam menjalani hidup. Selain itu, lingkungannya pun bisa menerima. Bahkan ia mendapat-kan dispensasi dari kawan-kawan di organisasi gerejanya untuk meminjam uang kas. Padahal salah satu syarat peminjaman saat itu adalah melampirkan “surat bersih diri” (surat keterangan tidak terlibat G30S) dari kelurahan.

Dan sesuai dengan sumpah yang ia ucapkan saat berada dalam siksaan, satu dari dua orang anak Sumarmiyati kini sedang melanjutkan studi di seminari tinggi. Jika ia berhasil menyelesaikan studi tersebut, maka ia akan ditahbiskan menjadi pastor.

Sumarmiyati dan juga ratusan perempuan yang hadir di forum reuni eks tapol Plantungan di pendopo Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI), Bugisan, Yogyakarta, Minggu (24/7) siang itu, masih merekam kesewenangan rezim Orde Baru dengan jelas di ingatan. Namun hidup terus berjalan. Persoalan keseharian membuat bayang-bayang kenangan yang menyiksa itu sedikit kabur.

Sumini Martono, aktivis Gerwani Wonosobo yang jadi tapol selama 10 tahun, adalah contoh lain dari ketegaran itu. “Saya ditangkap dengan janji akan dilepaskan setelah suami saya ditangkap. Tapi setelah suami saya ditangkap, saya tak juga dilepas. Dan saat saya sudah dikeluarkan, suami saya ternyata sudah hilang,” ungkapnya. Hilang, dalam bahasa para tapol, adalah dibunuh. Suami Sumini memang terbukti dibunuh oleh para aparat Orde Baru dan mayatnya dihanyutkan di sebuah luweng di Wonosari. Tempat ini dikenal sebagai tempat pembantaian para aktivis yang diduga sebagai anggota atau simpatisan PKI pasca perisiwa G30S.

Saat menceritakan kisah tersebut, Sumini menyampaikannya dengan enteng. Tapi bukan berarti ia tak merasa kehilangan. Hanya saja, ketika sebuah penderitaan sudah tak tertahankan dan tak ada jawaban yang bisa diberikan atasnya, maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjalani hidup dengan kekuatan yang tersisa.

Ketegaran yang ditunjukkan Sumarmiyati dan Sumini serta ribuan eks tapol Plantungan membuat keluhan anggota DPR dan pejabat negara saat ini tentang gaji yang minim tampak seperti drama kecengengan.

Sinar Harapan 29 Juli 2005

*************** 0 0 0 0 0 0******************

"joseph" <harjo@wanadoo.nl>

Fri, 14 Oct 2005 23:07:20 +0200

DUSTA TARI PORNO DI BUKIT DURI.

GAMMANomor : 33-3-09-10-2001

Sulami, Wakil Sekjen DPP Gerwani, narapidana politik 20 tahun penjara, bertutur kepada GAMMA. Ia percaya Soeharto terlibat G-30-S. Lihatlah, rambutku sudah memutih. Sorot mataku pun redup. Padahal, tengok foto ini, saat bersalaman dengan Presiden Soekarno pada 1962, ketika beliau berulang tahun di Istana, aku masih oke, ya? Kini, usiaku 75 tahun. Saya sedang sibuk dengan Yayasan Penelitian Korban 1965-1966, baik yang sudah mati, masih hidup, dan keluarga mereka. Duh, banyak yang nganggur karena dituduh tak bersih diri. Mencari jodoh saja sulit. Yang sempat tunangan enggak jadi nikah. Matilah hak asasi dan hak perdata mereka. Traumatis.

Kami mendata kuburan para korban dan keluarganya. Kami berhasil membongkar kuburan- kuburan di Blora, Jawa Tengah, pada Juni 1998. Di hutan. Setelah digali sampai dua meter dalamnya ternyata ada 51 kerangka.

Waktu yayasan itu dideklarasikan di LBH Jalan Diponegoro Jakarta pada 1999 lalu, BBC London menginterviu malam dan paginya disiarkan. Setelah itu kami didatangi 30 wartawan. Klipingnya kami kumpulkan. Lalu, kami diinterviu sebanyak 68 kali oleh media dalam dan luar negeri. Akibatnya, teman-teman yang merasa kehilangan keluarganya ramai-ramai menjadi sukarelawan di Jawa, Bali, Sumatera, dan Sula-wesi.

Saya ingin bisa menggelar satu perkara. Soal pembunuhan, umpamanya di Boyolali, di situ kehilangan rakyatnya kira-kira 8.000. Itu bisa kami tunjukkan kepada keluarga yang mati itu. Terus kami minta kepada Komnas HAM untuk membentuk KPP HAM khusus korban 1965-1966. Katanya, masih belum bisa dilaksanakan karena ada Tap. MPRS Nomor 25 itu. Padahal, ketetapan itu dibentuk secara tidak sah. Yang membentuk itu bukan presiden dan orang-orang Bung Karno yang di DPR/MPR GR waktu itu. Ada 126 orang atau lebih yang sudah dikeluarkan dari sana dan diganti oleh orang-orangnya Soeharto.

Memang, kalau kita dengar keterangan Kol. Latief dan Pak Soebandrio yang menyimpulkan bahwa Soeharto memang tahu peristiwa G-30-S, kami kaget. Dulu, Pak Latief, kan, salah satu pelaku pembunuhan para jenderal itu. Saya, kan, tidak mengerti dulu-dulunya bagaimana dia. Ngerti-nya setelah dia keluar dari penjara dalam keadaan fisik yang begitu rusak. Saya mengerti sebab musababnya. Kalau umpamanya laporan Latief kepada Soeharto pada waktu itu ditanggapi dengan baik dan dia melaporkannya ke Pak Yani sebagai atasannya dan kepada Presiden Soekarno sebagai panglima tertinggi, tidak akan terjadi peristiwa itu. Itu kalau diikuti berapa lama imperialis Amerika ini ingin membunuh Bung Karno. Sementara itu, soal keterlibatan Soeharto yang bekerja sama dengan Amerika, kami rasa itu sangat mungkin. Kami bahkan mengumpulkan kliping-kliping yang ada hubungannya dengan CIA.

Pengakuan Heru Atmodjo juga begitu. Dan jeleknya, Pak Harto itu dalam usaha perjuangannya menjatuhkan Bung Karno --dalam hal ini kerja sama dengan kekuatan asing-- tega menghalalkan segala cara yang luar biasa kejam. Saya yakin bahwa Soeharto memang terlibat dalam G-30-S. Lalu, saya cocokkan dengan tulisan bekas orang kedutaan Amerika, The Impossible Dream. Di situ alurnya sudah jelas sekali.

Dulu saya sering bertemu Bung Karno. Saya mendengar dari keluarga istana bahwa Pak Harto waktu itu dimarahi Pak Yani. Dia lalu menghadap Bung Karno dan minta keluar dari tentara. Dan ketika ditanya Bung Karno, dia jawab karena Pak Yani tidak senang kepada Pak Harto. Terus Bung Karno ngecek (menurut seorang jenderal yang ada di istana) dan Yani kemudian mengatakan, "Ya, Pak, saya enggak suka kerja sama dengan Mayor (ketika itu Soeharto berpangkat mayjen) itu."

Ketika Soeharto bertugas di Diponegoro, di situ, kan, Pak Yani juga sudah kelihatan tidak menyukai Soeharto seperti yang disampaikan Pak Bandrio dalam bukunya. Saya memang mendengar soal barter yang dilakukannya saat di Diponegoro. Nah, setelah peristiwa itu, Soeharto diperiksa di kodim. Yang memeriksa itu seorang kapten CPM dan saya kenal. Belakangan, sang kapten itu ditangkap. Ngegebukinya itu bukan main. Istri dan anaknya disuruh nunggu. Itu setelah 1965. Kapten itu dibalas oleh orang-orangnya Soeharto.

Dalang G-30-S, menurut Bung Karno, kan, ada tiga macam. Tapi, yang santer hanya dari Soeharto. Cuma, kalau membaca, banyak liku-likunya. Kalau sekali dua kali enggak mengerti apa betul Pak Harto, PKI, atau Bung Karno. Kalau Bung Karno terang tidak. Sebab, pagi-pagi kami bertemu di depan Kementerian Penerangan. Bung Karno saat itu dari rumahnya Dewi. Nah, itu saya anggap beliau sedang menuju istana. Sejak itu kami enggak ketemu lagi dengan Bung Karno. Jadi enggak mungkin ia berada di belakang peristiwa itu.

Lantas, kalau PKI sendiri, yang mengherankan adalah PKI itu tempatnya orang pintar-pintar dan orang perjuangan sejak zaman Belanda. Dia, kan, tahu perhitungannya bahwa pemilihan umum mendatang yang sebentar lagi akan dimenangi PKI. Dan menang itu akan membawa perubahan macam-macam. Jadi, kalau umpamanya buatan PKI, kok, ya geblek temen. Buat apa? Apa PKI itu terpancing? Ya, enggak ngerti, Tapi, sekarang kami kumpulkan data mengenai ini. Soal kemungkinan didalangi PKI itu kecil sekali.

Kalau Soeharto, itu dimungkinkan karena dia musuh PKI sejak dia jadi Pangdam  Diponegoro. Sementara itu, hubungan PKI dengan Bung Karno sedang baik, dan sama Soeharto mungkin jelek. Di situlah yang kami sangsikan.

Sudahlah. Yang saya harapkan adalah pelurusan sejarah dan menuntut Pak Harto, karena itu semua atas perintahnya. Misalnya, perintah kepada rakyat Jawa Tengah untuk membantu Sarwo Edhie dalam operasinya. Saya masih punya kliping koran-korannya.

O, ya, saya pernah bertemu dengan wakil keluarga korban Tanjung Priok, Pak Benny Biki. Beliau berkata, "Kita ini memiliki perbedaan yang fundamental. Saya lain dengan Bu Lami. Tapi, kita mengalami penindasan sama-sama. Jadi, mari kita kerja sama mendapatkan solusi yang baik. Saya juga tidak setuju tempat Bu Lami diobrak-abrik, diancam, dan didatangi Komando Anti-Komunis. Coba, rumah saya di Tangerang dibakar. Pak Benny Biki bilang dia enggak setuju dengan cara-cara begitu  Terus terang, saat 30 September 1965, saya enggak mengerti karena pada waktu itu Gerwani ada kesibukan, mau kongres pada Desember 1965. Saya sangat sibuk dan enggak ada hubungan dengan G-30-S. Tapi, bukti itu tidak dipakai oleh pengadilan. Apa yang saya ceritakan pada malam 30 September dan 1 Oktober itu enggak dipakai semua. Padahal, itu ada alibinya, yaitu teman saya yang namanya Sujinah, yang bertempat tinggal di Kantor Gerwani di Jalan Matraman 51 Jakarta. Sebagai wakil sekjen, saya memang bertempat tinggal di situ, siang-malam menunggu sekretariat. Kami tidak sempat memikirkan keadaan waktu itu karena kami juga sedang ujian. Saya mengambil D-3 di Akademi Bakhtaruddin. Itu pun tidak dipercaya. Jadi, saya simpulkan bahwa pengadilan itu memang pengadilan target. Putusan itu sudah ada di kantong hakim. Tinggal ketok aja.

Tapi, koran-koran memberitakan lain waktu itu. Saat itu wartawan diharuskan bikin berita begitu. Apalagi memang ada semacam larangan buat koran yang lain untuk memberitakan peristiwa itu berbeda. Dan, beberapa koran lainnya yang dibawah militer turut dilindungi, seperti Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Kliping koran yang saya punya juga begitu.

Saya tahu peristiwa G-30-S itu dari teman-teman pengurus setelah kejadian. Saat pencarian mayat itu (para jenderal, Red.) pada 4 Oktober 1965 dan saya menonton orang ramai di jalan itu pada 4 Oktober. Sesudah itu Gerwani diburu dan kami tidak berani lagi di kantor. Apalagi, kantor kami dikepung. Setelah 6 Oktober saya betul-betul tidak berani berada di kantor. Lalu, saya pergi. Sebenarnya saya mutar-mutar saja di Jakarta hingga 11 Agustus 1967 ketika saya ditangkap.

Anehnya, saya baru diadili pada 1974. Lalu, dihukum 20 tahun penjara tanpa kesalahan yang jelas. Syukurlah, akhirnya saya dibebaskan bersyarat pada 1984 dan wajib lapor hingga 1986.

Saya ingat berita koran waktu itu mendiskreditkan kami. Karena itu, sakit hati sekali. Misalnya, soal tarian para anggota Gerwani di Lubang Buaya itu. Padahal, itu nari-nya di aula penjara Bukit Duri. Ya, tari genjer-genjer di tengah kehidupan porno. Jadi, disuruh nari-nari, lalu dipotreti dan difilmkan untuk pengadilannya Pak Band (Soebandrio, Red.). Itu yang dibawa dalam pengadilan Pak Ban. Betul-betul fitnah.

Yang keterlaluan, ada seorang pelacur dari Senen Jakarta yang buta huruf ditangkap patroli karena tanpa KTP. Dia dipaksa mengaku anggota Gerwani dan dalam BAP mengaku berada di Lubang Buaya dengan tugas memberi konsumsi seks kepada 200 tentara. Ia bubuhkan cap jempol karena takut bedil. Ada pula Inah, seorang istri oknum yang dicurigai ikut menjadi pelatih di Lubang Buaya. Lalu, dicomotlah seorang gelandangan di bawah jembatan Kebon Sirih Jakarta hanya karena dia bernama Sainah dan digebuki agar mengaku sebagai Inah, istri si pelatih itu. Dan orang seperti merekalah yang dijadikan saksi. Pokoknya, banyak kebohongan.

BLU dan Budi Kurniawan

*************** 0 0 0 0 0 0******************

Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer

kepada Keith Foulcher

Jakarta, 5 Maret 1985

Salam,

Surat 26 Februari 1985 saya terima kemarin, juga surat terbuka Achdiat K. Mihardja untuk teman-teman (sarjana) Australia yang dilampirkan. Terimakasih. Lampiran itu memang mengagetkan, apalagi menyangkut-nyangkut diri saya, dan tetap dalam kesatuan semangat kaum manikebuis pada taraf sekarang: membela diri dan membela diri tanpa ada serangan sambil merintihkan kesakitannya masa lalu, yang sebenarnya lecet pun mereka tidak menderita sedikit pun. Total jendral dari semua yang dialami oleh kaum manikebuis dalam periode terganggu kesenangannya, belum lagi mengimbangi penganiayaan, penindasan, penghinaan, perampasan dan perampokan yang dialami oleh satu orang Pram. Setelah mereka berhasil ikut mendirikan rezim militer, dengan meminjam kata-kata dalam surat terbuka tsb.: "All forgotten and forgiven" dan revisiannya: "We've forgiven but not forgotten." Saya hanya bisa mengelus dada. Kemunafikan dan keangkuhan dalam paduan yang tepat, seimbang dengan kekecilan nyalinya dalam masa ketakutan. Dan Bung sendiri tahu, perkembangan sosial- budaya-politik--di sini Indonesia--bukan semata-mata ulah perorangan, lebih banyak satu prosedur nasional dalam mendapatkan identitas nasional dan mengisi kemerdekaan. Tak seorang pun di antara para manikebuis pernah menyatakan simpati -- jangan bayangkan protes -- pada lawannya yang dibunuhi, kias atau pun harfiah. Sampai sekarang. Misalnya terhadap seniman nasional Trubus. Japo[?] Lampong. Apalagi seniman daerah yang tak masuk hitungan mereka. Di mana mereka sekarang. Di mana itu pengarang lagu Genjer-genjer? Soekarno mengatakan: Yo sanak, yo kadang, yen mati m[?a]lu kelangan. Yang terjadi adalah -- masih menggunakan suasana Jawa: tego larane, tego patine.

Masalah pokok pada waktu itu sederhana saja: perbenturan antara dua pendapat; revolusi sudah atau belum selesai. Yang lain-lain adalah masalah ikutan daripada-nya. Saya sendiri berpendapat, memang belum selesai. Buktinya belum pernah muncul sejarah revolusi Indonesia. Karena memang belum ada distansi dengannya. Belum merupakan kebulatan yang selesai. Maka para sejarawan takut. Malah kata revolusi nasional cenderung dinamai dan dibatasi sebagai perang kemerdekaan.

Pertentangan manikebu dan pihak kami dulu tidak lain cuma soal polemik. Memang keras, tapi tak sampai membunuh, kan? Kan itu memang satu jalan untuk mendapat-kan kebenaran umum, yang bisa diterima oleh umum? Bahwa pada waktu itu terjadi teror yang dilakukan oleh orang-orang Lekra sebagaimana dituduhkan sekarang, betul- betul saya belum bisa diyakinkan. Beb Vuyk dalam koran Belanda menuduh: teror telah dilakukan orang-orang Lekra terhadap beberapa orang, antaranya Bernard IJzerdraad. Waktu ia datang ke Indonesia dan menemuinya sendiri, IJzerd-raad menjawab tidak pernah diteror. Dan Beb Vuyk tidak pernah mengkoreksi tulisannya. Beb Vuyk sendiri meninggalkan Indonesia setelah kegagalan pembe-rontakan PRRI-Permesta, kemudian minta kewarganegaraan Belanda. Mungkin ia merasa begitu pentingnya bagi Indonesia sehingga dalam usianya yang sudah lanjut merasa berkepentingan untuk mendirikan kebohongan terutama untuk menyudutkan saya. pada hal dalam polemik-polemik tsb. saya hanya menggunakan hak saya sebagai warganegara merdeka untuk menyatakan pen-dapat. Dan saya sadari hak saya. Seperti sering kali saya katakan: kewarga-negaraan saya peroleh dengan pergulatan bukan hadiah gratis.

Dan apa sesungguhnya kudeta gagal G-30S/PKI itu? Saya sendiri tidak tahu. Sekitar tanggal 24 bulan lalu saya menerima fotokopi dari seorang wartawan politik Eropa dari Journal of Contemporary Asia, tanpa nomor dan tanpa tahun, berjudul: "Who's Plot--New Light on the 1965 Events," karangan W.F. Wertheim. Itulah untuk pertama kali saya baca uraian dari orang yang tak berpihak. Juga itu informasi pertama setelah 20 tahun belakangan ini. Rupa-rupanya karena ketidaktahuan saya itu saya harus dirampas dari segala-galanya selama 14 tahun 2 bulan + hampir 6 tahun tahanan kota (tanpa pernyataan legal), tanpa pernah melihat dewan hakim yang mendengarkan pembelaan saya. Memang sangat mahal harga kewarganegaraan yang harus saya bayar. Maka juga kewarganegaraan saya saya pergunakan semak-simal mungkin. Itu pun masih ada saja orang yang tidak rela. Juga surat pada Bung ini saya tulis dengan menjunjung tinggi harga kewarganegaraan saya.

Sekarang akan saya tanggapi tulisan A.K.M. Ia tidak ada di Indonesia waktu meletus peristiwa 1965 itu. Tetapi saya sendiri mengalami. Saya akan ceritakan sejauh saya alami sendiri, untuk tidak membuat terlalu banyak kesalahan.

Pada 1 Oktober 1965 pagihari saya dengar dari radio adanya gerakan Untung. Kemudian berita tentang susunan nama Dewan Revolusi. Sebelum itu pengumuman naik pangkat para prajurit yang ikut dalam gerakan Untung dan penurunan pangkat bagi mereka yang jadi perwira di atas letkol. Sudah pada waktu itu saya terheran-heran, kok belum-belum sudah mengurusi pangkat? Ini gerakan apa, oleh siapa? Saya lebih banyak di rumah daripada tidak. Kerja rutine ke luar rumah adalah dalam rangka menyiapkan Lentera dan mengajar pada Res Publika. Dan sangat kadang-kadang ke pabrik pensil di mana saya "diangkat" jadi "penasihat." Jadi di rumah itu saja saya "ketahui" beberapa hal yang terjadi dari suara-suara luar yang datang. Mula-mula datang Abdullah S.P., itu penantang Hamka, waktu itu baru saja bekerja di sebuah surat kabar Islam yang baru diterbitkan, dan yang sekarang saya lupa namanya. Ia mengatakan merasa tidak aman dan hendak mengungsi ke tempatku. Saya keberatan, karena memang tidak tahu situasi yang sesungguhnya. Seorang pegawai tatausaha Universitas Res Publika datang ke rumah menyerahkan honor, dan mengatakan Universitas ditutup karena keadaan tidak aman. Ia menyerahkan honor lipat dari biasanya. Beberapa hari kemudian datang pegawai dari pabrik pensil, juga menyerahkan honor, juga lipat dari biasanya, karena pabrik terpaksa ditutup, keadaan gawat. Kemudian datang seorang teman yang memberitakan, rumah Aidit dibakar, demikian juga beberapa rumah lain. Ia juga memberitakan tentang cara massa bergerak. Mereka menyerang rumahtangga orang, kemudian datang para petugas berseragam yang tidak melindungi malah menangkap yang diserang. "Saya yakin Bung akan diperlakukan begitu juga," katanya. Soalnya apa dengan saya? tanyaku. "Kesalahan bung, karena bung tokoh." Itu saja? Tempatku di sini, kataku akhirnya.

Seorang penjahit, yang pernah dibisiki larangan menjahitkan pakaian saya oleh tetangga anggota PNI-- penjahit itu juga tetangga--menawarkan tempat aman pada saya nun di Brebes (kalau saya tidak salah ingat). Saya ucapkan terimakasih. Mengherankan betapa orang lain dapat melihat, keamananku dalam ancaman. Seorang teman lain datang dan menganjurkan agar saya lari. Mengapa lari? tanya saya. Apa yang saya harus larikan? Diri saya? dan mengapa?

Kemudian datang seorang pengarang termuda yang saya kenal. Biasanya ia langsung masuk ke belakang dan membuka sendiri lemari makan. Ia tidak mengu-langi kebiasaannya. Tingkahnya menimbulkan kecurigaan. Saya masih ingat kata- kata yang saya ucapkan kepadanya: saya seorang diri dari dulu, kalau pengeroyok memang hendak datangi saya akan saya hadapi seorang diri; tempat saya di sini.

Keadaan makin lama makin gawat. Isteri saya baru dua bulan melahirkan. adalah tepat bila ia dan anak-anak untuk sementara menginap di rumah mertua. Papan nama saya, dari batu marmer, bertahun-tahun hanya tergeletak, sengaja saya pasang di tembok depan dengan lebih dahulu memahat tembok. Sebagai pernyataan: saya di sini, jangan nyasar ke alamat yang salah.

Di tempat lain isteri kedua mertua saya mengadakan selamatan untuk keselamatan saya. Sementara itu saya tetap tinggal di rumah menyiapkan ensiklopedi sastra Indonesia. Dalam keadaan lelah saya saya beralih mempelajari Hadits Bukori. di malam hari semua lampu saya padamkan dan saya duduk seorang diri di beranda. Teman saya hanya seorang, adik saya yang pulang ke Indonesia untuk menyiapkan disertasinya, Koesalah Soebagyo Toer.

Kemudian datang tanggal 13 Oktober 1965 jam 23.00. Tahu-tahu rumah saya sudah dikepung. Lampu pagar dari 200 watt--waktu tegangan hanya 110, namun dapat dianggap terlalu mewah untuk kehidupan kampung--saya nyalakan. Di depan pintu saya lihat orang lari menghindari cahaya. Mukanya bertopeng. Tangannya mem-bawa pikar. Malam-malam, dengan topeng pula, langsung terpikir oleh saya, barang itu tentu habis dirampoknya dari rumah yang habis diserbu. Saya tahu itu pikiran jahat. apa boleh buat karena suara- suara gencar memberitakan ke rumah, pihak militer mengangkuti anak-anak sekolah ke atas truk dan disuruh berteriak-teriak menentang Soekarno. Saya tidak pernah melihat sendiri. Saya percaya, karena pelda (atau peltu?) yang tinggal di depan rumah saya, sudah dua malam berturut- turut bicara keras di gang depan rumah, bahwa militer punya politik sendiri, Soekarno sudah tidak ada artinya. Konon ia bekas KNIL. Malah pada malam kedua ia buka mulut keras-keras sambil mondar-mandir, dan saya merasa itu ditujukan pada saya, rokok kretek saya cabut dari bibir dan saya lemparkan padanya. Terdengar ia melompat sambil memekik. Jadi kalau saya punya pikiran jahat seperti itu bukan tidak pada tempatnya. Nah, setiap lampu pagar saya matikan, muncul gerombolan di depan pintu. Bila saya nyalakan lagi mereka lari. Jelas mereka muka-muka yang saya telah kenal. Tak lama kemudian batu-batu kali tetangga samping, yang dipersiapkan untuk membangun rumah, berlayangan ke rumah saya. Itu tidak mungkin dilemparkan oleh tenaga satu orang. Paling tidak dua orang dengan jalan membandulnya dengan sarung atau dengan lainnya. Kalau anak-anak saya masih di rumah, terutama bayi 2 bulan itu, saya tak dapat bayangkan apa yang bakal terjadi. Batu besar berjatuhan di dalam rumah menerobosi genteng dan langit-langit. Jadi benar-benar orang menghendaki kematian saya. Saya ambil tongkat pengepel dari kayu keras, juga mempersenjatai diri dengan samurai kecil (pemberian Joebaar Ajoeb sekembalinya dari Jepang). Ini hari terakhir saya, di sini, di tempat saya. Saya tahu, takkan mungkin dapat melawan satu gerombolan, tapi saya toh harus membela diri? Jalan kedua untuk bertahan adalah memberi gerombolan itu sesuatu yang mereka ingat seumur hidup: kata-kata yang lebih ampuh dari senjata.

Dengan suara cukup keras saya memekik: Ini yang kalian namai berjuang? Kalau hanya berjuang aku pun berjuang sejak muda. Tapi bukan begini caranya. Datang ke sini pemimpin kalian! Berjuang macam apa begini ini?

Ingar-bingar terhenti. Juga lemparan batu. Tiba-tiba sebongkah besar batu kali menyambar paha saya dan melesat mengenai pintu depan yang sekaligus hancur. Lemparan batu menjadi hebat kembali. Lampu pagar sengaja dihancurkan dengan lemparan juga.

Saya dengar suara: Mana minyaknya. Sini, bakar saja. Tetapi saya dengar juga suara orang tua tetangga sebelah kiri saya, seorang dukun cinta: jangan, jangan dibakar, nanti rumah saya ikut terbakar. Tak lama kemudian terdengar suara lagi: jangan lewat di tanah saya. Waktu saya lihat ke dalam rumah adik saya sudah tidak ada. Rupanya ia meloloskan diri dari pintu pagar belakang dan langsung memasuki tanah sang dukun cinta.

Dan betul saja kata teman itu: kemudian datang orang- orang berseragam. Metode kerja yang kelak akan terus- menerus dapat dilihat. Mereka terdiri dari polisi dan militer. Saya belum lagi sempat menggunakan tongkat dan samurai saya, mereka belum lagi memasuki pekarangan rumah saya.

Komandan militer operasi dan gerombolannya saya bukakan pintu. Mereka masuk dan langsung menyalahkan saya: sia-sia melawan rakyat. Kontan saya jawab: Gerombolan, bukan rakyat.

Setelah mereka memeriksa seluruh rumah ia bilang lagi: Siapkan, pak mari kami amankan, segera pergi dari sini. Saya berteriak memanggil adik saya. Dia muncul, entah dari mana. Dijanjikan akan diamankan, saya siapkan naskah saya Gadis Pantai untuk diselesaikan dan mesin tulis. Pada seorang polisi dalam team itu saya bertanya: kenal saya? Kenal, pak. Tolong selamatkan semua kertas dan perpustaka-an saya. di situ adalah perkerjaan Bung Karno (waktu itu saya belum sampai selesai menghimpun cerpen-cerpen Bung Karno, dan korespondensi Soekarno-Sartono-Thamrin masih belum memadai untuk diterbitkan). Dia berjanji untuk menyelamat-kan.

Mereka giring kami berdua melalui gang. Gerombolan itu berjalan mengepung di samping dan belakang. Ada yang membawa tombak, keris, golok, belati. Benar, alat negara itu tidak menangkap gerombolan penyerbu, malah menangkap yang diserbu. Dan sebanyak itu dikerahkan untuk menumpas satu-dua orang. Hebat benar membikin momentum qua perjuangan. Sampai di sebuah lapangan gang jurusan belakang rumah, sebelum dinaikkan ke atas Nissan mereka ikat tanganku ke belakang dan menyangkutkan ke leher, sehingga rontaan pada tangan akan menje-rat leher. Tali mati. Bukan simpul mati yang diajarkan di kepanduan. Tali mati. Macam ikatan yang dipergunakan untuk tangkapan yang akan dibunuh semasa revolusi dulu. Tentu saja saya menyesal akan mati dalam keadaan seperti ini. Lebih indah bila dengan bertarung di atas tanah tempat saya tinggal. Melewati jembatan depan rumah sakit umum pusat Koptu Sulaiman menghantamkan gagang besi stennya pada mataku. Cepat saya palingkan kepala dan besi segitiga itu tak berhasil mencopot bola mata tetapi meretakkan tulang pipi. Saya memahami kemarahannya, bukan padaku sebenarnya, tapi pada atasannya, karena tak boleh ikut memasuki rumah saya. Mereka bawa kami ke Kostrad, kalau saya tidak keliru. Yang sedang piket adalah seorang Letkol. Kami diturunkan di situ, dan pada perwira itu saya minta agar kertas dokumentasi dan perpustakaan diselamatkan. Kalau Pemerintah memang menghendaki agar diambil, tapi jangan dirusak. Ia menyanggupi. Dari situ kami dibawa memasuki sebuah kompleks perumahan yang saya tak tahu kompleks apa. Dari jendela nampak puncak emas Monas. Kemudian saya dapat mengenali rumah itu; hanya masuknya tidak berkelok-kelok melalui kompleks, tetapi langsung dari jalan raya, karena pada 1955 di ruang yang sama saya pernah menemui Erwin Baharuddin, bekas sesama tahanan Belanda di penjara Bukitduri.

Piket mengambil semua yang saya bawa di tangan, naskah dan mesin tulis, juga samurai yang tersisipkan dalam kaos kaki. Waktu ia tinggal seorang diri rolex saya dikembalikan, berpesan supaya jangan kelihatan, sembunyikan baik-baik. kami dipersilakan ke sebuah ruangan tempat di mana sudah menggeloyor di lantai beberapa orang. Seorang adalah Daryono dari suatu SB (entah SB apa) dan seorang perjaka jangkung tetangga sendiri. Piket yang mengembalikan jamtangan itu memasuki ruangan tempat kami tergolek di lantai. Di sebuah papantulis besar tertulis dengan kapur: Ganyang PKI. Ia pergi ke situ dan menghapus tulisan itu sambil berguman: apa saja ini!

Seorang bocah berpangkat kopral, bermuka manis, menghampiri dan menanyai ini-itu. Saya tanyakan apa pangkatnya. Ia menjawab dengan pukulan dan tempeleng, kemudian pergi. Kurang lebih dua jam kemudian saya lihat Nissan patrol datang dan menurun-nurunkan barang. Beberapa contoh ditaruh di atas meja di ruangan tempat kami menggeletak di lantai. Saya kenal benda-benda itu: kartotik file saya sendiri, dokumentasi potret sejarah, malah juga klise timah yang saya siapkan untuk saya pergunakan dalam jangka panjang. Saya jadi mengerti perpustakaan dan dokumen-tasi saya, jerih-payah selama lima belas tahun telah dibongkar, 5.000 jilid buku dan beberapa ton koleksi suratkabar. Angka-angka itu saya dapatkan dari sarjana perpustakaan yang sekitar dua tahun membantu saya.

Tangkapan-tangkapan baru terus berdatangan. Ada yang sudah tak bisa jalan dan dilemparkan ke lantai. Kemudian datang tangkapan yang langsung mengenali saya. Ia bertanya mengapa saya berlumuran darah. Baru waktu itu saya sadar kemejaku belang-bonteng kena darah sendiri, demikian juga celana, yang rupanya teriris batu kali yang dilemparkan. Dialah yang bercerita, semua kertas saya diangkuti militer. Massa menyerbu dan merampok apa saja yang ada, sampai-sampai mangga yang sedang sarat berbuah digoncang buahnya. Tak ada satu cangkir atau piring tersisa. Rumah bung tinggal jadi bolongan kosong blong.

Jangan dikira ada perasaan dendam pada saya; tidak. Justru yang teringat adalah satu kalimat dari Njoto, yang A.K.M. juga kenal: Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita cukup rendah, memprihatinkan, kita perlu meningkatkannya. Saya juga teringat pada kata-kata lain lagi: Kalau kau mendapatkan kebiadaban, jangan beri kebiadaban balik, kalau mampu, beri dia keadilan sebagai belasan. Dalam tahanan di RTM tahun 1960 saya mendapatkan kata baru dari dunia kriminal: brengsek. Sekarang saya dapat kata baru pula: di-aman-kan, yang berarti: dianiaya, sama sekali tidak punya sangkut-paut dengan aman dan keamanan. Sebelum itu saya punya patokan cadangan bila orang bicara denganku: ambil paling banyak 50% dari omongannya sebagai benar. Sekarang saya mendapatkan tambahan patokan: Kalau yang berkuasa bilang A, itu berarti minus A. Apa boleh buat, pengalaman yang mengajarkan.

Di antara orang kesakitan di kiri dan kanan saya, di mana orang tidak bisa dan tidak boleh ditolong, terbayang kembali wartawan Afrika--saya sudah tidak ingat dari Mali, Ghana atau Pantai Gading--yang waktu naik mobil pertanyakan: Apa Nasakom itu mungkin? Apa itu bukan utopi? Saya jawab: di Indonesia diperlukan suatu jalan. Setiap waktu bom waktu kolonial bisa meletus. Itu kami tidak kehendaki. Nampaknya Nasakom sebagai kenyataan masih dalam pembinaan. Dia bilang: Kalau Nasakom gagal? Bukankah itu berarti punahnya pemerintah sipil, karena Nasakom tersapu? Jawabku: Kami hanya bisa berusaha. Dia bilang lagi: Kalau Nasakom disapu, tidak akan lagi ada kekuatan nasionalis, agama maupun komunis! Dialog selanjutnya saya sudah tak ingat.

Pagi itu-itu diawali kedatangan serombongan wartawan Antara, tanpa sepatu, semua lututnya berdarah. Di antaranya paman saya sendiri, R. Moedigdo, yang saya tumpangi hampir 3,5 tahun semasa pendudukan Jepang. Dia pun tak terkecuali. Kemudian saya dengar, mereka baru datang dari tangsi CPM Guntur dan habis dipaksa merangkak di atas kerikil jalanan. Menyusul datang power. Orang- orang militer melempar-lemparkan tangkapan baru itu dari atas geladak dan terbanting ke tanah. Ruangan telah penuh- sesak dengan tangkapan baru, sampai di gang-gang. Itu berarti semakin banyak erangan dan rintihan. Di antaranya terdapat sejumlah wanita. Sedang gaung dari pers yang menyokong militer sudah sejak belum ditang-kap, tak henti- hentinya menalu gendang untuk membangkitkan emosi rakyat terhadap PKI dan organisasi massanya: Gerwani di Lubangbuaya memotongi kemaluan para jendral dan melakukan tarian cabul dan semacamnya, tipikal buah pikiran orang yang tak pernah mempunyai cita-cita. Bulu kuduk berdiri bukan karena tak pernah menduga orang Indonesia bisa membuat kreasi begitu kejinya.

Kemudian datang waktu pemeriksaan. Saya dibawa ke ruang pemeriksaan, yang sepanjang jam, siang dan malam diisi oleh raungan dan pekikan. Juga dari mulut wanita. Memang ruang yang saya masuki waktu itu tidak seriuh biasanya. Alat-alat penyetrum tidak dikerahkan. Di pojokan seorang KKO bertampang Arab, hitam, tinggi dan langsing, dingan kaki bersepatu bot menginjak kaki telanjang yang diperiksanya. Dan di antara jari-jemari pemuda malang itu disisipi batang pensil dan tangan itu kemudian diremas si pemeriksa sambil tersenyum dan bertanya: Ada apa? Ada apa kok memekik? Di samping pemuda itu adalah saya, diperiksa oleh seorang letnan (atau kapten?) bernama Nusirwan Adil.

Di luar dugaan pemeriksaan terhadap saya tidak disertai penganiayaan seperti dideritakan pemuda malang di samping kiri saya. Pemeriksa itu tenang dan sopan, dan mungkin cukup terpelajar dan beradab. Ia memulai dengan pertanyaan mengapa saya berdarah-darah.

Jawab: terjatuh.

Tapi itu bukan termasuk dalam acara pemeriksaan. Pertanyaan: Bagaimana pendapat tentang gerakan Untung?

Jawab: tidak tahu sesuatu tentangnya.

Pertanyaan: Apa membenarkan gerakan itu?

Jawab: Kalau mendapat kesempatan mempelajari kenyataan- kenyataannya yang authentik mungkin dalam lima tahun sesudahnya saya akan bisa menjawab pertanyaan itu.

Sebelum meneruskan tentang pemeriksaan ini saya sisipkan dulu beberapa hal sebelum penangkapan saya. Pertama: sejak semula saya sependapat bahwa gerakan Untung, yang kemudian dinamai G-30S/PKI, adalah gerakan dalam tubuh angkatan darat sendiri. Pendapat itu tetap bertahan sampai sekarang, juga sebelum membaca tulisan Wertheim dalam Journal of Contemporary Asia. Berita-berita pengejaran dan pembunuhan semakin hari semakin banyak dan menekan. Kedua: seorang perwira intel pernah datang berkunjung khusus untuk menyampaikan, bahwa militer akan memainkan peranan kucing terhadap PKI sebagai tikus. Tiga: dua mahasiswa UI telah dilynch di jalanan raya yang baru dibangun, masih lengang, di sekitar kampus. Keempat: pemeriksaan terhadap para tangkapan berkisar pada dua hal, pertama keterlibatan dalam peristiwa Lubangbuaya, kedua keanggotaan Pemuda Rakyat dan PKI. Kelima: beberapa hari sebelum penangkapan seorang pegawai Balai Pustaka mengumumkan dalam harian Api Pancasila di Jakarta, bahwa saya adalah tokoh Pemuda Rakyat. Karena sebagai pelapor ia menyebutkan diri pegawai Balai Pustaka, jadi saya datang menemui direktur BP -- waktu itu Hutasuhut, kalau saya tidak salah ingat -- dan mengajukan protes karena BP dipergunakan sebagai benteng untuk menyebarkan informasi yang salah tentang saya. Direktur BP menolak protes saya. Pegawai yang menulis itu tinggal beberapa puluh langkah dari rumah saya. Dalam peristiwa plagiat Hamka ia pernah mengirimkan surat pembelaan untuk Hamka dan hanya sebagian daripadanya saya umumkan.

Dan memang ruangan rumah saya pernah dipinjam untuk pendirian ranting Pemuda Rakyat. Tetapi itu bukan satu- satunya. Kalau sore ruangan belakang juga menjadi tempat taman kanak-kanak (reportase tentangnya pernah ditulis oleh Valentin Ostrovsky, kalau saya tidak meleset mengingat). Setiap Kamis malam ruangan depan dipergunakan untuk tempat diskusi Grup diskusi Simpat Sembilan. Setiap pertemuan didahului dengan pemberitahuan pada kelurahan. Jadi tidak ada sesuatu yang dapat dituduhkan illegal.

Keenam: seseorang menyampaikan pada saya, mungkin juga pada sejumlah orang lagi, kalau diperiksa adakan anggota PKI atau ormasnya, akui saja ya--tidak peduli benar atau tidak; soalnya mereka tidak segan-segan membikin orang jadi invalid seumur hidup untuk menjadi tidak berguna bagi dirinya sendiri pun untuk sisa umurnya selanjutnya. Dan, tidak semua orang tsb., dapat saya sebut namanya, karena memang tidak mampu mengingat--hampir 20 tahun telah liwat.

Jadi waktu pemeriksa menanyakan apakah saya anggota PKI, saya jawab ya.

Pertanyaan: Apakah percaya negara ini akan jadi negara komunis?

Jawab: Tidak dalam 40 tahun ini.

Sebabnya?

Faktor geografi dan konservativitas Indonesia.

Cuma itu sesungguhnya isi pemeriksaan pokok. Tetapi karena selama dalam penahanan itu harian Duta Masyarakat memberitakan reportase tentang penyerbuan gerombolan itu ke rumah saya dan rumah S. Rukiah Kertapati, di mana disebutkan di rumah saya ditemukan buku-buku curian dari musium pusat dan di rumah Rukiah setumpuk permata, jadi pemeriksaan berpusat pada soal pencurian tsb. Memang saya pernah meminjam satu beca majalah, harian dan buku dari musium pusat. Yang belum saya kembalikan adalah Door Duisternis to Licht Kartini dan harian Medan Prijaji tahun 1911 dan 1912. Kalau arsip itu tersusun baik, akan bisa ditemu-kan, bahwa sumbangan saya ada 10 kali lebih banyak dari pada yang masih saya pinjam.

Dengan demikian pemeriksaan selesai. Benar-tidaknya omongan saya ini dapat dicek pada proces verbal, sekiranya masih tersimpan baik pada instansi yang berwenang.

Bila ada selisih, soalnya karena waktunya sudah terlalu lama.

Mungkin Bung bertanya dari mana saya tahu ada berita dalam Duta Masyarakat yang menuduh saya mencuri. Ya, pada suatu pagi muncul seorang kapten di ruang tempat serombongan tahanan. Ia langsung mengenali saya, sebaliknya saya mengenal dia sebagai sersan di RTM tahun 1960. Ia bertubuh tinggi, berkulit langsat dan bibir atasnya suwing. Saya tak dapat mengingat namanya. Suatu malam ia kunjungi aku di kamar kapalselam (sel isolasi) di RTM itu. Banyak mengobrol, antara lain ia bercerita pernah ikut pasukan merah dalam Peristiwa Madiun. Pagi itu ternyata ia berpangkat kapten. Langsung ia bertanya di mana Sjam. Itu untuk pertama kali saya dengar nama itu. Tapi ia segera membatalkan pertanyaanya dengan kata-kata: Ah, Pak Pram sastrawan, tentu tidak tahu siapa dia. Ramahnya luarbiasa, bawahannya diperintahkannya untuk mengambilkan kopi dan menyedia-kan veldbed untuk saya. Dan hanya perintah pertama yang dilaksanakan. Setelah ia pergi seorang sersan gemuk yang terkenal galak, dari Sulawesi, kalau tak salah ingat, juga seorang haji, memanggil saya dengan ramahnya dan menyuruh saya membaca Duta Masyarakat itu.

Nah Bung, setelah pemeriksaan satu rombongan dikirim ke CPM Guntur. Sebelum pergi saya minta pada Nusyirwan Adil untuk membebaskan adik saya, karena baru saja datang ke Indonesia untuk menyiapkan disertasinya. Ia luluskan permintaan saya, diketikkan surat pembebasan. Sebelum pergi ia saya titipi jam tangan saya, untuk dipergunakan belanja istri saya.

Di Guntur hanya untuk didaftar dan dirampas apa yang ada dalam kantong para tangkapan. Sepatu sampai sikatgigi dan ikatpinggang. Waktu itu baru saya sadari di dalam kantong saya masih tersimpan honorarium dari Res Publika dan pabrik pensil. Semua dirampas dengan alasan: nanti dalam tahanan agar tidak dicuri temannya. Dari guntur kami dibawa ke Salemba. Tangan tetap di atas tengkuk dan tubuh harus tertekuk, tidak boleh berdiri tegak, setinggi para penangkap. Dalam pelataran-pelataran penjara itu nama dibaca satu-persatu oleh seorang militer. Waktu sampai pada giliran saya ia berhenti dan berseru: Lho, Pak Pram, di sini ketemu lagi? Peltu (atau pelda) itu adalah pengawal bersepedamotor yang mengawal sebuah sedan biru-tua dalam bulan November 1960 dari Peperti Peganggsaan ke RTM Jl. Budi Utomo. Dalam sedan itu saya, setelah diminta "diwawancarai" oleh Sudharmono, mayor BC Hk. Dan peltu atau pelda di depanku Oktober 1965 itu adalah Rompis.

Sejak itu berkelanjutan perampasan hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak sipil saya selama hampir 20 tahun ini. Dan Bung Keith, tidak satu orang pun dari kaum manikebuis itu terkena lecet, tidak kehilangan satu lembar kertas pun. Sampai sekarang pun mereka masih tetap hidup dalam andaian, sekiranya kaum kiri menang. Dari menara andaian itu mereka menghalalkan segala: perampasan, penganiayaan, penghinaan, pembunuhan. Tetap hidup dalam kulit telur keamanan dan kebersihan, suci, anak baik-baik para orangtua, dan anak emas dewa kemenangan. Paling tidak sepuluh tahun lamanya saya melakukan kerjapaksa, mereka satu jam pun tidak pernah. Nampaknya mereka masih tidak rela melihat saya hidup keluar dari kesuraman. Waktu saya baru pulang dari Buru, banyak di antaranya yang memperlihatkan sikap manis. Bukan main. Tetapi setelah saya menerbitkan BM, wah, kembali muncul keberingasan.

Tentang A.K.M. sendiri pertama kali saya mengenalnya pada tahun 1946, di sebuah hotel di Garut. Ia tidak mengenal saya. Waktu itu saya sedang dalam sebuah missi militer. Ia datang ke hotel itu dan ngomong-ngomong dengan pemiliknya. Namanya tetap teringat, karena waktu itu ia redaktur majalah Gelombang Zaman yang terbit di Garut.

Pertemuan kedua ialah di Balai Pustaka, waktu ia masih jadi pegawai Balai Pustaka yang dikuasai oleh kekuasaan pendudukan Belanda. Setelah penyerahan kedaula-tan ia jadi sep saya dalam kantor yang sama--ya saya sebagai pegawai negeri dengan pengalaman semasa revolusi sama sekali tidak diakui, karena semua pegawainya bekas pegawai kekuasaan Belanda. Sewaktu ia hidup aman di Australia, ternyata ia masih dalam hidup dalam andaian, dan sebagaimana yang lain- lain tetap membiakkan pengalaman kecil-mengecil semasa Soekarno untuk jadi gabus apung dalam menyudutkan orang- orang semacam saya. Titik tolaknya tetap andaian. Semua tidak ada yang mencoba menghadapi saya secara berdepan, dari dulu sampai detik saya menulis ini.

Dalam pada itu yang dirampas dari saya sampai detik ini belum dikembalikan. Rumah saya diduduki oleh militer, dari sejak berpangkat kapten sampai mayor atau letkol, bahkan bagian belakang disewakan pada orang lain. Itu pun hanya rumah kampung, namun punya nilai spiritual bagi keluarga dan saya sendiri. Barangkali ada gunanya saya ceritakan.

Saya mendirikannya pada tahun 1958 bulan-bulan tua. pajak Honoraria seorang pengarang adalah 15 persen, langsung dipotong oleh penerbit. Waktu saya menyiarkan protes tentang tingginya pajak yang 15 persen, tidak lebih dari seminggu kemudian perdana menteri Djuanda menaikkannya jadi 20 persen, sama dengan pajak lotre. Maka juga pendirian rumah itu melalui ancang-ancang panjang. Kumpul-kumpul dulu kayu dari meter kubik pertama hingga sampai sepuluh dst. Saya merencanakan rumah berdinding bambu sesuai dengan kekuatan. Sepeda motor saya, BSA 500cc.--sepeda motor militer sebenarnya--juga dikurbankan. Tiba-tiba mertua lelaki datang dan mengecam: mengapa mesti bambu? Itu terlalu mahal biayanya. Menyusul perintah: tembok! Ternyata bukan asal perintah. Ia tinggalkan pada saya dua puluh ribu rupiah. Kalau sudah ada, kembalikan, katanya lagi. Maka jadilah rumah tembok yang terbagus di seluruh gang. Ternyata tidak sampai di situ ceritanya. Rekan-rekan yang tidak bisa mengerti, seorang pengarang bisa mendirikan rumah, mulai dengan desas-desusnya. Satu pihak mengatakan, saya telah kena sogok Rusia. ada yang mengatakan RRT. Teman-teman yang dekat mengatakan saya telah kena sogok Amerika. Orang tetap tidak percaya seorang pengarang bisa membangun rumah sendiri. Mereka lupa, dalam Bukan Pasar Malam telah saya janjikan pada ayah saya untuk memperbaiki rumah, dalam tahun pertama saya keluar dari penjara Belanda. yang saya lakukan lebih daripada apa yang saya janjikan, saya bangun baru, dan pada masanya adalah rumah terbagus di seluruh kompleks, sekali pun hanya berdinding kayu jati. (Sekarang memang jati lebih mahal dari tembok).

Kami sempat meninggali rumah kampung itu hanya sampai tahun 1965 atau 7 tahun. Orang yang tidak berhak justru selama hampir 20 tahun. Iseng-iseng pernah saya tanyakan; jawabnya seenaknya: apa bisa membuktikan rumah itu bukan pemberian partai? Habis sampai di situ. Pada yang lain mendapat jawaban: jual saja rumah itu, separohnya berikan pada penghuninya. Dan saya bilang: saya tidak ada prasangka orang yang menghuni rumah saya itu dari golongan pelacur. Walhasil sampai sekarang tetap begitu saja.

Baik, kaum manikebuis masih belum puas dengan segala yang saya alami. Saya sama sekali tidak punya sedikitpun perasaan dendam. Setiap dan semua pengala-man indrawi mau pun jiwai, bukan hanya sekedar modal, malah menjadi fondasi bagi seorang pengarang.

Apa yang dialamai A.K.M. semasa Soekarno masih belum apa-apa dibandingkan yang saya alami. Peristiwa Kemayoran? Pada 1958 sepulang dari Konferensi Pengarang A - A di Tasykent lewat Tiongkok saya tidak diperkenankan lewat Hongkong dan terpaksa lewat Mandalay, Burma. Artinya, dengan kesulitan tak terduga. Sampai di Rangoon pihak Kedutaan RI tidak mau membantu memecahkan kesulitan saya. Apa boleh buat, tidak ada jalan bagi saya daripada mengancam akan memanggil para wartawan Rangoon dan Jawatan Imigrasi Burma, memberikan pernyataan, bahwa ada kedutaan yang tak mau mengurus warganegaranya yang terdampar. Mereka terpaksa mengurus saya sampai tiba di Jakarta. Dari Rangoon kemudian datang surat yang menuntut macam-macam. Saya hanya menjawab dengan caci-maki dengan tembusan pada menteri luarnegeri, waktu itu Dr. Subandrio. Saya harap surat itu masih tersimpan dalam arsip. Peristiwa itu terjadi berdekatan dengan hari saya menghadap Bung Karno untuk menyerahkan dokumen keputusan Konferensi di samping juga bingkisan dari Ketua Dewan Menteri Uzbekistan, Syaraf Rasyidov, kepadanya, disaksikan oleh beberapa orang, diantara-nya Menteri Hanafi. Tak terduga dalam pertemuan itu terjadi sedikit pertikaian dengan Bung Karno. Ia memberi saya suatu instruksi dan saya menolak, karena sebagai pengarang saya punya porsi kerja sendiri. Pertikaian ini kemudian melarut, yang saya anggap wajar, sampai akhirnya atas perintah Nasution saya ditahan di RTM, kemudian ke tempat lebih keras di Cipinang, karena menentang PP 10. Hampir satu tahun dalam penjara, kemudian dilepaskan dalam satu rombongan dan dengan satu nafas dengan para pemberontak PRRI-Permesta sebagai hadiah terbebasnya Irian Barat. Pada hal tidak lebih dari 3 tahun sebelumnya Nasution itu-itu juga memberi saya surat penghargaan no. 0002 untuk bantuan pada angkatan perang dalam melawan PRRI di SumBar.

Penahanan 1960-61 itu merupakan pukulan pahit bagi saya. Bukan saya yang melakukan adalah kekuasaan Pemerintah saya sendiri. Juga sama sekali tidak ada setitik pun keadilan di dalamnya. Saya merasa hanya menuliskan apa yang saya anggap saya ketahui, dan berdasarkan padanya pendapat saya sendiri. Dengan nama jelas, lengkap. Alamat saya pun jelas, bukan seekor keong yang setiap waktu dapat memindahkan rumahnya. Saya membutuhkan pengadilan. Dan itu tidak diberikan kepada saya. Dalam isolasi ketat di Cipinang saya kirimkan surat pada Bung Karno melalui Ngadino, kemudian mengganti nama jadi Armunanto, kepala redaksi Bintang Timur dan anggota DPA. Surat itu bertujuan untuk mendapat hukuman yang justified, entah sebagai pengacau, entahlah sebagai penipu. Setidak-tidaknya bukan yang seperti sekarang. Ia tidak meneruskannya, dengan alasan ada orang lain menyimpan tembusannya. Orang itu adalah H.B. Jassin. Saya yakin surat itu masih tersimpan.

Dapat Bung bandingkan, bahwa andaian kesulitan semasa Soekarno masih tidak berarti dengan kenyataan kesulitan yang saya sendiri alami.

Saya heran, bahwa di dalam halaman 2 A.K.M. menyatakan keheranannya mengapa namanya dicoret dari daftar pencalonan Front Nasional. Terasa lucu dan naif, selama ia sendiri tidak punya kekuasaan untuk menentukannya. Katanya Lekra membakari bukunya? Saya baru tahu dari halaman itu. Mungkin Boen S. Oemarjati yang berhak memberi penjelasan.

Di halaman 3 alinea pertama terdapat kisah yang mengagumkan tentang Taslim Ali. Saya sering datang ke tempatnya di gedung perusahaan Intrabu. Jadi dalam gambaran saya orang yang "selalu menterornya dengan meletakkan pestol di atas meja" -nya itu adalah saya. Pramoedya Ananta Toer. Soalnya surat Goenawan Muhammad tertanggal 28 November 1980 pada Sumartana mengatakan (hlm.3): "Achdiat pernah bercerita, bahwa Pram pernah datang ke Balai Pustaka dengan meletakkan pistol di meja." Kapan itu terjadi? Pestol siapa? Siapa yang saya temui dan saya teror? Kiranya, kalau Goenawan tak berandai- andai, A.K.M. sendiri yang berhak menjawab. Dalam alam kemerdekaan nasional memang pernah saya bersenjata api. Suatu hari dalam 1958. Bukan pestol, tapi parabellum. Tempat: dalam sebuah jeep dalam perjalanan antara Bayah dengan Cikotok. Saksi: seorang letnan angkatan darat. Ia membutuhkan bantuan saya untuk menyelidiki benar- tidaknya ada boulyon-boulyon emas disembunyikan oleh Belanda sebelum meninggalkan Jawa pada 1942 di dasar tambang mas Cikotok, dengan kesimpulan, bahwa semua itu omong kosong belaka. Mengapa bersenjata? Karena sebelumnya sebuah kendaraan umum telah dicegat DI, dibakar. Dan bangkainya masih nongkrong di pinggir jalan. Sebagai pengarang saya masih lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik. Dan saya pun tidak pernah bisa diyakinkan ada orang datang untuk menteror Taslim Ali. Apa yang bisa didapatkan dari dia? Sebaiknya A.K.M. menyebut jelas siapa nama penteror itu.

Di halaman 5 tulisan A.K.M. alinea terbawah ditulis bahwa: "di depan rumahnya saya sempat menyusukan selembar 10 ribu rupiah ke dalam kepalannya. Dia agaknya begitu terharu, sehingga nampak matanya basah tergenang," dan "saya tahu Pram tentu butuh duit ketika itu." Memang agak janggal menampilkan saya saya semacam itu. Pada waktu itu saya tidak dapat dikatakan dalam kesulitan keuangan. Segera setelah pulang dari Buru sejumlah bekas tahanan Buru datang pada saya minta dibantu memecahkan kesulitan mereka mencari penghidupan. Memang pihak gereja telah banyak membantu, dan saya menghormati dan menghargai jasanya pada mereka dengan tulus. Tetapi selama status dan namanya bantuan barang tentu tidak mencukupi kebutuhan apalagi untuk keluarganya. Jadi saya dirikan sebuah PT pemborong bangunan, sebuah usaha yang bisa menampung banyak tenaga. Pada waktu A.K.M. datang ke rumah telah 36 orang ditampung, sebagian berkeluarga. Tidak kurang dari 5 rumah dikerjakan, di antara 2 rumah mewah. Ada di antara mereka menumpang ada saya. Usaha ini telah dapat memberi hidup (terakhir) 60 orang dengan keluarganya. Tapi kesulitan itu?

Beberapa kali datang intel, yang dengan lisan mengatakan, rumah saya jadi tempat berkumpul tapol. Beberapa orang dari kantor kotapraja memberi ultimatum untuk menyediakan uang sekian ratus ribu dalam sekian hari. Seseorang datang dan mengibar-ngibarkan kartu identitasnya sebagai intel Hankam. Seorang datang mengaku sebagai pegawai sospol Depdag dengan tambahan keterangan, teman-temannya orang Batak banyak, dan orang tidak selamanya waspada. Tak akan saya katakan apa maksud kedatangan mereka. Itu yang datang dari luar. Kesulitan dari dalam pun tak kalah banyaknya. Teman-teman bekas tapol rata-rata sudah surut tenaganya karena tua. Mereka belum terbiasa dengan teknik baru pembangunan rumah sekarang. Mereka tidak terbiasa dengan material baru dan pengerjaannya. Di samping itu kerjapaksa berbelas tahun tanpa imbalan tanpa penghargaan, setiap hari terancam hukuman, telah berhasil merusakkan mental sebagian dari mereka. Dalam pekerjaan yang mereka hadapi mereka tidak berbekal ketrampilan vak. Sedang impian berbelas tahun dalam posisinya sebagai budak-budak Firaun adalah terlalu indah. Seorang yang di Buru mempunyai setiakawan begitu tinggi dan diangkat jadi kepala kerja, kemudian lari membawa uang, dan bukan sedikit. Seorang yang relatif masih muda, suatu malam datang dengan membawa truk dan mengangkuti material bangunan yang telah tersedia dan menjualnya di tempat lain dengan harga rendah untuk dirinya sendiri. Seorang lagi yang juga tergolong muda, sama sekali tanpa ketrampilan tukang, mendadak mengorganisasi pemogokan dengan tuntutan berlipat dari hasil kerjanya. Pick-up Luv Chevrolet, sumbangan teman- teman Savitri, dalam 3 bulan sudah berban gundul dan penyok-penyok.

Pukulan lain yang tak kurang menyulitkan datang. Memang sudah diselesaikan sekitar 8 rumah dengan keadaan seperti itu. Kemudian dua di antara yang dibangunkan rumahnya tidak mau melunasi kewajibannya, mengetahui kedudukan hukum kami lemah. Berkali-kali Savitri minta pertanggungjawaban atas bantuan teman-temannya yang diberikan. Saya tak mampu lakukan itu. Tidak lain dari saya sendiri yang akan merasa malu, dan semua harus saya telan sendiri. Akhirnya saya perintahkan pembubaran PT itu tanpa pernah memberikan pertanggungjawaban pada teman- teman Savitri.

Nah Bung, seperti itu situasi waktu terima selembar sepuluh ribu itu, yang sama sekali tidak pernah saya kira akan dipergunakan oleh A.K.M. untuk memperindah gambaran tentang dirinya. Semua kebaikan tidak akan sia-sia memang bila tidak berpamrih. Dengan pamrih pun tentu saja tidak mengapa, sejauh setiap tindak manusia yang sadar pasti mempunyai motif. Tetapi bila pemberian dipergunakan sebagai investasi, yang setiap waktu dikutip ribanya, sekalipun hanya riba moril, itu memang betul-betul investasi, bukan pemberian. Dan siapa di dunia ini tidak pernah menerima? Waktu saya baru datang dari Buru dan sejumlah orang yang datang hanya untuk bersumbang. Jumlahnya dari 60 sampai 100 ribu, di antaranya 3 mesin tulis, yang tiga-tiganya langsung diteruskan untuk tapol yang lebih memerlukan. Demikian juga halnya dengan uang pemberian. Saya pribadi praktis tidak ada uang dalam kantong. Itu akan kelihatan bila berada di luar rumah. Di Buru pun ada sejumlah pemberi, dari lingkungan dalam dan luar tapol, dari satu sampai sepuluh ribu. Dalam keadaan sulit di Buru pun orang normal tidak bisa tinggal jadi penerima saja. Terutama pihak gereja Katholik pernah memberi keperluan tulis-menulis saya setiap bulan. Bahkan pernah saya terima 2 kali berturut satu kardus besar berisi kacamata, dan pakaian untuk saya pribadi. (Sampai sekarang saya simpan.) Maksud saya hanya untuk menerangkan, pada bangsa-bangsa terkebelakang, atau menurut redaksi baru bangsa-bangsa yang berkembang, memberi adalah keluarbiasaan dan menerima adalah kebiasaan yang perlu dinyatakan.

Jangan dikira saya menulis demikian dengan emosi. Tidak. Suatu dialog bagi saya tetap lebih menyenangkan daripada monolog. Setidak-tidaknya dialog adalah pencerminan jiwa demokratis. Tetapi ucapan all forgiven and forgotten atau we've forgiven but not forgotten, benar - benar produk megalomaniak yang disebabkan mendadak bisa melesat dari kompleks inferiornya, bukan karena kekuatan dalam, tapi luar dirinya.

Tentang Pancasila di hlm. 6, saya takkan banyak bicara kecuali menyarankan untuk membuka-buka kembali pers Indonesia semasa Soekarno, khususnya sekitar sebab mengapa presiden RI membubarkan konstituante itu. Golongan mana yang menolak dan mana yang menerima Pancasila sebelum dapat interpretasi atau pun revisi, formal ataupun non- formal.

Dalam hubungan ini saya teringat pada ucapan Nyoto, kalau tidak salah di alun-alun Klaten pada tahun 1964, bahwa nampak ada kecenderungan pada suatu golongan masyarakat (saya takkan mungkin mampu mereproduksi redaksinya) yang membaca kalimat-kalimat Pancasila menjadi: Satu, Ketuhanan yang Maha Esa; Dua, Ketuhanan yang Maha Esa; Tiga, Ketuhanan yang Maha Esa; Empat, Ketuhanan yang Maha Esa; dan Lima, Ketuhanan yang Maha Esa. Dia tidak dalam keadaan bergurau.

Selama 14 tahun dalam tahanan ucapan Nyoto bukan saja menjadi kebenaran, lebih dari itu. Dakwah-dakwah yang diberikan, atau lebih tepatnya dengan istilah orde baru santiaji, orang tidak menyinggung sila-sila lain sesudah sila pertama, kalau menyinggung pun hanya sekedar penyumbat botol kosong: beragama dan tidak beragama berarti sembahyang. Tidak bersembahyang berarti tidak pancasilais, bisa juga anti-pancasila. Ya, buntut panjang itu rupanya diperlukan untuk menter-jemahkan alam pikiran formalis Pribumi Indonesia, tidak mampu membebaskan diri dari lambang-lambang, upacara, hari peringatan, pangkat dan tanda-tandanya--dan bagi suku Jawa cukup lengkap di dideretkan dalam sastra wayang.

Berdasarkan pengalaman sendiri saya dapat katakan: Revolusi Indonesia tidak digerakkan oleh Pancasila; ia digerakkan oleh patriotisme dan nasionalisme. Baru pada 1946 saya pernah mendapat tugas untuk memberi penerangan tentang Pancasila dan PBB kepada pasukan. Selanjutnya tetap tidak ada pertautan antara Pancasila dengan Revolusi.

Saya menghormati pandangan A.K.M. tentang Pancasila yang ia yakini, sekali pun dengan Pancasila itu juga orang- orang sejenis kami di-buru-kan sampai 10 tahun, dan A.K.M. tidak pernah melakukan sesuatu protes. Dan pertanyaan kemudian, apakah ia tetap berpandangan demikian--artinya tak perlu melaksanakannya dalam praktek--pada waktu kepentingan dan keselamatan jiwanya terancam? Bicara di lingkungan aman memang lebih mudah untuk siapapun, dan: tanpa pembuktian. Dalam hubungan Pancasila dengan demokrasi barat di hlm. 7 sebagai pesan A.K.M. pada rekan-rekannya sarjana Australia saya mempunyai kisah.

Pada 1984, Mr. Moh. Roem terkena serangan jantung dan dirawat di RSCM. Seorang dokter menjemput saya, mengatakan, Pak Roem menginginkan kedatangan saya. Saya tak pernah mengkaji apakah itu keinginan Pak Roem atau ambisi si dokter itu saja. Langsung saya berangkat bersama dengannya. Di ruang itu Pak Roem tidur dalam keadaan masih dihubungkan pada alat pengontrol jantung. Penjemput saya langsung menemani perawat sehingga hanya kami berdua di situ tanpa saksi. Menghadapi orang dalam keadaan gawat tentu saja saya tidak bicara apa-apa. hanya beliau yang bicara sampai lelah, sebagai pertanda saya harus mengundurkan diri untuk menghemat tenaga yang beliau perlukan sendiri. Terlalu banyak yang disampaikannya pada saya untuk orang dalam keadaan gawat seperti itu. Satu hal yang berhubungan dengan Pancasila dan demokrasi Barat, dan beliau sebagai ahli hukum, adalah: 50 + 1? Ya, biar begitu perlu dipertimbangkan dengan adil, tidak seperti selama ini dinilai. Dalam sejarah kita telah dibuktikan, bahwa kesatuan Indonesia terwujud hanya karena demokrasi parlementer Barat.

Nah, Bung Keith, inti persoalan dengan kaum manikebu cukup jelas: saya menggunakan hak saya sebagai warganegara Indonesia, hak yang juga ada pada kaum manikebu. Omong kosong bila dikatakan pada waktu itu mereka tak punya media untuk menerbitkan sanggahan. Waktu sekarang, waktu secara formal hak sanggah melalui mass media tidak ada, saya tetap menyanggah dengan berbagai cara yang mungkin, kalau memang ada yang perlu disanggah. Sedang ucapan Pak Roem tsb., ternyata adalah pesan politik terakhir. Beberapa minggu kemudian beliau meninggal dunia.

Saya belum selesai. Masih ada satu hal yang perlu disampaikan, hanya di luar hubungan dengan surat terbuka Achdiat K. Mihardja.

Tak lama setelah pertemuan kita terakhir saya menerima surat dari M.L., yang intinya tepat suatu jawaban terhadap saya. Tentu saja saya mendapat kesan kuat, pembicaraan kita Bung teruskan padanya. Terima kasih, bahwa hal-hal yang tidak jelas sudah dibikin terang olehnya.

Untuk tidak keliru membikin estimate tentang saya dalam persoalan khusus ataupun umum ada manfaatnya saya sampaikan bahwa saya menyetujui kehidupan bipoler. Saya membenarkan adanya dua superpower, bukan saja sebagai kenyataan, juga sebagai pernyataan makro nurani politik ummat manusia. Kalau hanya ada satu superpower akibatnya seluruh dunia akan jadi bebeknya. Dua superpower mewakili kekuatan ya dan kekuatan tidak, kekuasaan dan opposisi. Dalam tingkat nasional saya menyetujui kehidupan bipoler. Ada kekuasaan ada opposisi. Kalau tidak, rakyat akan jadi bebek pengambang, dengan kepribadian tidak berkembang. Demokrasi dengan opposisi adalah juga pernyataan makro nurani politik nasional. Dia adalah juga pencerminan mikro nurani pribadi manusia, yang tindakannya ditentukan oleh ya atau tidak. Hewan dengan serba naluri tak memerlukan nurani. Ia tak mengenal ya ataupun tidak.

Semoga surat kelewat panjang ini--lebih tepat usaha pendokumentasian diri sendiri--ada manfaatnya. Saya tidak ada keberatan bila diperbanyak.

Salam pada semua yang saya kenal, juga pada M.L. dan Savitri yang pernah saya kecewakan.

Belakangan ini kesehatan saya agak membaik. Soalnya saya menggunakan ramuan tradisional yang ternyata mengagumkan. Dengan pengamatan melalui tes urine dengan benedict kadar gula yang positif dalam 24 jam dapat menjadi negatif, yang tidak dapat saya peroleh melalui sport dan kerja badan selama 2 minggu.

Salam hangat untuk Bung sendiri dan keluarga.

Tetap

(tanda tangan).

Pramoedya Ananta Toer

Sumber: Demi Demokrasi 2 (1985)

*********** 0 0 0 0 0 0 **************

Membangkit Batang Terendam

Menebus Kembali Sejarah Puisi Indonesia

Oleh: Alex Supartono

Judul: Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil .

Tim Penyunting: Asahan Alham, Mawie Ananta Jonie, A. Kohar Ibrahim, Carra Ella Ouwman, Sobron Aidit, dan Hersri Setiawan

Penerbit: Amanah Lontar (Jakarta) bekerja sama dengan Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (Amsterdam), tahun 2002

Jumlah halaman: xiv + 253 halaman

ASAHAN Alham (dulu Asahan Aidit), adik bungsu Ketua CC PKI terakhir Dipa Nusantara Aidit, dikirim belajar ke Moskwa tahun 1961. Ia lulus tahun 1966. Nama Aidit yang dia sandang menghentikan langkahnya pulang. Ia memilih tinggal melanjutkan studi di Moskwa. Perpecahan dalam Gerakan Komunis Internasional antara garis Moskwa dan garis Peking memuncak, dan orang-orang Indonesia di negara-negara ini terseret ke dalamnya.

Asahan mengambil jalannya sendiri: pindah ke Vietnam untuk melanjutkan sekolah. Perang menuntun Asahan bergabung dengan pejuang pembebasan Vietkong sambil kuliah dari satu goa ke goa lain dan bermain biola dalam ensamble pasukan seksi penghibur. Tahun 1978 ia mempertahankan disertasinya dalam bahasa Vietnam. Ia menikah dengan seorang perempuan Vietnam dan memiliki seorang putra. Enam tahun kemudian, mereka berpindah mukim ke Belanda, sampai sekarang.

Kisah Asahan cuma satu di antara cerita perjalanan para eksil Indonesia yang berusaha direkam dalam kumpulan puisi ini. Babak demi babak hidup mereka mengalir searus perubahan politik internasional sampai sekarang. Sebagian besar kini melabuhkan diri di Swedia, Jerman, Belgia, Perancis, bahkan Belanda, walau dengan dada yang sesak tersumbat (A. Kembara, Kehadiran, hlm 5).

Ketidakpastian arah perjalanan mereka setelah Tragedi 1965 di Indonesia, melahir-kan persahabatan, juga perselisihan. Perpecahan antara garis Moskwa dan garis Peking mempengaruhi hubungan eksil Indonesia di kedua tempat ini. Banyak perselisihan yang tak lekang dimakan zaman, beberapa malah membawanya ke liang lahat. Ada juga yang sebaliknya, seperti kata Satyadharma dalam Salaman (hlm 207), “menertawakan pertengkaran sebagai kebodohan masa lalu”. Bait-bait yang terkumpul dalam kusajak (begitulah mereka menyebut “kumpulan sajak”) ini adalah catatan sebuah persahabatan yang tumbuh mengatasi permusuhan yang berkembang di komunitas mereka. Asahan yang dari Moskwa, bersama Mawie yang dari Peking dan Hersri yang sempat mengecap pembuangan tahanan politik Pulau Buru bersama penyair lainnya ketemu dan membangun Kreasi dan Arena-dua jurnal sastra-yang mereka terbitkan dengan kerja keras dan dedikasi purna

Bersama-sama para penyair ini berusaha saling mendukung usaha mencipta. Bila kondisi kantung dan kesehatan mengizinkan dan urusan kerja bisa ditinggalkan, mereka berkumpul di salah satu rumah untuk saling mendengarkan karya dan berdiskusi. Seperti cerita Mawie dalam Baca Sajak Tutup Tahun (hlm 139) “Agam baca sajak tentang mati, Asahan baca puisi tentang kenangan pada dara, Hersri bicara tentang Jitske dan aku baca sebuah surat musim bunga”. Sesekali kesempatan ini mereka pakai sebagai tempat berkumpul dengan kawan-kawan lama yang kebetulan sedang melawat ke Eropa seperti saat mereka menjamu Pramoedya Ananta Toer dan rombongannya.

Walau hampir semua dari mereka menguasai beberapa bahasa, mereka tetap menulis semua karyanya dalam bahasa Indonesia. Lebih dari itu, kebanyakan karya mereka sepertinya ditulis hanya untuk orang Indonesia dan tentang Indonesia, baik dalam kenangan, perjuangan, ideal, juga impian. Dengan “bahan baku” seadanya dari pemberitaan media massa yang keberpihakan pemberitaannya sering jadi hambatan untuk merasakan apa yang tumbuh di tengah semua gejolak yang terjadi di Tanah Air, mereka tidak peduli. Mereka seolah abai dengan tahunan hidup di Rusia, Cina, Vietnam, Jerman, Ceko, Hongaria, Perancis, Belanda, Swedia, Albania, dan Kuba. Bumi yang mereka injak, tak lebih dari seka-dar sampiran. Karakteristik menonjol eksil Indonesia, dan penulis-penulisnya, adalah keterpakuan mereka pada Tanah Air, yang pada gilirannya menjadi semacam pagar kreativitas.

***

SOAL ini mungkin bisa sedikit terjelaskan kalau ditoleh latar sejarah mereka menjadi eksil. Saat peristiwa tahun 1965 terjadi, mereka sedang berada di luar negeri dengan berbagai tujuan, mulai dari tugas belajar, anggota sekretariat organisasi internasional, sampai menjadi delegasi suatu perayaan. Informasi yang simpang siur, identifikasi diri dengan ide-ide kiri yang sedang ditumpas kelor di Tanah Air, membuat mereka harus menunda kepulangan. Penundaan terus berlanjut seturut makin digdayanya penguasa baru. Pokok penting di sini adalah perkara “penundaan kepulangan”, karena di atas kesadaran inilah semuanya mereka bangun. Sampai akhir tahun 1980-an, kewarganegaraan Indonesia enggan mereka lepaskan. Mereka memilih berstatus pengungsian politik daripada harus berganti kewarganegaraan, dengan keyakinan suatu saat akan pulang. Anjak usia senja jualah kemudian yang berhasil memaksa mereka berganti kewarganegaraan, sebagai syarat mendapat pensiun. Sekarang ketika kesempatan pulang datang, usia pula yang menghambat untuk mulai membiasakan lagi jongkok di toilet dan uang pensiun yang tidak bisa dikirim ke Tanah Air.

Dalam dunia tulis-menulis, latar di atas tentu saja berbicara banyak. Tidak ada dorongan bagi mereka belajar bahasa setempat untuk kebutuhan menulis, karena “toh akan pulang”. Tak mengherankan kalau dalam pengantar singkat buku ini, Asahan Alham memaparkan kesulitan mengumpulkan puisi dengan tema kehidupan di pengasingan. Akhirnya yang terkumpul adalah tema-tema yang menunjukkan bahwa mereka adalah penulis eksil: kampung halaman, kegelisahan melihat situasi politik Tanah Air, perjalanan tanpa tujuan dan akhir, atau kabar kepada sahabat di Tanah Air. Mereka berkarya dengan kesadaran sebagai orang yang sedang berada di luar negeri, bukan tinggal. Memori dan kabar dari Tanah Air lebih dominan sebagai sumber inspirasi dari pada keseharian nyata di negeri orang. Ingatan adalah satu-satunya tempat identitas bisa mereka jangkarkan karena secara legal mereka kini bukan orang Indonesia lagi dan komunitas Indonesia yang “resmi” berada di luar negeri pun menolak mengakui mereka. Harta mereka adalah “cermin sekeping” (Soepriadi Tomodihardjo, Cermin di Dinding, hlm 187) yang sekali waktu memantul-kan bayang nenek moyang yang tak lagi bisa mereka akui tanpa rasa getir.

***

PARA penulis eksil adalah generasi yang tumbuh ketika “Indonesia” adalah suatu tanda kemenangan dan identitas baru. Semua penulis memiliki idealnya sendiri tentang Indonesia dan itu yang mereka tunjukkan dalam karya-karyanya, entah dalam wujud nasihat atau rasa bangga akan generasi muda, ataupun kesedihan mendapati kondisi Indonesia yang betul-betul lain ketika mereka berhasil pulang untuk menengoknya kembali. Indonesia yang ada di pikiran adalah kampung halaman dengan sanak saudara yang ramah, bukan parade kaya-miskin dengan jurang sedalam perut bumi.

Kekhususan penulis eksil ada pada bagaimana kesadaran mereka yang khusus itu terepresentasikan dalam karya. Apakah itu menjadi propagandis yang verbal atau haru-biru yang cengeng, Apakah itu sastra tinggi atau sastra maki-maki, Apakah itu mengkhianati kaul dua tinggi (tinggi mutu ideologis dan tinggi mutu estetis) yang pernah mereka sumpahkan sebagai garis demarkasi kualitas karya seni, itulah sastra eksil Indonesia, yang adalah bagian sejarah sastra Indonesia. Bukan untuk berkilah soal pertanggungjawaban kualitas, seperti yang dimintakan Asahan dalam pengantar: “Tanpa menyadari kekhususan seniman eksil, karya-karya mereka akan mudah diremehkan orang” (hlm xi).

Pembicaraan tentang isi dan mutu mengandaikan adanya pencatatan dan dokumentasi, bukan saja tentang karya, tapi juga mengenai riwayat kehidupan mereka. Sayang sekali tujuan perekaman ini belum bisa terpenuhi oleh buku ini. Selain banyaknya kesalahan penulisan nama yang cukup mengganggu, kefatalan lain adalah sajak-sajak yang ditampilkan tidak dicantumi tahun dan tempat mereka ditulis. Padahal karya-karya ini adalah pantulan keadaan politik internasional dan nasional yang mengubah hidup mereka orang seorang. Sebenarnya pokok tersebut bisa dikejar di kata pengantar, di mana paling tidak konteks ruang dan waktu lebih kurang bisa dipaparkan. Namun, pendahuluan yang ditulis Asahan Alham masih sibuk menjelaskan akibat tanpa menerangkan sebab, sehingga terkesan apologetis. Di luar cacat-cacat itu, selebihnya buku ini benar-benar prima, mulai dari fisik material (kualitas cetak, jenis kertas, penjilidan) sampai sistematika (ada indeks judul dan indeks baris pertama).

Selama tinggal di Uni Soviet atau RRC, para penulis ini sangat miskin informasi tentang dunia luar. Akses mereka terhadap komunikasi dan informasi hanya mungkin tersedia dengan seizin pemerintah setempat. Keadaan ini berubah total ketika mereka pindah ke Eropa Barat pada paruh pertama tahun 1970-an. Apa yang ditulis A Kohar Ibrahim tentang perjalanannya naik kereta api membelah benua Eropa dalam Transit dan Pemeriksaan (hlm 24-25) mustahil dipahami tanpa mengingat konteks tempat dan waktu sajak-sajak itu diciptakan. Juga catatannya tentang pesan Utuy Tatang Sontani yang sering mengamati Kohar dan kawan-kawannya mengelola koran dinding di Nanchang, RRC. Pencantuman tahun juga memungkinkan sajak-sajak yang dikumpulkan diatur dalam urutan yang memungkinkan pembaca melihat naik turunnya hidup si penyair dan menjelaskan mengapa, misalnya, sajak Asahan Alham berjudul Kenangan Kelabu, 1970 diletakkan lebih dahulu daripada Desa Can Huu Ha Tay, 1968. Karya-karya periode awal eksil Indonesia hingga akhir tahun 1960-an biasanya disiarkan dalam berbagai berkala yang dibiayai (dan diawasi) pemerintah setempat (Suara Rakyat Indonesia di Tiongkok, Tekad Rakyat di Uni Sovyet, API di Albania), sehingga tidak mengherankan kalau isinya pun selalu seragam: kesetiaan pada ideologi komunis atau makian pada imperialis. Tapi, ada juga berkala sempalan yang berusaha independen, yang sayangnya berumur pendek dan ruang kebudayaannya sangat sedikit. Ketika mereka mulai eksodus ke Eropa Barat, kondisi keuanganlah yang jadi pembatas. Kebanyakan karya mereka kumpulkan sendiri, diperbanyak dengan fotokopi, sebatas kemampuan kocek penulis dan kawan-kawannya.

Kadang ada karya yang bisa sampai ke Tanah Air melalui berbagai jalur klandestin, dan beredar di kalangan terbatas dari tangan ke tangan. Si empu dan khalayaknya ditalikan oleh solidaritas yang bisa jadi adalah romantisme, sedikit urusannya dengan estetika. Penulis eksil waktu itu adalah paria, bagian sebuah perjalanan sejarah yang disumputkan. Sekarang si paria menjadi si anak hilang, sedikit demi sedikit diangkat ke permukaan, pertanda songkok yang menutupi periode yang menyakitkan itu mulai dibuka dan luka itu mulai diakui, kalau mungkin coba disembuhkan. Seperti “membangkit batang terendam”, penerbitan buku ini seperti menebus pusaka yang pernah digadaikan sejarah.

***

PENERBITAN buku ini adalah bagian dari kerja penyembuhan itu, seperti juga penerbitan karya penulis eksil yang dilakukan dalam setahun terakhir ini. Lantas diteruskan dengan pencatatan-pencatatan lain yang sudah lama menunggu, agar kita bisa tahu tentang apa yang terjadi dengan nama-nama mentereng di era tahun 1950-an dan 1960-an yang tak akan pernah kembali seperti: Utuy Tatang Sontani (meninggal di Moskwa, 17 September 1979), Suparna Sastra Diredja (meninggal di Amsterdam 1996), Basuki Resobowo (Amsterdam 1998), wartawan senior Suryono (Amsterdam 2000), Noor Djaman, Edi Supusepa, Emha, dan masih banyak yang lain.

Pencatatan tentang fenomena eksil Indonesia juga bisa jadi seperti mengumpulkan mutiara yang hilang. Kebanyakan eksil Indonesia adalah orang-orang pilihan pada jamannya, yang dikirim untuk tugas belajar oleh pemerintahan Soekarno. Mereka sekarang adalah peneliti, dokter spesialis transplantasi alat reproduksi laki-laki, ahli metalurgi, ahli kimia pertanian, atau pencipta kurikulum pendidikan untuk anak yang menderita kelainan yang diakui keahliannya di tempatnya berada. Buku ini seharusnya juga menjadi sebuah mula untuk terus mencatat banyak yang tersisa. Sehingga kita paling tidak tahu, bahwa ahli atom nomor satu Hongaria sekarang, yang mewakili Hongaria di Komisi Bom Hidrogen Eropa dan yang membangun banyak reaktor atom di negara-negara di Afrika Utara, bernama IGA Asrama Manuaba, putra Bali yang dikirim Soekarno belajar ke sana 40 tahun lalu.

Alex Supartono dan Lisabona Rahman, Anggota Tim Penelitian Komunitas, Pers, dan Sastra Eksil Indonesia

Sumber: KREASI No6/2002

*************** 0 0 0 0 0 0******************

Orde Baru, Candu bagi Penguasa

Oleh . Haryo Sasongko

Karl Marx, bapak komunisme, filsuf politik Jerman itu mengatakan, agama adalah candu bagi rakyat (religion is the opium of the people). Raymound Aron, wartawan dan ahli filsafat politik Prancis mengatakan, marxisme adalah candu dari kaum intelektual (Marxism is the opium of the intellectuals). Dia juga mengatakan, kalau candu Kristen membuat orang bersikap pasif, candu komunis mendorong orang berevolusi (the Christian opium, makes the people passive. Communist opium, incites them to revolt).

Edgar Snow, penulis Amerika mengatakan, di Rusia agama adalah candu bagi rakyat. Di Cina, candu adalah agama bagi rakyat.. Untuk rakyat Indonesia, Orde Baru adalah candu bagi penguasa. Penguasa yang mana? Tentu saja penguasa yang resminya bukan Orde Baru, tetapi tidak resminya meneruskan politik Orde Baru. Mereka yang berkuasa setelah Bapak Orde Baru tumbang selalu menyebut dirinya "bukan Orde Baru" tetapi di dalam otaknya, juga penalarannya, tetaplah Orde Baru. Karena otak dan nalar mereka memang sudah dipenuhi candu warisan Bapak Pembangunan .

Sebagai akibatnya, era Reformasi sesungguhnya merupakan era Orde Baru yang dibarukan kembali. Suatu proses daur ulang politik dari serpihak-serpihan sampah yang bukan hanya tak berguna tetapi juga mengandung banyak virus yang kemudian disajikan kembali ke tengah rakyat berupa politik lama kemasan baru yang tak sesuai dengan cita-cita Reformasi. Tidaklah aneh bila di masa Reformasi stigmatisasi terhadap sesama anak bangsa masih melestarikan stigmatisasi yang telah dicanangkan oleh penguasa Orde Baru. Ini terlihat bukan saja pers mulai kembali kehilangan kebebasannya, suara kalangan mahasiswa kembali dibungkam, tetapi sejarah yang berlumuran darah di masa Orde Baru juga tetap menjadi sejarah berlumuran dendam di masa Reformasi.

Contoh konkrit adalah para korban stigma "pemberontakan PKI" yang selama era Reformasi selalu menemui jalan buntu untuk mendapatkan kembali hak perdatanya, serta dipulihkan martabat dan hak sosialnya sebagai warganegara Indonesia. Mereka yang telah kehilangan segala-galanya selama berada di bawah pemerintahan otoriter rezim Orde Baru, tak dapat memperoleh kembali sebagian kecil, apalagi semua yang hilang itu. Mereka juga masih tetap dihalangi untuk mempergunakan hak politiknya, apalagi yang berkait dengan wilayah legislatif. Karena itu tetap terjadi penolakan terhadap mereka (dan keluarganya) untuk menjadi caleg dengan berbagai alasan, antara lain mengkhawatirkan akan terjadinya "pemberontakan PKI" lagi. Kenapa ada kata "lagi", sementara bukti-bukti sejarah justru semakin kuat membuktikan tidak pernah terjadi "pemberontakan PKI". Siapa yang sebenarnya menyiapkan pemberontakan untuk kemudian merebut kekuasaan dari tangan Presiden Soekarno pada tahun 1965 dan terlaksana sejak keluarnya Supersemar?

Komunisme, dipandang sebagai candu yang dikawatirkan akan meracuni otak dan nalar rakyat. Padahal yang terjadi, para penguasalah yang otak dan nalarnya telah kecanduan politik stigmatisasi takut pada hantu komunis. Ideologi yang sebagai dasar sistem pemerintahan di berbagai belahan bumi ini telah tumbang secara mondial. Orang yang dihantui ketakutan terhadap sesuatu yang sudah tidak ada, itulah orang yang otak dan nalarnya telah dipasung oleh candu. Usulan pencabutan TAP MPRS XXX/66 diinterpretasikan sebagai "kebangkitan kembali PKI". Class Action untuk mendapatkan kembali hak perdatanya, diterjemahkan sebagai "Mau menghidupkan kembali komunisme". Ya, semua hidup ketakutan pada hantu yang tak pernah dilihatnya.

Karena itu, di sepanjang jalan yang melintasi beberapa kota (antara lain di Jawa Tengah bagian selatan), masih bertebaran spanduk bertuliskan "Waspadai Bahaya Laten Komunis". Kenapa tidak ada spanduk "Waspadai Bahaya Laten Orde Baru"? Padahal justru inilah candu yang benar-benar berbahaya, yang akan memasung kembali hak-hak rakyat yang telah terjadi selama Orde Baru berkuasa.

Atau, inilah mungkin bukti nyata bahwa para penguasa di era Reformasi tak lebih dari kepanjangan tangan kepentingan politik Orde Baru? Pemimpin Orde Baru boleh lengser, tetapi penerus mereka hanya langsir untuk kembali . Dan di era Reformasi ini, semua sudah menjadi nyata. Di masa Orde Baru, kebenaran telah dimanipulasi oleh kekuasaan. Di masa Reformasi, kekuasaan telah memanipulasi kebenaran. Lain kalimatnya, sama hakekatnya. Mengutip judul sinetron yang ditayangkan di layar televisi: "Awas di Sini ada Setan!" Banyak yang menonton, tetapi tak ada yang menemukan di mana gerangan si setan berada, kecuali hanya dalam khayalan.

 

*************** 0 0 0 0 0 0******************

ASAHAN ALHAM AIDIT:

Roman Memoar

"ALHAMDULILLAH"

III (15)

tanah Pemukiman

Moskow - 1965 – Peking

Dari R, saya menerima secarik kertas yang pengirimnya adalah tante Annie. Kata awalnya terasa agak lucu: "Beste Sulaiman Divendal". Saya telah diberi marga oleh tante Annie, orang yang saya tumpangi. Apakah ini satu sinyal dari tante bahwa saya sudah harus memikirkan sebuah nama famili buatan karena tante Annie dan teman-temannya telah mulai memikirkan soal naturalisasi saya, setelah mendapat izin tinggal resmi, yang mereka bilang itu sangat perlu agar saya bisa merambat secara kuat dan dilindungi hukum di pemukiman yang akan saya jadikan tanah air ke dua ini. Tapi isi surat, cumalah meminta agar saya datang ke Haarlem, ke rumah beliau untuk mengambil sepeda yang telah beliau beli untuk saya pakai. Tante Annie memang selalu memikirkan semua keperluan saya yang saya sendiri bahkan tak terpikirkan.

Di satu permulaan musim gugur yang berangin dan kelabu saya berangkat dengan sebuah bus menuju kota Haarlem. Ketika akan memasuki kota Haarlem, ada sebuah hutan atau taman hutan yang saya lalui. Dedaunan mulai berguguran dan bertukar warna. Saya lalu teringat akan sajak-sajak Pushkin. Dia seorang penyair Rusia pemuja musim gugur yang digambarkanya sebagai pesta warna dedaunan yang berjatuhan ke bumi diiringi symphonie alam bersuasana puitis dan melankolik. Di kantong saya ada sebuah Walkman I, anak R yang sedang memutar konsert 4 musimnya Antonio Vivaldi. Musim gugur Belanda memang tidak seindah musim gugur Rusia dan bahkan tidak seenak musim gugurnya Rusia, memang. Tapi saya lebih merasakan suasana puitis alam Belanda di musum gugur. Mungkin oleh Vivaldi yang telah becampur dengan anak bini saya di dalamnya yang masih di luar keberadaan mereka di tengah saya. Saya lalu mematikan walkman saya ,karena sudah terasa gejala serangan melankolik yang bagaikan seorang diabetik dalam situasi hypoglucose yang memerlukan gula, lemah lunglai yang ahirnya lumpuh.

Setibanya di rumah tante Annie, di tangga masuk ke atas, sudah saya lihat sebuah sepeda yang akan saya terima nanti itu. Tidak baru, tapi dan saya menyenanginya. Kami ngobrol bertiga, dengan Oom, yang tampak lebih tua dari tante Annie, bertubuh tinggi dan masih aktif mengitari kota Haarlem dengan Brommer-nya. Tapi kehadiran Oom tidak lama dan segera dia permisi naik ke atas meninggalkan kami berdua, seolah dia tahu, tante Annie hanya untuk saya, setiap saya datang ke rumah mereka.

- "Hei, Sulai, apa yang kau ketahui tentang "Biro Khusus " dalam tubuh PKI dan apakah kau juga pernah kenal dengan itu Syam Kamaruzzaman"?. Pertanyaan Tante Annie memang bisa muncul mendadak di tengah pembicaran yang bagaimanapun. Bahkan kadang-kadang di dalam tram atau bus yang sedang ramai penumpangnya. Dan sekarang ketika sedang menikmati sepotong taart yang beliau sajikan.

-"Saya tidak tahu apa dan siapa itu, Tante. Yang saya tahu, itu cuma omong kosong yang dibikin Suharto yang harus diperankan oleh Syam. Seperti Nero memfitnah orang Kristen yang membakar kota Roma".

-"Kapan pertemuanmu yang terahir dengan Aidit?".

Pikiran saya lalu terbang ke Cina, ke Peking pada bulan Agustus 1965. Ketika sebagian besar teman-teman saya pada berlibur ke Eropa Barat, Berlin Barat dan Belanda terutamanya, tapi saya menukar dollar yang kami terima dari Kedutaan menjadi rubel untuk beli karcis kereta ke Peking. Ada sebagian teman yang mengangap saya orang sinting.

Dan memang sayapun merasa sinting, mengapa tidak, ke Barat adalah selera remaja, kebebasan, barang kelontong: baju dan kaos kaki nylon, sepatu milyuner, bumbu-bumbu pedes Indonesia, dasi-dasi Trevira, Ray-ban, Parker, perca-perca lingeri buat pacar-pacar Rusia dan selebihnya didjual dengan harga super mahal di sekitar pintu masuk asrama Universitas. Sedangkan kalau ke Peking, yang akan saya temui adalah cuma abang saya yang sudah bertahun tahun menjadi spesialis di sana, cuma memburu kerinduan, dan saya hanya menjadi orang asing dua kali lipat, bahasanya, budayanya dan hanya satu yang seperti di rumah sendiri: makan! Saya punya bakat besar memakan semua makanan Cina dan bakat itu sudah saya miliki sejak saya berusia 12 tahun yang dimulai dari Pasar Senen , lalu Glodok dan terus merembet ke berbagai restoran Cina yang terenak. Saya tumbuh dan membesar oleh makanan Cina dan saya telah menjadi fanatik melebihi abang sulung saya sendiri. Tapi cuma di bidang makanan ini saja. Dan saya memutuskan ke Cina karena selera saya bukan selera remaja seperti selera teman-teman saya mahasiswa lainnya. Selera saya adalah selera perut dan pilihan saya adalah Cina sebagai kiblat dan Peking sebagai Mekkah kerajaan makan saya. Mengapa harus menolak dibilang sinting, bukankah saya sendiri yang telah membuktikannya.

Baru beberapa hari saya bertemu keluarga abang saya yang menjadi spesialis di sana, saya lalu mendapat panggilan mendadak dan harus meninggalkan hotel di mana diinapkan (gratis, dibayar Negara) yang kalau tak salah hotel itu "Min Chu Fan Tien" yang hidangan makanannya melebihi dari yang pernah saya impikan ketika masih di Moskow. Dari hotel, saya harus pindah ke sebuah Guest House atau rumah tamu Partai karena di sana abang sulung saya yang ketua Partai sedang menjadi tamu Partai sebuah negara raksasa yang ketika itu sedang cekcok besar dengan sebuah Partai yang juga raksasa yang bernama Uni Sovyet di mana saya sedang belajar. Pertemuan itu sama sekali di luar dugaan saya, karena ketika saya masih di Moskow, memang abang sulung saya sedang mengadakan kunjungan di Rusia dengan delegasinya yang cukup besar untuk barangkali cekcok di sana dengan Suslov, teoretikusnya PKUS. Dugaan saya itu berdasarkan penglihatan saya dari dekat: muka abang saya masih tampak merah, matanya juga merah, persis ketika ia baru cekcok dengan istrinya di rumah ketika saya masih tinggal bersama mereka dulu itu. Orang adik beradik tentu mengenal urat nadi hingga suara hati masing-masing.

-"Tengkar?" , tanya saya ketika baru saja melepaskan tangan dari salaman rindu dan tak di sangka-sangka itu.

-"Ya, tengkar. Bukan cuma tengkar. Tengkar besar. Bagus, kau ke mari, Sulai. Cina juga perlu dilihat".

-"Tadi sebelum kemari , saya diperingatkan agar siap-siap dimarain".

-"Siapa yang bilang begitu !",

-"Antara lain, Sobron".

-"Dia yang patut dimarain"

-"Ya, dia bilang juga sudah".

Hari pertama bersama abang sulung saya, saya masih setempat tidur dengannya dan barulah kemudian di kamar tidurnya yang luas dan besar itu ditambah lagi satu tempat tidur untuk saya. Semua kegiatan delegasi, saya diajak ikut serta. Dari sinilah saya mengetahui betapa mesra dan antusiasnya Partai Cina menerima delegasi Partai Komunis Indonesia. Sebuah persahabatan yang tak mungkin habis diceritakan, betapa erat dan kentalnya persahabatan dua Partai seolah dua saudara kembar yang tak akan pernah bercerai lagi. Saya turut mernikmati kemanjaan yang oleh tuan rumah meskipun saya bukan anggota delegasi Partai dan hanya sebagai adik bungsu dari sang Ketua. Sobron bukan main irinya, tapi perasaan itu sudah sangat biasa dirasakannya sejak di Indonesia dulu. Abang sulung saya sering mengucapkan sikapnya di depan kami adik-adiknya bahwa ia tidak membedakan yang satu dengan yang lain. Sama, tidak ada peng-istimewaan. Tapi dalam praktek, tetap saja ada diskriminasi yang itu saya sendiri yang menikmatinya. Mungkin karena saya memang lebih banyak mendampinginya dalam kerja-kerjanya sehari hari ketika di Jakarta dulu atau mungkin juga saya punya sifat yang lain dengan abang-abang saya yang lainnya sebagai manusia non politik sehingga berbicarapun sangat terdengar lain di tengah-tengah 24 jam atmosfir politik dalam dumia yang tak saya kenal itu. Dan saya selalu leluasa.

Suatu hari, abang saya mengatakan kepada saya bahwa saya harus tinggal di rumah (saya sudah tidak boleh keluar sendirian) karena hari itu delegasi Partai akan menemui Ketua Mao. Untuk itu katanya saya belum punya hak. Sebetulnya saya cukup kecewa karena sebuah pemikiran yang sederhana saja: kalau sudah sama-sama menjadi tamu Partai begini, kenapa tidak sekalian saja , menemui Ketua Mao-pun diikut sertakan. Tapi sekali ini abang saya benar-benar mendiskriminasi saya dan itu saya kira juga baik, paling tidak untuk tidak menumpuk ke-irian Sobron. Tapi saya tidak dibiarkan sendiri di rumah yang bagaikan istana itu. Seorang nona dengan sebuah pelampung telah mengatur semuanya untuk kami berdayung di danau yang luas dalam wilayah rumah tamu itu. Tentu ini nona bukan datang begitu saja dari langit untuk menghibur saya yang sedang sendirian tidak kebagian jatah ketemu dengan Ketua Mao. Ini juga sebuah pengaturan dari kebijakan tuan rumah yang sangat menyenangkan saya. Sayangnya ini nona manis tidak bisa bicara Inggris, atau mungkin tidak diperbolehkan. Tanpa bahasa tapi banyak senyum, banyak menuntun tangan saya dan imbalan dari saya satu-satunya cumalah: sie,sie,sie,sie dan sie-sie hingga membuat dia tertawa terpingkal-pingkal. Saya duga mungkin ia telah menawarkan sesuatu secara bergurau yang merugikan saya dan jawaban saya tetap saja sie-sie. Saya bayangkan mungkin dia menanyai saya apakah setuju kalau saya dia pukul dengan pendayung yang sedang dipegangya dan saya menjawab: sie-sie. Tapi sungguh dia sangat manis. Dan kalau saya bandingkan kecantikannya dengan gadis manis peranakan Indonesia Cina, yang saya temui di bus-bus atau di tengah kota Peking ,yang masih bicara Indonesia dengan lancanya, maka kecantikan mereka yang peranakan itu, tidaklah berlebih lebihan kalau saya katakan ,setara dengan seorang Miss Universe yang tidak resmi. Percampuran ras sering melahirkan kwalitas ekstra: atau yang terpintar di dalam klas, tercantik di seluruh sekolah atau yang tersehat dan terganteng di antara teman-temannya. Di bidang pertanian umpamanya, buah atau ubi hasil cangkokan selalu lebih manis, lebih besar dan lebih bagus kwalitasnya. Bahkan Mie Peking yang mie asli itu rasanya jauh lebih kurang dari Mie di Pasar Senen yang bumbu-bumbunya sudah campuran dengan bumbu-bumbu pribumi. Yang kita perangi bukan perbedaan ras tapi kesombongan ras kalau itu memang ada.Tapi setidaknya, kecantikan nona Cina yang totok sekarang ini, yang sedang berkayuh dengan saya dalam perahu kecil hanya untuk berdua, bisa melupakan sejenak atau mungkin sangat banyak jenak, pacar saya yang ada di Jakarta. Betapa bahagia yang saya rasakan hari itu. Kami tertawa tanpa mengerti satu sama lain dan hanya dengan bahasa badan. Dan ketika kami akan berpisah, dia lalu menanyai saya dan cepat saya jawab: sie-sie. lalu ia memukuli belakang saya dengan geramnya sambil tertawa. Mungkinkah yang dia tanyakan pada saya itu kira-kira begini: "Sukakah kamu saya cemplungkan ke dalam air danau ini?" Dan dengan senang hati saya jawab: "SIE-SIE".

*********** 0 0 0 0 0 **********

ASAHAN ALHAM AIDIT:

Roman Memoar

"ALHAMDULILLAH"

Bagian III (16)

Merambat Tanah Pemukiman

Moskow - 1965 - Peking (II)

Di antara anggota Delegasi Partai yang paling saya kenal adalah bung Ajis. Dia seorang supir abang saya. Bung Ajis orangnya sederhana tapi punya kewibawaan, berdisiplin tinggi, ramah tapi juga serius. Bung Eko Darminto, bekas pengawal pribadi abang saya kemudian disekolahkan di Moskow bersama saya, adalah seorang yang berbadan besar tinggi, berkulit gelap, tampak perkasa dan memang dia pernah jadi anggota CPM, juga sangat segan pada bung Ajis. Bung Ajis tidak semata hanya seorang supir tapi juga seorang kawan yang mengemban tanggung jawab tinggi atas keselamatan abang saya yang juga bekerja sama dengan bung Eko Darminto. Pertemuan kami yang tidak di sangka-sangka itu dimulai dengan pergurauan lama kami: "korek sambel" yang entah bagaimana secara spontaan terucapkan bersama ketika kami bersalaman pada waktu ketemu di Guest House. Soalnya ketika Bung Ajis disekolahkan di Uiversitas Rakyat yang mengambil Jurusan bahasa Inggris, suatu hari ia bertanya pada saya: "Bung Sulai, saya kok selalu mendengar dosen Inggris saya sering mengucapkan "korek sambel" setiap dia akan memberikan contoh, apa sih artinya". Saya cepat menduga pertanyaannya yang lucu itu. "Itukan maksudnya "For example" kata saya sambil tertawa. Bung Ajis memang sering melucu, tapi bila sedang melakukan tugasnya, ia sangat serius dan kadang-kadang bisa galak juga bila sedang dalam tugas terjadi hal-hal yang kurang beres dan memerlukan reaksi cepat yang biasanya karena kelengahan atau kelambanan pengawal pribadi abang saya. Di saat-saat demikian bung Ajis lalu mengambil komando dan mengambil semua kebijaksanaan. Dia sangat cepat berpikir dan juga cerdas meskipun pendidikan formalnya sederhana saja, tapi ia selalu aktif mengam-bil bermacam kursus yang diadakan oleh Partai maupun di luar. Abang saya sangat menghormati bung Ajis dan memperlakukan bung Ajis tidak pernah sebagai supir, tapi sebagai kawan yang sederajat, sebagai orang terdekat ketika sedang bertugas bersama meskipun berlainan tanggung jawab dan sifat pekerjaan. Untuk saya bung Ajis, seorang manusia yang sangat menarik untuk dijadikan teman maupun kawan.

"Sayang bung Sulai tidak diajak ketemu Ketua Mao, tadi siang". Itu kalimat pertama bung Ajis ketika kami bertemu kembali sejak ketidak ikutsertaan saya bersama delegasi menemui Ketua Mao.

"Nah, bagaimana bung Ajis, ceritanya. Cerita dong, nanti saya juga ganti cerita bagaimana saya berduaan dengan si Amoi totok si cantik jelita berdayung dayung di danau".

"Ketua Mao, orangnya sangat halus dan santun budinya. Bicaranya pelan dan sangat ramah".

"Apa saja isi pembicaraan yang penting-penting, bung Ajis?".Tanya saya tidak sabar.

"Mula-mula bung Aidit menceritakan situasi situasi revolusioner yang sudah mulai terasa di Indonesia. Rakyat sudah di belakang Partai dan PKI sudah menjadi Partai yang sangat besar. Ketua Mao mendengarkan dengan penuh perhatian. Lalu ia menanggapi dengan tenang dan sopan, katanya, yang perlu diperhatikan adalah kekuatan Partai di desa-desa, karena di sanalah kekuatan riiel Partai harus berakar dan dari sanalah revolusi akan dimulai". Masih banyak yang diceritakan bung Ajis tentang pertemuan antara delegasi PKI dengan ketua Mao. Itu sedekar pertemuan ramah tamah yang penuh persahabatan dan tidak membuat pernyataan bersama ataupun persetujuan-persetujuan tertentu. Bung Ajis merasa bahagia bisa ikut serta dalam pertemuan itu meskipun pekerjaan atau tugas kongkret dia cuma sebagai seorang supir abang saya tapi telah menjadi anggota delegasi Partai resmi yang sederajat dengan semua anggota delegasi Partai lainnya yang adalah petinggi-petinggi Partai. Saya merasa bung Ajis pantas mendapatkan penghargaan dan juga kehormatan demikian sebagai kawan separtai yang langsung mendampingi dan menyertai abang saya selama tugas-tugas penting yang sering-sering berbahaya itu. Cerita Bung Ajis sangat berkesan pada saya dan pula menambah pengetahuan saya betapa eratnya Persahabatan antara dua Partai, Cina dan Indonesia pada waktu itu.

Saya masih diberi kesempatan untuk ikut serta bersama delegasi untuk meninjau ke beberapa tempat obyek ekskursi di sekitar kota Peking, terutama ke pabrik-pabrik dan musium-musium yang sangat menarik dengan penjelasan yang terperinci dari petugas-petugas dari pihak tuan rumah. Ada hal yang sangat menonjol selama ekskursi peninjauan itu. Pengawal pribadi abang saya yang baru (pengganti bung Eko Darminto yang ketika itu sedang sekolah di Moskow) punya kelakuan yang sangat aneh. Dia mengontrol semua anggota delegasi, setiap ada penjelasan tentang segala sesuatu kepada kami para pengunjng. Pengawal ini mengharuskan orang mencatat semua yang dibilang petugas atau pembicara dari pihak tuan rumah. Saya yang punya kebiasaan hampir-hampir tidak pernah mencatat dalam setiap kuliah, sekarantg diharuskan oleh pengawal pribadi abang saya yang juga bertubuh besar tinggi yang tidak kalah perkasanya dengan bung Eko Darminto, untuk mencatat semua dengan serius. Katanya, untuk menghormati tuan rumah dan menujukkan rasa rendah hati terhadap mereka. Diapun tidak pandang tingkat kekaderan seorang anggota delegasi. Semuanya, tidak terkecuali harus mencatat apa saja yang sedang dibicarkan dan dijelaskan oleh tuan rumah. Saya merasa abang saya tidak pernah bahagia dengan pilihan para pengawal pribadinya selama ini. Juga sejak bung Eko Darminto bertugas dulu itu, ia selalu menderita bila bepergian jauh. Ia tidak bolen ngantuk apalagi sampai tertidur bila sedang ada dalam kendaraan, demi kewaspadaan, kata bung Eko, dan abang saya selalu dibangunkan dari ngantuknya. Padahal ia hanya tidur beberapa jam saja dalam sehari. Sekarang dalam perjalanan delegasi ini , sang pengawal itu selalu tampak dalam keadaan super aktif mengatur segala-galanya, seakan-akan tanpa pengaturannya, delegasi ini akan menjadi serombongan anak nakal yang sudah tidak bisa ditertibkan. Dan celakanya, abang saya punya kebiasaan mengharuskan saya patuh pada pengawal pribadinya sudah sejak ketika di Jakarta dulu. Bila ada sesuatu yang agak kontradiktif antara saya dengan pengawal, saya selalu berada di pihak yang salah dan abang saya selalu membenarkan pengawal pribadinya. Tapi saya masih bahagia, karena di antara adik-adiknya sayalah yang paling disayanginya. Buktinya, Sobron tinggal di rumah, saya turut delegasi.

Ah, kasihan Sobron, baru kena marah pula.

Rencana delegasi untuk merlanjutkan peninjauan ke Vietnam, tiba-tiba dibatalkan. Saya belum sempat  melamar pada abang saya untuk ikut serta. Semangat saya sudah seperti kata peribahasa:  "Seperti Belanda minta tanah, diberi sejengkal minta sehasta". Tapi sebelum lamaran diajukan, yang saya sangat optimis akan dikabulkan abang saya, rencananya sudah digagalkan gara-gara ada tilgram dari Jakarta, abang saya harus pulang karena bung sakit keras. Besoknya abang saya dengan delegasi harus terbang ke Jakarta.

Malamnya kami masih sempat ngobrol panjang.

"Sulai, kapan kau tamat sekolah".

"Masih satu tahun"

"Apa tidak bisa dipersingkat"

"Mengapa harus dipersingkat?"

"Terlalu lama bersekolah, juga tidak baik. Kau harus juga dalam revolusi itu sendiri".

"Saya harus tamat dulu"

"Revolusi tidak akan menunggumu"

"Bang Murad tamat tahun ini dan dia sudah pulang sebulan lalu".

"Murad sudah pernah ikut revolusi, kau sama sekali belum"

"Apa saya sudah harus angkat senjata sekarang juga?"

"Revolusi tidak mesti harus angkat senjata. Partai tidak punya senjata"

"Jadi saya harus kembali ke pekerjaan saya yang lama. Bukankah bibliotik sudah ada yang mengurus".

"Banyak pekerjaan lain yang bisa kau kerjakan dan semua itu menantimu"

"Pekerjaan revolusi?"

"Bertanyalah dengan nada serius".

"Ya, maksud saya, bila tidak mengangkat senjata, apakah setiap pekerjaan bisa digolongkan pekerjaan revolusi".

"Itulah, seperti aku bilang. Terlalu lama bersekolah, itu tidak menguntungkan. Apa yang kau pelajari di Rusia selama ini".

"Sastra Rusia".

"Baik. Belajar sastra tidak akan pernah habis"

"Tapi saya memerlukan diploma"

"Dulu kau pernah bilang, diploma-diplomaku yang kau temukan di rumah ayah di Belitung, setelah kau timbang, beratnya mencapai 2 kg. Adakah satu di antranya yang pernah aku gunakan untuk melamar pekerjaan?".

"Apakah telah begitu mendesak, hingga saya harus mempersingkat masa belajar saya".

"Kau yang harus mendesak dirimu. Revolusi mungkin tidak memerlukanmu. Tapi kau ... paling tidak, telah sangat memerlukan revolusi".

"Baiklah, sementara saya memerlukan diploma untuk sebagai bukti, saya telah belajar menurut tugas yang diberikan kepada saya".

Saya anggap abang saya telah kalah. Tapi saya lihat mukanya sangat cerah. Bahkan malam itu saya lihat tidak ada yang dia siapkan untuk pulang ke Jakarta besok pagi. Kami meneruskan percakapan dengan tema lain, soal pertemuannya dengan Ketua Mao, soal keluarga dan macam-macam lagi. Bekas-bekas kete-gangannya oleh percekcokannya dengan Suslov telah lama sirna dari wajahnya. Ia tampak relax seperti biasanya meskipun dikepung oleh tumpukan kesibukan.

Saya turut mengantarkannya ke lapangan terbang. Di antaranya tentu saja para kader tinggi dari pihak Partai Komunis Cina. Saya tidak begitu memperhatikan dan lebih asik melihat-lihat barang-barang yang dipamerkan dalam lemari-lemari kaca di ruang tunggu dalam wilayah bangunan lapangan terbang itu. Ketika para delegasi akan menaiki pesawat dan meninggalkan kamar tunggu, seseorang menarik tangan saya dan menuntun saya ke barisan delegasi yang sedang menuju pesawat. Saya perkirakan dia seorang penterjemah yang mungkin berasal dari Cina peranakan dari Indonesia yang berwajah agak ke-desa-desaan dan sangat sederhana penampilan-nya. Ketika rombongan pengantar akan pulang meninggalkan ruangan, orang yang saya kira penterjemah tadi datang menemui saya dan menyalami saya dengan hangatnya sambil mengucapkan sesuatu dalam bahasa Cina yang tentu saja tidak saya mengerti. Saya lalu bertanya pada Sobron, apa yang yang dibilang orang yang saya sangka penterjemah itu. Sobron bilang:" Itulah PM Chou En Lai, orang kedua sesudah Ketua Mao di negeri Cina ini".  Saya terheran-heran, merasa tidak masuk akal, seorang Perdana Menteri sebuah negeri raksasa berpenampilan begitu seder-hana. Lain dan sangat lain dengan yang biasa saya lihat di dalam gambar. Memang,  gambar sering-sering di ritus, diperindah, diperhalus agar tampak lebih cantik atau bagus. Ternyata kesederhana-an dalam apa adanya, itu jauh lebih bagus, lebih mengagumkan. Hari itu, di bulan Agustus 1965, di Peking, adalah hari terahir saya bertemu dengan abang sulung saya. Beberapa bulan kemudian dia telah ditiadakan oleh kaum barbaris pemakan manusia dengan senjata. Saya kehilangan seorang abang, tapi bangsa saya telah kehilangan peri kemanusiaan.

Asahan Aidit:

Makna apa dibalik kata "KEBLINGER" PKI dalam peristiwa G30S-65?

satu dari tiga alasan terjadinya peristiwa 30S-65 yang dikatakan oleh Presiden Soekarno adalah "Keblinger"-nya pemimpin PKI. Ini bisa menimbulkanan bermacam penafsiran, dugaan dan bahkan mungkin memancing kesimpulan, siapa yang sesungguhnya biang keladi terpenting dalam mencetuskan peristiwa mandi darah itu.

Sebagai logika umum dari makna kata "keblingernya" pemimpimn PKI dalam hubungan keterlibatannya dengan peristiwa September itu bisa diartikan sbb (sementara):

1.   PKI memang terlibat (meskipun bukan satu-satunya): keblinger!

2.   Pemimpin PKI-lah yang terutamanya yang terlibat: keblinger!

3.   PKI melaklukan tindakan avonturis politik secara spontan: keblinger!

4.        Pemimpin PKI telah bertindak sendiri di luar garis umum politik Partai (merebut dengan jalan coup): keblinger!

Dan bahkan sesudah nomor 4 itu masih mungkin ditambah hingga beberapa nomor lagi karena memang kata "keblinger" membuka kemungkinan yang sangat luas, tapi untuk memudahkan penganalisaan baiklah dengan 4 faktor itu saja. Tapi sebagai kesan umum, dari empat faktor isi dari makna kata "kebilinger"itu adalah tuduhan Presiden Sukarno, bahwa PKI dan pemimpinnya memang terlibat dan terlibat secara bodoh bahkan bisa disebut secara gila-gilaan, diluar perhitungan, di luar akal sehat dan tidak bertanggung jawab.

Teoritis, PKI sebagai partai Marxis, mengetahui bahwa dalam merebut kekuasaan negara dan memenangkan revolusi tidak bisa dengan jalan coup tapi di atas dasar kematangan situasi revolusioner yang sudah matang dan kesiapan massa rakyat yang luas serta kesiapan Partai revolusoiner itu sendiri dalam memimpin revolusi di garis terdepan. Jadi dalam situasi yang tidak keblinger, PKI tidak mungkin tiba-tiba menjadi keblinger dan lalu secara spontan bertindak melakukan avonturis besar dan maha berbahaya itu yang juga di luar garis Partai yang mengarah pada cara-cara demikian. Dalam pendidikan intern Partai-pun PKI selalu mengharamkan jalan coup atau avonturisme dalam merebut kekuasaan dan melaksanakan revolusi. Bahkan dalam diskusi-diskusi periodik Partai hingga ke bawah, jalan terorisme dan avontu-risme, sangat diharamkan. Lagipula bila dikatakan PKI telah sangat terpengaruh dengan jalan Revolusi Cina yang menempuh jalan dari desa mengepung kota, maka cara-cara keblinger yang spontan, di luar garis umum dan tanpa persiapan yang panjang, tuduhan keblinger itu sangat diragukan. Karena bila demikian, yaitu ,memang kekeblingeran PKI telah melakukan kesalahan-kesalahan besar dan prinsip sbb:

1.   Menyalahi dan melanggar garis umum Partai yang telah ditetapkannya sendiri

2.   Menyalahi prinsip Marksis dalam menjalankan revolusi

3.   Menyalahi jalan Revolusi Cina (Dari desa mengepung kota) yang telah sangat mempengaruhinya.

4.   Meninggalkan massa anggota yang tidak dipersiapkan dan tidak siap sama sekali untuk menempuh jalan coup.

5.   Melakukan politik avonturis secara total dan itulah yang namanya KEBLINGER dalam arti yang sesungguh-sungguhnya.

Tapi lalu masaalahnya, apakah memang demikian. Untuk sampai pada kesimpulan atau tuduhan demikian, harus ada bukti-bukti dan analisa mendalam yang harus bisa dikontrol dan diklopkan apa memang demikian adanya di dalam praktek atau dalam kenyataan. Banyak hal-hal yang hanya orang PKI sendirilah yang bisa menilai sam-pai dimana mereka bisa dikatakan keblinger atau mungkin hanya tertuduh, terfitnah dan lalu tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin membela diri, tidak sempat menerangkan situasi dan yang terpenting mereka telah begitu cepat dihabisi dengan terror. D.N. Aidit cepat dibunuh agar tidak mungkin diajukan dan membela diri di depan pengadilan. Puluhan ribu orang-orang yang dituduh PKI dan anggota PKI di buang ke Pulau Buru dan penjara-penjara lainnya di seluruh Indonesia tanpa pernah diadili hingga Suharto terguling. Hak-hak dasar kemanusiaan puluhan juta korban 65 hingga sekarang belum dipulihkan. Semua kenyataan ini membuktikan kebenaran yang sesungguhhya di balik peristiwa S-65 akan selalu ditutup-tutupi yang mula-mula dengan teror, lalu dengan kebohongan, pembodohan massa rakyat dan sekarang ini dengan pemutar balikan sejarah melaui tulisan-tulisan, buku-buku (termasuk yang dibuat oleh penulis asing) yang membikin roman politik atau sastra jurnalis politik yang lebih menyerupai film-film Jackie Chan, yang memang enak ditonton tapi tidak bisa diperlakukan sebagai film-film `yang mengangkat kebenaran sejarah.

Tapi dalam ketakutan dan ancaman jiwa yang serius, orang memang bisa keblinger, bisa mengatakan sesuatu yang lain dari apa yang sesungguhnya yang ada di hatinya, bisa menipu musuh dan menipu dirinya sendiri untuk menyelamatkan diri, bisa berhianat, bisa memfitnah teman sendiri bahkan saudara kandung sendiri di depan musuh yang sedang juga super blinger tapi kuat dan kejam. Penyelidikan sejarah memang belum selesai dan memang tak akan pernah selesai bila yang mendominasi sejarah adalah pihak yang kuat dan sedang berkuasa. Sedangkan kebenaran tidak jatuh dari langit , tidak otomatis di pihak yang benar, tapi harus diperjuangkan secara gigih dan pula dengan kekuatan tertentu yang sanggup beradu dan tidak cuma meratap, meminta atau cuma dengan keyakinan pasif dan tidak berani tatap menatap dengan musuh kebenaran.

Tuduhan Presiden Soekarno terhadap pemimpin PKI sebagai "keblinger" patut dijadikan studi analisa untuk dikontrol kembali kebenarannya demi untuk mendapat-kan bahan-bahan obyektif dan terpercaya, apa sebetulnya dibalik kata "Pemimpin PKI yang keblinger" sebagai salah satu faktor yang dianggap besar tercetusnya peristiwa G30S-65. Diperlukan kekritisan dan keberanian menganalisa yang tidak berat sebelah hingga hasil penyelidikan sejarah, terutama sejarah pemberontakan G30S-65 tidak seperti sekarang ini:

  - Seluruh ORBA merasaa benar kecuali ORLA dan PKI

  - Seluruh bangsa merasa benar kecuali PKI

  - Seluruh Partai-Partai merasa benar kecuali PKI

-    Seluruh anggota PKI merasa benar kecuali para pemimpinnya

-    Seluruh Pemimpin PKI merasa benar kecuali D.N.Aidit

-    Seluruh teroris merasa benar kecuali yang diteror.

Dan merasa benar di sini berarti pandai membela diri sendiri dan pandai menyalahkan orang lain.Sedangkan yang disalahkan adalah yang sudah mati, seperti PKI yang mati, D.N. Aidit yang sudah mati, para pemimpin PKI lainnya yang juga sudah mati, ORLA yang sudah mati. Presiden Soekarno yang masih sempat membela diri karena masih sempat hidup untuk beberapa waktu dan masih sempat menuduh pemimpin PKI sebagai "keblinger" tanpa menjelaskan lebih lanjut meskipun dengan sepatah kata, mengapa "keblinger", apa lagi, apa itu kongkretnya "keblinger" yang dilakukan oleh Pemimpin PKI. Menyalahkan orang yang sudah mati memang mudah dan membela diri ketika masih hidup juga tidak sulit. Yang sulit adalah menyingkap kebenaran, bersikap jujur dan tidak memikirkan keuntungan dan kese-lamatan diri sendiri semata-mata. Presiden Soekarno mungkin saja dalam keadaan keblinger juga, di tengah kepungan musuh-musuhnya dan kehilangan kawan terpercayanya yaitu PKI sehingga mungkin dalam keadaan yang tidak disengaja telah menohok teman seiring dengan menuduh Pemimpin PKI sebagai "keblinger". Dan tuduhan itu akan sangat menguntungkan Orba dan Suharto dan juga akan punya pengaruh negatif terhadap pendapat umum Indonesia pada waktu itu maupun sekarang ini bahkan mungkin juga di masa datang. Tapi dengan menggunakan metode analisa obyektif , menggunakan semua bahan dari semua pihak dan tidak terpancing dengan tulisan yang dari dalam negeri maupun yang dari pihak Barat yang punya kebiasaan bikin buku tulisan sensasionil, bombastis, dengan menggunakan roman horror, bukti-bukti palsu yang tak pernah terbuktikan di depan umum, dengan menempelkan label gelar kesarjanaan yang dijadikan reklame untuk jaminan mutu tulisannya yang tidak bermutu, pemikiran kritis, berani jujur dan berani mengatakan dan memebela kebenaran, tentu setiap penipuan, kebohongan, manipulasi serta pemutar balikan sejarah akan terungkapkan juga cepat atau lambat. Para sarjana seperti yang antara lain Dr. Benedict Anderson dan Prof. Dr. Wertheim yang secara jujur dan berani mengungkap kebohongan dan pemalsuan rezim Orba dan Suharto, patut dijadikan pedoman dan patokan untuk mengungkap lebih lanjut dalam penelitian sejarah G30S-65. Secara sengaja atau tidak sengaja, kita tidak perlu membikin reklame gratis bagi para penulis buku yang cuma merekayasa kebohongan, kepalsuan dengan cara sensasionil bahkan dianggap "spektakuler" pula. Biarkanlah buku-buku picisan itu bergulir menurut jalan yang dibuatnya sendiri dan tak perlu dicomot lalu tanpa sadar telah mempromosikannya ke berbagai media termasuk internet. Pikiran yang sehat dan otak yang segar harus juga pandai memilih makanan otak yang baik, konsumsi yang sehat dan orientasi ke rakyat. Kita hidup di tengah sampah dan dekat sungai-sungai yang kotor serta udara pengap tercemar bermacam racun kimia politik. Pilihlah tempat-tempat yang masih relatif bersih dari pencemaran dan jangan suka mencomot barang-barang aneh di jalan yang tampak terbungkus baik yang mungkin dari seseorang mules perut yang takut atau segan ke luar rumah atau dari kamar di malam.

asahan aidit.

***********************************

Makna apa dibalik kata "KEBLINGER"pemimpim PKI dalam G30S65

Bapak Asahan Aidit yth,

Keblinger adalah sok pinter, tetapi sebetulnya goblok. Sukarno menyimpulkan PKI itu keblinger, saya berkesimpulan sebagai berikut:

PKI sok pinter, tidak punya kesabaran revolusioner, tanpa menunggu dipukul oleh Dewan Jenderal,kemudian melakukan serangan balas, melainkan memukul duluan, kemudian tidak konskewen melanjutkan serangan ber-tubi2 untuk menghancurkan sisa2 Dewan Jenderal yang masih hidup. Di sinilah letak kegoblokannya yang mendatangkan malapetaka buat jutaan manusia yang dianggap pengikut PKI. Sebab PKI sebelumnya pernah gembar gembor punya pengikut sebanyak 20 juta.

Saya lahir pada 1976, jadi 11 tahun setelah G30S. Ayah saya adalah anggota pimpinan Dewan Nasional Pemuda Rakyat, ketika 30 September 1965 berada di Jakarta. Setelah itu beliau ber-pindah2 rumah tinggal, untuk menghindari penangka-pan. ini sebelum meninggal dunia, beliau pernah menceritakan pengalaman kepahit-getirannya sebagai buronan politik yg lolos dari lobang jarum angkara murka. Menurut bung Ol, jenderal PKI yg menjadi kepala depda (departemen pemuda), 1965, situasi revolusioner sudah sampai ke puncaknya, dalam hari2 mendatang akan terjadi penentuan siapa yang akan menang dalam pertempouran penghabisan antara PKI lawan DD (Dewan Djenderal). PKI telah memutuskan, tidak akan menghantam lebih dahulu, sebab akan membikin PKI menjadi terisolasi dari massa rakyat yang luas. tak mungkin DD sekali hantam terus hancur lebur. Mereka akan melakukan serangan balas yang akan membikin Partai kita terhapus dari muka bumi Indonesia.

Tiba2 terjadilah G30S yang dipimpin oleh letkol Untung yang dibina oleh PKI dalam jangka panjang melalui biro khususnya.

Perbuatan Untung ini jelas melanggar disiplin Partai, dan sangat berbahaya sekali. itu, termasuk ayah saya sudah mengusulkan agar PKI bangkit mengutuk letkol Untung sebagai kontrarevolusi yang berkedok revolusioner dan mengerahkan seluruh partai untuk menghancurkan G30S. tapi sayang seribu sayang, pimpinan PKI malahan mengeluarkan statement yang mendukung G30S sebagai masalah intern AD, sebagai gerakan yang revolusioner. Betul2 goblok sekali PKI ini. saya menjadi kecewa, tidak mau ikut dikubur bersama PKI, maka ia kabur ke Jawa Timur, kemu-dian ke Menado, kemudian ke Ambon, dan terakhir balik lagi ke Jakarta menjadi pedagang sate Madura di kaki lima. Pendek kata sejak itu ayah saya memutuskan tali temali dengan Pemuda Rakyat dan PKI.

Ini yang membikin ayah saya selamat sampai beliau meninggal dunia pada awal Maret 2005 ybl. Ketika awal Oktober 1965, banyak yang pinter yg melarikan diri dan mengganti identitasnya, bahkan yang ada kesempatan keluarnegeri pada kabur ke negeri Sosialis untuk minta suaka politik, masing2 secara pinter menyelamatkan nyawanya dahulu, tidak mau ikut dikubur bersama pimpinan Partai yang keblinger itu.

Di dalam tubuh PKI terdapat beberapa faksi, yang ekstrim kiri yang diwakili oleh Aidit, yang Marxis Leninis yang diwakili oleh Grup Bandung (Ismail Bakri) dan yang berada di tengah2nya yang diwakili oleh Sudisman/Lukman/Njoto/Sakirman dll. Ini cerita ayah, yang membutuhkan pembuktian oleh bekas pucuk pimpinan PKI yang masih hidup.

G30S dicetuskan oleh grup Aidit. Yang melanggar kepoutusan Partai untuk tidak menghantam duluan. Ini yang membikin Sudisman dan anggota dewan Harian Politbiro menjadi serba salah, akhirnya mengeluarkan statement 2 Oktober 1965 melalui Harian Rakyat.

Sedangkan Grup Bandung mengeluarkan statement yg mengutuk G30S, mengeluar-kan majalah intern Suara Demokrasi yang melakukan perdebatan sengit melawan Mimbar Rakyat yang dikeluarkan oleh CC PKI (baca Sudisman). Ayah masih sempat baca dokumen2 ini di Surabaya. Sampai lahirnya Otokritik Politbiro PKI, yang merupakan perdamaian antara grup Sudisman dan Grup Ismail Bakri. Setelah itu ayah sama sekali memutuskan tali temali hubungan dengan bekas kawan2nya, karena tidak mau ikut PKI melancarkan perjuangan bersenjata menggulingkan apa yang dinamakan rezim fasis Suharto-Nasution. Sebab ayah tidak mati konyol, ibarat telor melawan batu.

Demikianlah cerita tempo dulu yang saya dengar, sebelum ayah pulang ke alam baka.

Mohon pak Asahan melempangkan cerita ayah, jika ada yang tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya, sekalian kepingin nompang tanyak, dimana gerangan pak Asahan ketika G30S meletus? Dan bagaimana sikap pak Asahan ketika itu?

Maria Harsono, 7 Okt 2005.

Sdr. Maria Harsono Yb,

Dalam satu hal saya sangat setuju dengan anda bahwa memang PKI punya kelemahan di bidang teori, politik dan ideologi dan lalu melakukan kesalahan-kesala-han besar sebagai akibat kelemahan yang lama tak terkoreksi secara serius itu. Tapi kita harus membedakan secara tegas antara kelemahan atau kesalahan intern Partai dengan apa yang difitnahkan oleh Suharto kepada PKI sebagai dalang pemberon-takan G30S-65. Itu adalah dua hal yang sangat belainan yang tidak bisa disimpulkan bahwa PKI telah melakukan pembrontakan dan menjadi dalang G30S-65. Dalam diskusi-diskusi Partai yang saya ikuti selama saya belajar di luar negeri sejak tahun 1961, tidak pernah ada diskusi yang membicarakan persiapan PKI akan meng-coup atau merebut kekuasaan seperti cara-cara yang dipakai pada peristiwa 30S itu. Yang selalu menjadi tema diskusi adalah bahwa di Indonesia sudah ada situasi revolu-sioner yang semakin masak. Ilusi Partai waktu itu adalah menunggu tanggal main para Perwira Tinggi yang lama berkontradiksi dan akan saling menggulingkan. Sedangkan pengaruh Partai dalam tentara dikatakan semakin meluas dan menguat. Dan dari pemikiran beginilah ilusi memenangkan revolusi denga jalan damai itu terus berkembang. Dengan kata lain , bila pihak perwira tinggi g yang revolusioner itu nantinya menang( istilah politik ketika itu adalah "aspek pro rakyat" dalam" teori dua aspek") maka PKI berilusi  revolusi akan menang tanpa ikut perang (PKI tidak punya senjata, tidak punya tentara, tidak punya pasukan bela diri) dan semuanya bersandar pada "aspek pro rakyat" yang dalam tentara itu. Dan di sinilah salah satu kesalahan besar PKI yang punya ilusi besar: ingin memenangkan revolusi dengan menyandar-kan diri pada "aspek pro rakyat "dalam kekuatan bersenjata yang dinilainya sudah merupakan kekuatan revolusi yang terpercaya ditambah lagi dengan persekutuannya dengan Presiden Soekarno, plus massa rakyat yang mendukung PKI, plus massa anggota PKI yang puluhan juta, simpatisan dan juga sokongan dari Partai-Partai sekawan seperti dari Cina dan dari negeri-negeri sosialis lainnya yang cuma berupa sokongan kata dan semangat saja. Tapi golongan reaksioner Indonesia ternyata lebih pintar, mereka tahu taktik PKI dan kelemahan PKI sekaligus. PKI yang hanya bermodal daging ingin memenangkan revolusi dengan tangan kosong, dan cuma bermodal sokongan dan sorak sorai yang itulah yang kita sebut sebagai "jalan damai"nya PKI untuk menuju kemenangan revolusi. Dengan kata lain PKI tidak pernah punya niat, tidak pernah ada persiapan, dan juga tidak ada kemampuan untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan senjata, kecuali dengan jalan damai seperti yang sudah digariskan dalan garis umum Partai yang tertuang dalam "Teori dua aspek". Golongan reaksioner Indonesia sudah lama mengetahui kelemahan PKI, mengetahui ilusi PKI, dan mereka (terutama yang memegang senjata) mengetahui titik lemah PKI yang paling dasar: Tidak punya kekuatan riil yang bisa memberikan perlawanan terhadaap mereka ( tidak punya tentara, umpamanya seperti yang pernah dipunya DI-TII, Dewan Banteng, Permesta , yang meskipun ahirnya bisa ditumpas tapi mereka pernah punya kekuataan riil). Karena itulah jalan yang paling ampuh untuk menumpas PKI adalah jalan fitnah, provokasi (ingat provokasi Madiun), Intimidasi, dan penysupan mata-mata ke dalam tubuh PKI. Ditambah lagi dengan pemborjuasian dalam tubuh PKI waktu itu yang telah sangat membudaya yang sudah sangat disedari sendiri oleh PKI. Masih adakah di kalangan orang PKI yang berani memikirkan untuk merebut kekuasan dengan senjata atau kekerasan dalam keadaan ideologi yang keropos demikian?.

Tapi berilusi masih berani karena itulah mentalitas orang yang baru diborjuasikan. Dan seperti kita ketahui, Suharto telah menggunakan situasi yang dinilainya akan sangat menguntungkannya meskipun harus dilakukannya dengan jalan hianat yang paling besar sekalipun. Dia bikin Untung adalah suruhan PKI, Syam Kamaruzzaman punya biro Khusus dengan D.N.Aidit macam-macam lagi ciptaannya yang lain untuk menghancurkan PKI dengan jalan yang paling hina dan nista sekalipun. Tapi mari kita lihat kenyataan yang paling besar yang disaksikan oleh setiap orang di Indonesia dan diketahui oleh dunia luar dengan amat jelasnya:

- Yang membunuh puluhan ribu, ratusan ribu bahkan hingga jutaan nyawa manusia Indonesia yang tidak bersalah adalah Suharto beserta serdadu-serdadu, para algojo sewaan,massa rakyat yang dia paksa dan Orba-nya dan BUKAN , bukan Komunis.

-     Yang membunuh 7 jendral bukan PKI, bukan Komunis tapi adalah tentara (PKI tidak punya sebuah pistolpun)

-     Yang memenjarakan puluhan ribu orang yang dituduh Komunis dan semua orang yang tidak tahu menahu tentang G30S-65 ke seluruh penjara-penjara seluruh Indonesia dan juga Nusa Kambangan serta Pulau Buru adalah Suharto dan PKI.

-     Yang menjadi diktator dan melindas demokrasi serta HAM di Indonesia adalah Suharto dan bukan PKI.

-     Yang melakukan politik diskriminasi rasial (terutama terhadap etnis Cina) adalah Suharto dan bukan PKI.

-     Yang meng-coup Presiden Soekarno dan menahannya adalah Suharto dan bukan PKI.

-     Yang merebut kekuasaan dan menjatuhkan Pemerintahan Presiden Soekarno adalah Suharto dan bukan PKI.

Bisakah kenyataan besar itu dibantah?.

Bahkan Suharto sendiripun hingga detik ini tidak berani buka mulut untuk mem-bantahnya.

Bisakah kita katakan semua yang dilakukan Suharto tsb diatas itu adalah kesalahan PKI?

Melihat kesalahan dan kelemahan PKI adalah di dalam intern PKI itu sendiri dan itu memang jelas ada dan akibatnya telah menghancurkan dirinya sendiri, para angota dan simpatisannya tapi PKI absolut tidak melakukan dosa atau pembunuhan terha-dap rakyat Indonesia, hal itu dilakukan langsung oleh Suharto. Lalu pertanyaan yang saya ajukan, apakah tuduhan Presiden Soekarno bahwa pimpinan PKI yang "keblinger" bisa menutupi semua perbuatan Suharto seperti yang tersebut di atas, meringankan dosa Suharto dan lalu akan ditimpakan pada PKI? atau bahkan sudah ditimpakan.

Menurut saya tuduhan "keblinger"adalah tuduhan yang tidak serius, kurang mencerminkan kebenaran dan bahkan terasa gampang-gampangan saja.

Mengapa?

-     Tindakan Suharto yang cepat, mendadak, yang dalam waktu sangat singkat berhasil menangkap hampir semua pimpinan PKI yang masih dalam keadaan terlena dan menyandarkan bantuan Presiden Soekarno yang sudah tidak berwibawa, menyebabkan kebingungan besar, panik dan kehilangan orientasi pada pimpinan PKI. Bisakah dalam keadaan begini, seseorang, bahkan bila dia seorang pemimpinpun, masih sanggup untuk merasa diri sok tahu, sok pintar? atau seperti yang dibilang Presiden Soekarno itu sebagai "keblinger"? Yang paling mungkin terjadi, menurut saya, dalam keadaan kritis dan bahaya besar itu, seseorang lebih cende-rung menjadi gagap, bingung, dan bisa kehilangaan orientasi. Dosakah bila keadaan demikian terjadi pada seorang pemimpin?. Pemimpin yang mana-pun pada ahir-ahirnya adalah seorang manusia juga, bukan nabi, bukan superman. Dan apakah ketika peristiwa sudah terjadi, para perwira dalam angkatan bersenjata yang dulu bersimpati pada PKI, berjiwa revolusiner, lalu serta merta dihianati dan dikutuk oleh pimpinan PKI? Demi untuk menyelamatkan PKI sendiri?. Langkah salah pertama bukan dilakukan oleh PKI tapi oleh intern angkatan bersenjata itu sendiri. Lalu sebagai akibatnya, apakah Pimpinan PKI cepat-cepat cuci tangan sambil mengorbankan teman sendiri yang pun ternyata adalah korban perbuatan Suharto sendiri.

-     Ketidak siapan PKI atau lebih tepatnya scenario para perwira yang punya rencana membunuh 7 jendral itu membuat pimpinan PKI harus memilih hanya dua pilihan:

.     menyokong gerakan( setia kawan, pada perwira yang "pro rakyat")

.     mengutuk gerakan (menghianati kawan, perwira-perwira yang "pro rakyat")

Silahkanlah pilih PKI yang a atau yang b. Yang jelas PKI tidak bisa tidak memilih keduanya. Bisakah kita katakan pimpinan PKI telah keblinger dalam pilihan yang mematikan itu. Tapi jelas di sini ada dua macam kematian: Yang menghianati teman atau yang setia kawan. Tapi akibat selanjutnya adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Suharto karena dialah yang berlaku sebagai algojo pembunuh ratusan ribu hingga jutaan manusia Indonesia yang tidak bersalah. Saya merasa bahwa Presiden Soekarno telah memilih kata yang tidak beruntung itu untuk PKI dalam keadaan PKI sendiri tetap setia hingga ahir hayatnya kepada Bung Karno. Saya sebagai pribadi dan adik D.N. Aidit (cuma bahan pertimbangan):

Saya tidak yakin kalau D.N.Aidit itu bisa jadi orang kekiri-kirian. Saya mengenalnya dari dekat, tinggal bersamanya dalam banyak tahun, serumah, dan juga bekerja untuknya. Secara politik dia tidak punya sifat kekiri-kirian. Saya sebagai bekas anggota Partai, selalu sebagai oposisi dalam grup Patai yang mananpun, saya juga tidak suka dengan sifat kekiri-kirian. D.N.Aidit tidak punya sifat diktator, terhadap keluarga maupun terhadap kawan-kawan sendiri.

 Kalau saya membaca tulisan orang lain rentangnya yang menuduh dia seorang diktataor, saya cuma ketawa. Reputasi pribadinya begitu drastis direndahkan sesudah peristiwa G30S-65. Tapi saya bisa memaklumi karena itulah sisa-sisa pemborjuisan di dalam Partai sebagai akibat jalan damai yang bersuka ria dengan kaum borjuis besar dan sedikit kebagian harta borjuis. Iri dengki satu sama lain di antara pimpinan Partai sendiri, sudah menjadi budaya intern Partai dan lalu diguna-kan musuh untuk mengadu domba seperti umpamanya antara Aidit dan Nyoto, katanya ada kontradiksi yang mendalam. Saya tahu persis hubungan Aidit dan Nyoto. Aidit sangat mengagumi kebrilyanan otak Nyoto terutama dibidang seni dan hususnya. Aidit tidak punya sifat iri terhadap kawan yang lebih dari dirinya. Apa yang ditiup-tiup sebagai kontradiksi adalah omong kosong. Memang akibat pemborjuisan di dalam PKI, mentalitas pimpinan, terjadi degradasi, terutama oleh pengaruh materi dan ingin hidup senang. Itu sebuah cerita yang akan berjilid jilid. Tapi akan saya ahiri hingga di sini karena ini sudah teramat panjang dan memang cuma beginilah kemampuan saya, semoga dengan penjelasan atau pemikiran saya ini, Sdri. Maria Harsono tidak kecewa. Saya turut mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Ayah anda beberapa bulan lalu. Semoga kita selalu jelas dalam membedakan siapa lawan siapa kawan.

Salam.

asahan aidit

*******************

Pimpinan PKI Keblinger?

(Diskusi Asahan Alham – Maria Harsono)

Oleh: Harsutejo

tentang keblingernya sejumlah pimpinan PKI antara Bung Asahan Aidit dengan Mbak Maria Harsono amat menarik bagi saya sebagai peminat sejarah tragedi 1965. Kita sudah mengenal akan berbagai pernyataan dan pertanyaan Bung Asahan seputar peristiwa 1965 yang sering amat tajam dan kritis, barangkali membuat merah telinga sementara pihak yang tidak setuju. Bagi saya sendiri berbagai pernyataan dan pertanyaannya wajar dan sah untuk mencari tahu lebih lanjut akan kebenarannya. Sebagai peminat yang ikut mengalami masa itu saya juga kagum akan tanggapan yang amat kritis dari Mbak Maria, saya pun berpikir untuk mencari jawabannya berdasarkan sedikit pengalaman langsung maupun pengalaman orang lain serta kepustakaan yang dapat saya akses. Untuk menanggapinya saya sendiri me-merlukan waktu untuk menelaahnya lebih lanjut dengan lebih teliti.

 tulisan Mbak Maria yang bisa langsung saya tanggapi, “Ketika awal Oktober 1965, banyak yang pinter yg telah melarikan diri dan mengganti identitasnya, bahkan yang ada kesempatan keluarnegeri pada kabur ke negeri Sosialis untuk minta suaka politik, masing2 secara pinter menyelamatkan nyawanya dahulu, tidak mau ikut dikubur bersama pimpinan Partai yang keblinger itu.” Saya sendiri termasuk salah seorang yang ditangkap dan dipenjarakan, ketika dibebaskan segera kabur mengganti identitas. Dari pengalaman 6 bulan di penjara saya menyaksikan sendiri ribuan orang dibon tengah malam dan lenyap untuk selamanya, pemerintah diktator itu jelas akan membasmi semua saja yang dipandang lawannya. Mereka yang dibebaskan dan tetap tinggal di rumah kemudian diciduk kembali dan pada umumnya dibunuh atau dibuang ke Pulau Buru. Setahu saya sejumlah orang Indonesia (ratusan?) yang berada di negeri-negeri sosialis dan negeri lain, sudah berada di negeri itu ketika peristiwa 1965 meletus, sebagai mahasiswa yang sedang tugas belajar, berbagai macam utusan, sedang bekerja di berbagai institusi termasuk kedutaan besar Indonesia dsb. Hanya beberapa orang saja yang berhasil melarikan diri dari Indonesia dan menetap di luar negeri, dengan demikian lolos dari kejaran rezim Orba.

kita ketahui “keblingernya pimpinan PKI” merupakan satu dari tiga bagian analisis Bung Karno tak lama setelah terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965. Adakah anda tertarik menanggapi diskusi tersebut di atas? Atau bagi mereka yang cukup banyak mengetahui, enggan ikut serta karena merasa terikat akan segala sesuatu yang mereka anggap sebagai etika organisasi? <harsonos@cbn.net.id>

Catatan:

Mohon Mbak Maria Harsono sudi memberikan alamat email anda.

***********************

"Asvi Warman Adam" asvi@cbn.net.id on Sat, 8 Oct 2005 07:40:30 +0700 wrote

Diskusi tentang keblingernya sejumlah pimpinan PKI antara Bung Asahan Aidit dengan Mbak Maria Harsono amat menarik bagi saya.  Apakah Maria Harsono itu putrinya Pak Harsono Sutejo yang menulis komentar ini ?

asvi@cbn.net.id

**********************

From: djoko sri moeljono

To: harsutejo

Sent: Saturday, October 08, 2005 8:39 AM

Subject: Re: Pimpinan PKI Keblinger?

Pimpinan PKI keblinger?

Menurut pendapat saya pribadi,adalah benar bahwa pimpinan PKI ke blinger.Pimpinan disini bisa merujuk pada seorang Aidit, bisa juga merujuk pada "beberapa" (2 @orang?). Dalam naskah buku saya ada bagian yang membahas ini, dimana menurut pendapat "pribadi" saya pimpinan PKI terlalu terpengaruh a.l oleh bukti "aspal" asli alias palsu - yaitu jebakan berupa dokumen Gilchrist. Kertasnya asli Kedutaan Besar Inggris, tetapi isinya "gombal"-"nonsens" - yang ditelan bulat-bulat tanpa dikunyah.tetapi karena ada "bukti" berupa selembarkertas yang bisa dipegang, bisa dilihat dan diketemukan dirumah seorang Amerika Bill Palmer, maka bukti ini jauh lebih kuat dan lebih meyakinkan dari rumor, isu atau desas-desus (yang di Buru disebut Radio Dengkul) - hal ini membuat "risi" pimpinan PKI. Salah satu bentukrisi tsb, lagi-lagi menueurt "pendapat saya" adalah desakan agar dibentuk Angkatan ke-V (diluar Angkatan Darat, Laut, Udara dan kepolisian) yang dipersenjatai. Tuntutan ini apakah hanya dari PKI atau didukung partai lain,saya sudah tidak ingat, tetapi yang jelas: dibelakang hari tuntutan ini jadi boomerang bagi PKI. Orang bilang: PKI jelas berniat berontak dan mereka menuntut Angkatan ke V dipersenjatai! Itu adalah tanda-tanda bahwa mereka mempersiapkan diri! mengenai keblingernya pimpinan, saya tulis dalam buku bahwa dalam hal-hal penting ,krusial dan rahasia, "bisa dibenarkan" bahwa pimpinan membatasi "orang yang boleh tahu"  tetapi celakanya di antara orang yang boleh tahu ternyata adalah intel AD yng disusup kan ketengah PKI! Menjadi kewajiban bagi kita semua untuk membuat yang gelap jadi terang dan jelas bagi generasi muda, betapapun pahitnya.

**************

Pak Asahan yth,

banyak cerita tempo doeloe ayah saya, harap bapak bisa bersabar mengikutinya, jika semuanya ditulis, barangkali bisa membikin novel setebal 500 halaman........

1 Oktober 1965, begitu mendengar siaran RRI, mendengar pengumuan terbentuknya Dewan Revolusi, ayah segera pergi ke kantor Dewan Nasional Pemuda Rakyat di Jalan Tanah Abang. sana sudah ramai pucuk pimpinan Pemuda Rakyat yang ramai mendiskusikan peristiwa besar itu.

masih ingat betul, ia dan beberapa kawan (sayang minoritas jumlahnya), mengusul-kan agar Partai melakukan tindakan tegas menarik garis pemisah dgn letkol Untung, menyatakan bukan saja itu adalah masalah intern AD, tetapi juga letkol Untung adalah provokator dan kontra rervolusi yang harus dikutuk dan dibas-mi. Harus blejeti kedok asli letkol untung yang kontra revolusioner.

ayah berpendapat demikian? Masalahnya sebetulnnya sangat sederhana sekali. Bahwasanya Partai sudah mengambil keputusan, TIDAK AKAN MUKUL DULUAN. Siapa yg mukul duluan, apa itu PKI apa TNI, semuanya akan berada dalam posisi yang dibawah angin dan kekalahan sudah pasti. Yang mukul duluan pasti bukan PKI melainkan agen musuh yang menyelundup kedalam tubuh PKI.

usul baik dari ayah tidak mendapat tanggap serius bahkan dikatakan harus percaya kepada Politbiro yang akan mengambil langkah2 yang tepat.

berapa kemungkinan mengenai siapa sebetulnya yang mencetuskan G30S:

(1) Agen CIA yang menyusup kedalam PKI, yang diwakili oleh Syam yang berhasil mendapat kepercayaan tinggi dari DNAidit, atas perintah CIA, Syam menawan Aidit, kemudian atas nama Aidit memerintahkan letkol Untung untuk mencetuskan G30S dan menghabisi nyawa perwira2 tinggi AD, dengan demikian memberi alasan kepada sisa2 AD yang anti Komunis untuk mengambil langkah2 yang diperlukan untuk membasmi PKI.

Hal ini demikian, maka Polit biro CC PKI harus lebih cepat ketimbang Suharto, per-tama2 mengutuk (bukannya mendukung) G30S, mengatakan bahwa apapun alasannya G30S adalah perbuatan provokatif yang licin yang bermaksud menghan-curkan PKI. Menyeruhkan seluruh partai untuk ber-sama ABRI membasmi dewean Revolusi di pusat maupoun di daerah2.

(2) Politbiro CC PKI berhasil diyakinkan oleh golongan ekstrim dalam tubuh PKI, untuk mukul duluan, membatalkan keputusan sebelumnya, dengan demikian AD tidak menyangka sedikitpun serangan mendadak ini, sebab sebelumnya sudah digembargemborkan, jika 5 Oktober PKI dipukul, PKI baru mengangkat senjata untuk melakukan perlawanan.

kedua ini sangat besar, sebab nyatanya PKI tidak mengutuk G30S, sebab G30S itu sendiri didalangi oleh seluruh PB CC PKI.

menyatakan G30S adalah masalah intern AD, PKI bermaksud mencucitangan, se-olah2 letkol Untung bukannya disuruh oleh PKI, melainkan ber-tindak semau dewek. PKI berilusi Pranoto bisa menjadi pengganti letjen Jani, ada desas desus bahwa Pranoto adalah perwira maju yg pro PKI (atau mungkin anggota rahasia PKI?), dengan demikian masalah ini bisa dilokalisir dalam tubuh AD, bisa diselesaikan secara politik dibawah komando Sukarno.

ayah, kemungkinan kedua ini adalah kemungkinan yang terbesar. Pak Asahan boleh berbeda pendapat, kita semua sama2 main duga saja bukan?

kemungkinan pertama, maupun kemungkinan kedua, PKI telah melakukan kesala-han yang sangat fatal, yang mengakibatkan jatuhnya korban sampai jutaan jiwa. Yaitu dengan statement PB CC PKI 2 Oktober, yang menyeruhkan agar seluruh Partai jangan terprovokasi, ini adalah bahasa yang umum, yang berarti jangan melakukan tindakan apa2, jika ditangkap menyerah saja, toh akan dibebebaskan melalui penyelesaian politik Sukarno. Ini berarti menyerahkan nyawa para anggota PKI di bawah tangan Sukarno. Setelah Pranoto gagal jadi pimpinan AD, Suharto merebut dengan kekerasan jabatan pimpinan AD, yang berarti Sukarno sudah menyerah kalah dan tidak pegang komando dalam ABRI, PKI masih berilusi Sukarno bisa menggunakan pengaruhnya untuk melakukan penyelesaian politik, ini sudah sangat keterlaluan batas kesalahan fatalnya. Maka tak heran Otokritik PB mengata-kan, dari kesalahan oportunis kiri lari ke opurtunis kanan, dari secara gegabah mendukung kup istana G30S yang tak ada bau2nya revolusi, terus lari ke kapitulasionisme, menyerahkan nasib 20 juta simpatisan PKI kepada Sukarno, dan terjadilah pembunuhan biadab terbesar dalam sejarah Indonesia, sebab manusia dibantai tanpa perlawanan kaya ratusan ribu ayam disembelih oleh para algojo.

Ayah tidak menyalahkan Suharto, tidak menyalahkan para algojo Banser Anshor, tidak menyalahkan Sarwo Eddie dll. mereka berbuat demian karena mau balas dendam, mereka berbuat demikian takut dirinya dibantai seperti 7 perwira di Lubang Buaya, jadi daripada mati konyol, lebih baik menghabisi seluruh PKI, apalagi mereka takut akan jumlah 20 juta yang sebetulnya merupakan angka fiktif, angka untuk me-nakut2ti lawan. Merekapun takut, pasukan2 yang setia kepada PKI, yang dibina melalui MKTBPnya PKI, oleh biro khusus akan melakukan serangan balas.

Jadi pak Asahan.,

sungguh menyesal pak Asahan masih membela abangnya, masih membela PKI. Buat ayah saya, siapa algojo sebenarnya yang membantai 7 juta? Bukannya Suharto, juga bukan NU, bukan Sarwo Eddie. Melainkan PKI sendiri yang menggali liang kuburnya sendiri dengan mengorbankan nyawa para anggota dan simpatisan-nya.

jika periksa kesalahan2 garis politik PKI itu sendiri, yang sejak lahirnya sudah menjadi agen Moskow, PKI dilahirkan bukan untuk membela Indonesia, melainkan untuk membela Uni Sovyet dari kepungan negeri imperialis. sesua dengan garis Moskow yang menjadikan AS sebagai musuh utamanya. Indonesia tidak diagresi secara militer kaya Vietnam, mengapa PKI harus ikut tongkat komando Moskow menjadikan AS sebagaimusuh utamanya?

jaman Aidit, PKI main2 dengan api revolusi, menjadikan imperialis AS sebagai musuh utama, menjadikan Setan kota dan setan desa sebagai musuh utama yang harus diganyang, ini namanya poilitik orang goblok, politik mencarimusuh, padahal dirinya tidak mempunyai kekuatan jika semua musuh2nya bersatupadu untuk menghancurkan PKI.

utama yang membikin tragedi nasional adalah karena PKI adalah Partai marxis leninis yang menempuh jalan kekerasan bersenjata, bukannya partai remo seperti Italia yang menempuh jalan parlementer dan jalan damai. Tapi lahiriahnya PKI menempuh jalan parlementer dan jalan damai, kalau betul2 jalan parlementer, mengapa harus gembar gembor revolusi belum selesai? mengapa dengan lantang menyanyikan lagu: Singkirkan kaum kepala batu? Dengan apa singkirkannya? Kalau bukan dengan senjata? Emangnya setan kota tidak punya bedil, emangnya mereka mau dengan sukarela mundur dari panggung sejarah dengan demo2 dan aksi2 revolusioner dalam surat kabar?

, G30S, terlepas siapa yang menjadi dalangnya, adalah suatu kejadian yang pasti akan terjadi, karena PKI menempuh jalan revolusi, bukan menempuh jalan reformasi, jalan damai kaya PK Itali, PK Perancis dll yang dimaki sebagai Partai remo. Betul nggak pak Asahan?

dulu, lain kali sambung lagi cerita ayah dan pendapat saya sendiri.

Harsono. Oktober 2005

(tapi sok pinter) PKI, membikin saya harus se-lama2nya menyembunyikan identitas saya, sebab malu pernah jadi jantunghatinya PKI, menjadi penerus PKI.

bukan Tjiptaning yang bangga mejadianak PKI, saya dengan lantang mengatakan di sini:

MARIA HARSONO MALU JADI ANAK PKI.

******************************

Sdri. Maria Harsono Yb,

Sebelumnya ada yang perlu saya tegaskan:

- Sebagai adik dari D.N.Aidit, tentu saya membela dia dari tuduhan-tuduhan yang tidak benar, berlebih-lebihan, kekurangan bukti atau tanpa bukti, berbau sentimen, provokativ atau menjurus kepada fitnah. Dalam keadaan demikian saya tidak menuntut orang lain berbuat seperti saya, bahkan juga tidak kepada saudara-saudara sedarah saya yang lainnya. Saya lakukan itu atas dorongan rasa keadilan dalam kewajiban menilai atau membedakan apa yang benar apa yang tidak, mana yang bohong mana yang jujur. Saya berusaha obyektif dan tidak mau membabi buta atau menutup mata asal abang sendiri lalu dibela mati-matian. Akan tetapi saya juga tidak mau menjadi budak belian pendapat umum yang disesatkan, dimanipulasi yang bermaksud mengkorupsi sejarah, menggelapkan dan menjuruskannya ke satu arah hanya demi menyulap fitnah mernjadi kebenaran umum.

Saya juga tidak bermaksud membela kesalahan-kesalahan PKI yang sudah semua kita ketahui, kita kritik dan oleh sebagian banyak orang telah dikutuk habis-habisan. Tapi ada satu yang harus saya sedari dan tidak bisa saya bantah: Kita adalah anak dari seorang ibu politik yang bernama PKI itu (anda mungkin adalah cucu dari ibu poilitik yang bernama PKI itu). Seorang ibu bisa melakukan kesalahan besar bahkan hingga membunuh anaknya sendiri (itu sebuah cerita kehidupan yang sama sekali bukan fiksi meskipun bukan setiap hari terjadi). Tapi seorang ibu tetap saja seorang ibu, dia telah melahirkan kita, termasuk ibu politik, atau nenek politik. Bahwa kita ingin menolaknya sebagai ibu karena dosa-dosanya, kesalahannya, atau "ke keblingerannya" itu adalah hak setiap anak atau orang. Penolakan tidak akan menyelesaikan soal, karena yang menentukan masa depan seorang anak adalah jalan yang akan ditempuhnya sendiri, nasibnya sendiri di masa yang akan datang atau masa depannya. Lalu masih ada yang menyisa, yaitu masaalah keadilaan yang tidak bisa kita tinggalkan begitu saja: sampai dimana besarnya dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dibuat ibu politik kita itu. Sebelum mengadilinya dan mengambil keputusan meningglkannya atau menolaknya, kita harus tahu persis takaran berat ringannya semua kesalahan dan dosa-dosa itu: faktor  dalam dan faktor luarnya, sarat-sarat sejarah di waktu itu, langsung dan penyebab tidak langsung. Kebenaran tunggal itu tidak ada. Yang ada, adalah berjuta kebenaran dan berjuta kesalahah dan kita berada di tengah-tengahnya. Hanya dengan pertolongan otak kita, kita mungkin membedakan yang satu dengan yang lain. Sangat sederhana : satu tambah satu adalah dua. Tapi tiga kurang satu adalah juga dua dan masih berjuta variasi lainnya yang membenarkan angka dua adalah angka dari hasil kebenaran. Lalu apakah yang kita maksudkan dengan tunggal atau " kebenaran tunggal". Itu tidak lain dari pada keinginan subyektif seseorang untuk memonopoli hasil kebenarannya sendiri sebagai kebenaran satu-satunya. Kebiasaan ini selalu dipunya oleh seorang diktatator.

Saya setuju dengan anda bahwa apa yang kita nilai sekitar peristiwa 30S-65, masih banyak yang bersifat dugaan. Anda menduga, saya menduga, orang-orang lain juga menduga. Tapi Suharto dan bahkan juga Presiden Soekarno adalah menuduh. Dan tuduhan itu yang terberat adalah pada PKI. Dan inilah juga yang mereka anggap atau ingin mereka paksakan sebagai kebenaran tunggal: PKI dalang pemberontakan G30S-65 dan bahkan menurut anda sendiri, PKI-lah yang membunuh berjuta yang tidak bersalah itu dan bukan Suharto, tidak menyalahkan algojo besar Ansor, tidak menyalahkan Sarwo Eddie, semuanya salah PKI. Sayapun tidak menyalahkan anda kalau anda punya pikiran demikian dan juga tuduhan yang demikian. Saya sangat memaklumi pikiran anda telah didominasi oleh pikiran "kebenaran tunggal" kepunyaan sang diktator, yaitu:"PKI dalang dan pencetus G30S-65". Tentu saya tidak sepikiran dengan anda dalam hal ini. Sebelumnya telah saya tulis bahwa kesalahan dan kelemahan PKI harus dilihat di dalam intern PKI itu sendiri, dalam rumah tangga mereka sendiri. Dan sama sekali salah kalau menyimpulkan PKI-lah yang membunu-hi jutaan manusia Indonesia yang tidak bersalah. Amerika dan CIA saja tidak pernah bilang begitu, juga Sovyet Unie yang saat-saat terahir menjadi musuh PKI, pernah bilang begitu. Bahkan ada tokoh-tokoh Partai Islam yang terlibat langsung dalam pembunuhan massal itu tidak pernah bilang begitu, dan lebih dari itu, Gus Dur sendiri langsung minta maaf atas turut sertanya massa mereka membunuhi orang-orang PKI dan simpatisan serta jutaan manusia yang tidak bersalah dan bukan PKI, bukan komunis, bukan dari aliran politik yang manapun. Apakah kebenaran yang diluar kebenaran tunggal itu akan dibantah dan ditiadakan? Lalu kita akan beramai-ramai mengikuti arus dan turut menyuarakan propaganda mereka bahwa PKI adalah agen semua negeri Adidaya seperti Sovyet Uni(ketika itu), Cina, yang seharusnya mengikuti jalan Patai Komunis Italia, atau Perancis dan tidak mengang-gap Imperialis Amerika sebagai musuh (lalu sebagai teman?)?. Mungkin dalam beberapa hal ada benarnya, tapi juga jelas pemikiran pokok seperti itu lebih banyak bersifat tuduhan, bahkan tuduhan sentimentil daripada tuduhan politik kongkritnya .Di sini pemikiraan politik telah banyak kehilangan keseimbangannya dan lebih mengarah kepada sentmentil terutama jika sudah sampai pada tuduh menuduh.Saya mengakui tuduh menuduh itu adalah wajar bila dalam sarat dua pihak mendapatkan hak yang sama, kesempatan yang sama dan sama-sama tidak diancam kekuataan diktator seperti semasa jaman Suharto .Dan sekarang, inilah yang sedang ingin kita bereskan, cerahkan dan nilai se-obyektif mungkin. Prosesenya masih lama dan masih sangat berliku. Dan siapa yang lelah duluan, dialah yang akan kalah dan "kebenaran tunggal", kebenaran si diktator akan kembali menjadi pendapat umum meskipun untuk sementara . Kita tidak mau hal itu terjadi lagi dan untuk itu jangan kita berhenti di tengah jalan sambil meyakini apa yang tidak persis kita ketahui. Anda tidak mau punya sikap seperti Dr. Tjiptaning, itu adalah hak anda seperti juga hak Dr. Tjiptaning untuk merasa bangga jadi anak PKI. Saya umpamanya, tidak mempunyai dua macam perasaan itu: tidak merasa malu menjadi anak politik PKI dan juga tidak bangga. Yang saya inginkan adalah kebenaran, keadilan dan membersihkan semua dari fitnah, kebohongan, penipuan dan manipulasi politik. Terhadap semua kesalahan dan kelemahan PKI sikap saya adalah jelas: tidak kompromi dan tidak akan menutup-nutupinya dan juga tidak akan meneruskan dan membenarkan kesalahan itu. Tapi saya juga adalah anak politik dari PKI yang dia adalah ibu politik saya. Itu adalah identitas yang tidak bisa dan juga tidak mau saya hilangkan karena ini menyangkut soal moral politik dan juga moral kemanusiaan saya meskipun langkah ke depan saya sudah lain dan tidak lagi mengikuti jejak ibu politik saya itu.

Salam ikhlas dari saya

asahan aidit.

*****************************

: "samiaji" <samiaji@noos.fr>

: Re: [wahana-news] Pimpinan PKI Keblinger?

Harsutejo, dan para sahabat!

Mengikuti diskusi "Pimpinan PKI Keblinger?", juga tertarik, dan ikut nimbrung mencari jawab pertanyaan: "Siapa Keblinger ?" dari sudut pandang yang lain, -- Apakah Bung Karno tidak juga "keblinger"? Saya menyadari membuat artikel ini akan memancing sanggahan. Tapi, betapapun, diskusi akan selalu bermanfaat untuk memperluas wawasan. akan dengan senang hati kalau tulisanku ini bengkak-bengkok "diluruskan", dan memang saya mohon pencerahan.

Artikel itu saya lampirkan dengan tema "Siapa Keblinger?"

Dengan salam hangat,

*********************************

"sadewa48" <sadewa48@centrin.net.id>  wrote :

Diskusi tentang keblingernya sejumlah pimpinan PKI antara Bung Asahan Aidit dengan Mbak Maria Harsono amat menarik bagi saya. Menanggapi tanda tanya tentang "Siapa keblinger" oleh Bung Samiaji, uraian itu saya kira sudah tepat menunjukkan bahwa Bung Karno juga keblinger. Antara BK dengan PKI memang seperti kuku dengan daging. Mungkin PKI kukunya dan BK dagingnya. Dalan konteks untuk tampil menjadi tokoh dunia ketiga (NEFO), si daging terus membiarkan (dan mendorong) agar kukunya terus memanjang dan mampu menca-kar ke mana-mana. NEFO, artinya bukan dua blok yang sudah ada. Ini blok baru dan negara sosialis termasuk ke dalamnya. Tanpa dukungan kuku (PKI), maka BK tak mungkin bisa muncul sebagai tokoh dunia ketiga. Persoalannya, ketika kuku sudah kuat dan panjang, lalu kurang kritis dalam membaca situasi di dalam negeri, terutama dalam rivalitasnya dengan TNI/AD. Ternyata dua-duanya sama-sama takut. TNI/AD takut PKI muncul dominan dan PKI juga takut TNI/AD merebut kekuasaan. Di sini PKI keblinger karena terpancing untuk "memukul dulu sebelum dipukul". Dan ini kemudian menjadi peluang TNI/D untuk memukul PKI dengan alasan "terlibat".Ada bukti DNA di Halim (karena "dijemput" tentara malam-malam. Lihat buku Ilham). DNA "dipasang" di Halim untuk mencari legitimasi bagi TNI/AD, PKI terlibat. Satu-satunya tokoh PKI yang "menyimpang" pendapatnya adalah Ismail Bakri, CDB Jabar, tapi tak didengar. Dan ternyata dia benar. Kalau memukul dulu, akan ada alasan untuk balik dipukul. Ketika dipukul, BK muncul agar "tunggu komando". BK keblinger, komando apa bisa dicetuskan dan dapat menggerakkan semua kekuatan pendukungnya (termasuk militer) bila PKI sudah diremuk duluan? "Memukul dulu" (keblingernya PKI) dan "tunggu komando" (keblingernya BK) minta tumbal jutaan nyawa.

*********************************

ChanCT" <SADAR@netvigator.com wrote :

Saya termasuk seorang yang berusaha mengikuti secara teliti tulisan-tulisan sekitar G30S yang tetap penuh  dengan tanda tanya itu, dan selalu tetap gelap bagaimana kenyataan sesungguhnya yang terjadi.

Tidak pernah menyangkal adanya sementara tokoh PKI yang terlibat langsung dalam G30S, yang tetap menjadi pertanyaan saya adalah sampai dimana sesungguhnya peranan mereka itu, bisakah DN. Aidit yang ketua PKI itu dikatakan dalang G30S? Sungguh masih harus dipertanyakan, karena kenyataan Aidit justru menampakan diri dalam posisi yang pasif, yang tidak layak disebut dalang. Bagaiaman mungkin yang namanya dalang, justru yang diperintah Syam Kamaruzzaman pada saat di Halim subuh pagi 1 Oktober 65 itu, untuk tetap meneruskan penerbangan ke Jawa-tengah. Padahal ada berita yang menyatakan, pada saat Mantan Presiden Soekarno menolak rencana ke Jawa-tengah, DN Aidit juga ingin membatalkan kepergiannya. Dan, ... seandainya DN Aidit, PKI adalah dalang G30S, kenapa tidak bertahan di Jkrt. untuk memberi komando selanjutnya, tapi tunduk pada perintah Syam untuk bersembunyi? Bisakah tindakan DN Aidit yang demikian ini (tunduk perintah Syam dan bersembunyi di Jawa-tengah) sebagai bukti PKI adalah dalang G30S?

Kedua, Seandainya benar berita DN Aidit tunduk pada perintah Syam, tentu harus dipertanyakan siapa sesungguhnya Syam, yang ketua Biro Khusus bisa berperan memerintah DN Aidit yang justru Ketua PKI itu? Sementara orang menyatakan Syam double intelinjen, dia bekerja untuk PKI tapi juga bekerja untuk AD, bahkan juga CIA. Dan kalau, kita perhatikan lagi bagaimana kedekatan Syam pribadi dengan jenderal Soeharto yang sudah tergalang sejak jaman Jogya tahun 46-48 itu, kemudian melihat kedekatan/keakraban jenderal Soeharto dengan tokoh-tokoh teras G30S, dari Letkol. Untung Samsoeri, Kol. Latief, Brigjen Soepardjo tentu orang akan cende-rung menyatakan jenderal Soeharto-lah dalang G30S sesungguhnya; Begitulah kekuatan-kekuatan pasukan yang digunakan G30S, Yon-434 Diponegoro dan Yon-530 Brawijaya, adalah pasukan siap tempur yang langsung didatangkan ke Jakarta oleh jenderal Soeharto sendiri, tapi anehnya, pasukan ini pula yang digunakan untuk menindas G30S di Halim. Oleh karena itu, tidak aneh Soebandrio menyatakan G30S hanyalah rekayasa jenderal Soeharto dalam rangka kupdetat-merangkak, dan berhasil dengan baik.

, mengingat ketika itu, situasi perang-dingin yang sedang panas-panasnya, bukan mustahil Amerika dengan CIA-nya pasti berperanan untuk membasmi komunis dan menjungkelkan presiden Soekarno yang terlalu "kiri" itu. Yang perlu diselidiki lebih lanjut, tentu adalah sampai dimana jenderal Soeharto digunakan oleh CIA sebagai kuda tunggang pengganti jenderal Nasution. Jadi, sementara analisa ada benarnya, G30S hanyalah satu gerakan buatan CIA sebagai jebakan yang dirancang untuk gagal, sebagai alasan untuk menggebuk dan menumpas PKI saja. Dan itulah yang telah terjadi dan bisa kita lihat jelas, semua inisiatif dilakukan secara cekatan oleh jenderal Soeharto.

demikian, saya setuju dalam langkah perjuangan selanjutnya, janganlah main basmi-membasmi, bunuh membunuh lagi. Korban rakyat tak berdosa sudah terlalu banyak bergelimpangan karena kesalahan itu. Perlakukanlah setiap umat-manusia sebagai manusia yang harus dihormati dan disayangi. Jangan lagi kita menganggap diri-sendiri yang manusia, yang paling benar dan orang lain yang beda-pendapat, beda agama, dan beda politik-ideologi sebagai setan, sebagai musuh yang harus dibasmi, dibunuh. Jangan lagi! Bersatulah bangsa ini dengan lebih baik lagi mewujudkan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan nyata bermasyarakat.

juga setuju dendam orang-tua tidak seharusnya kita warisi, orang tua dimasa lalu saling baku-hantam, kita dan anak-cucunya harus bisa menempuh kehidupan barunya sendiri, sebagai anak-bangsa yang bersatu-padu untuk membangun masyarakat adil dan makmur. Tetapi ingat, generasi muda harus terus berusaha menegakkan HUKUM sebaik-baiknya, pelanggaran HUKUM, kesalahan-kesalahan pelanggaran HAM-berat sekalipun sudah lewat 40 tahun lebih, tetap harus tergugat HUKUM, tidak ada masalah kedaluwarsa. Sekarang belum ada kemampuan untuk itu, tapi harus diperjuangkan adanya kejernihan dan keadilan sebaik-baiknya secara HUKUM. Tidak membiarkan lewat begitu saja, setelah terjadi pembunuhan, penga-niaya, penangkapan begitu banyak orang tidak berdosa, yang bertanggung jawab harus diadili dan ada kejelasan HUKUM. Dan tuntutan keadilan, penegakkan HUKUM demikian ini sekali-kali bukan balas-dendam.

Salam,

ChanCT

*******************

From:  Asahan Aidit:

 Sent: Thursday, October 13, 2005 5:26 AM

:: Seluruh bangsa adalah keblinger

Dalam peristiwa G30S-65 seluruh bangsa adalah keblinger

yang terutamanya adalah Suharto sendiri. Dimulai dengan membunuh 7 Jendaral dan diahiri dengan pembunuhan berjuta-juta orang yang tidak bersalah termasuk anggota-anggota PKI beserta simpatisannya. Seluruh kekuatan reaksioner dalam negeri yang bekerja sama dengan CIA telah nyata-nyata keblinger. Tidak ada satu pihakpun yang terlibat langsung maupun tak langsung dalam peristiwa G30S-65 , bisa merasa dirinya tidak keblinger. Itu semua adalah kesesatan pikiran dan tindakan gila-gilaan yang tak terperikan kejam dan biadabnya terhadap kemanusiaan dan terhadap bangsa Indonesia khususnya. Karenanya kalau hanya dituduhkan pada pimpinan PKI saja yang keblinger, adalah sangat idak adil, tidak obyektif dan juga tidak benar. Yang benar, semuanya dalam keadaan keblinger, mabuk kuasa, mabuk darah dan mabuk kejayaan oleh kesesatan dan kepanikan ideologi dan kemerosotan moral politik maupun moral kemanusiaan.

aidit.

*******************

From: ChanCT

Sent: Thursday, October 13, 2005 5:04 AM

Subject: [wahana-news] Re: Seluruh bangsa adalah keblinger?

Bung Asahan yth,

, pernyataan seluruh bangsa keblinger sih agak keterlaluan juga, ya. Apalagi dinyatakan seluruh bangsa mabuk kuasa. Siapa yang mabuk kuasa? Itukan cuman segelintir elite saja, kenapa mesti dibawa-bawa rakyat tidak berdosa, ya. Mereka-mereka itu betul-betul tidak tahu apa-apa, kok. Tahu-tahu ditangkap, dipenjara, atau, ... dibantai dengan tidak tahu-menahu apa salahnya, apa dosanya! Bagaimana bisa dikatakan keblinger?

lagi, menjadi lebih salah kalau dikatakan jenderal Soeharto juga keblinger. Jenderal Soeharto adalah satu-satunya orang yang tidak keblinger, tapi yang betul-betul cerdik-pandai (baca sangat licik) dan berhasil mencapai tujuannya.

itu berarti orang yang sok pinter tapi melakukan kesalahan yang sangat bodoh?

Salam,
****************

Bung Chan Yb.

Keblinger yang diinterpretasikan sebagai sok pinter tapi sebenarnya goblok adalah sebuah penafsiran emosional yang bisa saja -bawa meng-embeli arti pokoknya yaitu sesat. Ada sebuah pepatah rakyat Vietnam yang sangat populer yang berbunyi:"Khon qua thanh dai" yang terjemahannya adalah: Kebangetan cerdiknya, jadinya goblok. Soalnya apakah tepat demikian diterapkan pada kasus para pimpinan PKI:

Sok pinter tapi sebenarnya goblok. Saya tidak sedikitpun punya hasrat untuk membela kelemahan dan kesalahan pimpinan PKI. Bahkan saya sudah hampir mabuk ketika mengkritik para pimpinan PKI selama dalam diskusi bertahun tahun dalam kolektif Partai ketika sama-sama mempelajari "kritik otokritik PB CC PKI".Tapi penilaian bahwa para pimpinan PKI itu sok pinter tapi sebenarnya goblok, baru saya dengar sekarang. Terdengar sangat kekanak-kanakan, seperti dua suami istri yang sedang bertengkar dan saling merendahkan.Sebuah tuduhan yang sangat ringan tanpa sedikitpun punya bobot politik dan hanya untuk melampiaskan kekesalan pribadi. Saya yakin ketika Presiden Soekarno melepaskan kata "keblinger",beliau tidak memberi arti tambahan seperti itu. Saya kira pilihan kata beliau itu sangat beliau pikirkan masak- masak sebelumnya, bukannya spontan penuh kehati-hatian. Namun punya kesan dualisme, yaitu terdengar tidak serius, tapi punya efek melunakkan hati Suharto dan memberatkan dosa PKI. Jadi kata yang kedengaran-nya tidak garang itu sudah sangat memenuhi keiinginan Suharto, yang diartikannya memang PKI setidaknya dalang yang sangat penting. Orang yang sedang sesat pikirannya, memang bisa berbuat apa saja, gelap mata ,sampai kepada mengamuk sekalipun.

Saya sungguh tidak mengerti, bahkan tidak habis ipikir,mengapa justru banyak orang-orang PKI yang menuduh dirinya (PKI/ Pimpinannya) adalah dalang atau terlibat bulat-bulat dalam peristiwa G30S-PKI. Apakah ini dimaksudkan untuk menunjukkan sifat ksatria, berani ngaku salah, berani mengutuk diri sendiri di depan musuh bagi menujukkan budi yang luhur di dibawah telapak Suharto. Dan bahkan berusaha membuktikan sendiri "fakta-fakta" keterlibatan dan peranan dalang PKI dalam peristiwa G30S-65. Sungguh menakjubkan! Tapi semakin hari semakin terasa gejala demikian cumalah ledakan emosi dari kenaifan berpolitik:sikap sportif dalam berpolitik yang dalam dunia yang begini cumalah bunuh diri tanpa meninggalkan keharuan. Dalam politik tidak ada sportifitas. Sedarilah itu sejak sekarang. Politik adalah argumentasi yang bisa diterima akal sehat berdasar logika serta analisa historis dan kontemporer dan hasrat untuk menang. Suharto yang tidak sanggup berargumen-tasi untuk membela perbuatan biadabnya, lalu menggunakan senjata dan kekerasan, kebohongan dan fitnah, militeris dan fasisme, diktatorial dan otokrasi dan semua metode untuk menyumbat semua mulut yang menentang dirinya karena dia tidak punya argumentasi yang bisa diterima akal manusia normal.Barangkali Suharto lebih mengerti politik daripada PKI, dia tahu apa yang ingin dia capai dan dengan cara bagaiamana, kesempatan yang bagaimana dengan alat apa. Tapi lalu dia sendiri jadi benar-benar keblinger, paranoia, mata gelap lalu menjadi biadab dan berjuta manusia yang tidak bersalah mati tangannya.

Dengan kekuatan dan ancaman serta paksaannya dia memperbodoh rakyat hingga rakyat jadi turut keblinger seperti dia. Jangan terlalu ideal memandang kata "rakyat". Meskipun rakyat adalah elemen terbesar dari bagian sebuah bangsa, tapi juga dalam rakyat masih terbagi-bagi menjadi golongan-golongan, wilayah pengaruh dari Partai Partai politik, agama, kepercayaan, profesi dan bahkan sebagian dari bangunan atas adalah juga salah satu elemen dari rakyat. Bukanlah berlebihan kalau seseorang mengatakan, bahwa rakyat ini adalah bangsa korupsi, bangsa maling, bangsa biadab dsb,dsb, dsb. Tentu itu tidak berarti mutlak hingga seratus persen murni bahwa setiap manusia Indonesia adalah demikian. Tapi penggeneralisasian yang demikian dalam syarat-syarat tertentu dari suatu bangsa dalam perjalanan sejarahnya, adalah bisa adanya. Kita katakan sekarang ini jaman edan. Mengapa edan? Karena bangsanya sedang edan yang rakyatnya juga turut dibikin edan. Kalau tidak mau jadi edan, ya jangan turut-turut edan. Salah satu keedanan itu, umpamanya, sok ngaku salah karena sudah dibunuhin, dibuang, , dilucuti hak-hak azasinya, diperlakukan sebagaai kaum Paria dan segala kehinaan dan nista yang diberikan musuh, tapi tetap saja menyalahkan diri sendiri dan membenarkan musuh. Apakah ini tidak edan dan bahkan masih dianggap sportif. Otokritik di depan musuh tapi memaki maki saudara sendiri. Rekonsiliasi bukan cuma ilusi tapi sudah benar-benar dongeng fantasi 1001 malam. Musuh hanya bisa dimaafkan bila dia sudah benar-benar menyerah kalah. Dan hanya orang yang punya salah atau punya dosa yang mestinya minta maaf. Dan bukan sebaliknya. Dan di sinilah politik:dia sebuah logika, analisa historis dan kontemporer dan argumentasi yang bisa diterima akal sehat dan bukan "sportivitas"di depan musuh politik yang tak akan pernah melakukan hal itu.

asahan aidit.

*******************

From: Waji Waki

Sent: Friday, October 14, 2005 1:33 AM

Subject: Makna keblingernya pimpinan PKI

Salam,

telah mengikuti diskusi yang diawali oleh Mbak Maria Harsono dengan Bung Asahan Aidit tentang “Makna apa dibalik kata "KEBLINGER" pemimpin PKI dalam peristiwa G30S-65”?, kemudian menjadi berkembang setelah mendapat beberapa respon, seperti respon dari Bung Hesri, Bung Samiaji, Bung Sri Moeljono, dan mungkin yang lain. Saya ingin ikut berdiskusi dengan pendapat seperti berikut:

.. Persoalan pertama adalah apakah dalam peristiwa G30S-1965, Pimpinan PKI “benar” atau “tidak benar” telah keblinger seperti yang dimaksud Bung Karno ?. Apabila Pimpinan PKI (bukan PKI ?) benar, telah keblinger dalam peristiwa G30S seperti yang dikemukakan oleh Mbak Maria Harsono, maka diskusi tentang makna dari keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-65 dapat , dan saya kira diskusi inilah yang dikehendaki oleh Mbak Maria. Diskusi tentang makna keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965 adalah penting, baik bagi kita yang hanya untuk menghadapi masa kini (sekarang ini) saja, maupun kita yang berkepentingan untuk menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Paling tidak diskusi ini dapat membuka sebagian dari sisi-sisi penting dari peristiwa G30S-1965 yang masih dianggap gelap.

.. Sebaliknya, apabila menganggap analisa Bung Karno dalam peristiwa G30S salah, artinya pimpinan PKI dianggap tidak keblinger atau menganggap yang keblinger adalah seluruh bangsa, seperti yang dikemukakan oleh Bung Asahan, atau Bung Karno yang keblinger (Bung Samiaji) maka dengan sendirinya tidak ada manfaatnya untuk mendiskusikan “makna keblingernya pimpinan PKI” lebih lanjut. Diskusi ini dengan sendirinya berakhir setelah (Bung Asahan). pihak yang tidak sependapat, telah melakukan tuduhan yang tidak benar, berlebihan, kurang atau tanpa bukti, berbau sentimen, provokativ atau menjurus kepada fitnah. Artinya Bung Asahan sudah menutup pintu untuk apapun yang namanya kritik.

.. Saya melihat ada dua fakta yang dijadikan dasar analisa Mbak Maria dalam mendukung analisa Bung Karno tentang keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965, yakni pertama, fakta tentang adanya konflik intern di dalam partai, yakni konflik antara kelompok Ismail Bakri (disebut sebagai kelompok ML), kelompok (kekiri-kirian), dan kelompok moderat (Sudisman cs), dimana kelompok Aidit sebagai kelompok dominan, dan yang kedua, fakta tentang adanya keputusan PB PKI untuk tidak mendahului.

.. Saya setuju dengan Mbak Maria bahwa pimpinan PKI, (menurut Bung Djoko Sri Moeljono bisa seorang Aidit, bisa "beberapa", 2 atau 3 orang), “memang benar” telah keblinger. Keblingernya pimpinan PKI disebabkan telah melanggar keputusan (strategis) PB PKI untuk “tidak mendahului”, dan lebih lagi dengan adanya pernyataan di Harian Rakyat tgl 2 Oktober 1965. Dengan adanya pernyataan tgl 2 Oktober ini, menurut Bung Bambang Hutagalung, pimpinan PKI telah melarang semua anggota dan simpatisan PKI melakukan perlawanan

.. Lebih dari itu, saya berpendapat bahwa keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965 adalah merupakan puncak dari akumulasi kesalahan politik dan organisasi PKI bersumber pada kesalahan ideologi. PKI tidak pernah mau belajar pada kesalahan-kesalahan yang telah dibuat pada masa lampau, seperti kesalahan yang dibuat pada tahun 1926, 1945, dan tahun 1948. dalam peristiwa Madiun tahun 1948 pimpinan PKI menuding Hatta sebagai , karena provokasinya, maka dalam peristiwa G30S-1965 menuding Soeharto sebagai penyebab dibantainya ratusan ribu anggota maupun simpatisan PKI. Sehingga sampai saat sekarang ini yang selalu kita persoalkan hanya bagaimana mengadili Soeharto, bagaimana meminta kompensasi ataupun rehabilitasi. Siapa yang kita suruh mengadili Soeharto ? Siapa yang kita tuntut untuk memberi kompensasi atau rehabilitasi ? Apakah ini bukan suatu ilusi ?

.. Makna dari keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965 adalah bagaimana kita bisa melakukan koreksi dengan benar atas kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat pada masa yang lalu. Makna pengakuan akan keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965 tidak lain adalah pengakuan atas kesalahan PKI dalam peristiwa tahun 1965.

Jakarta, 13 Oktober 2005

Waki Waji

From: Waji Waki

Sent: Friday, October 14, 2005 1:33 AM

Subject: Makna keblingernya pimpinan PKI

Salam,

Saya telah mengikuti diskusi yang diawali oleh Mbak Maria Harsono dengan Bung Asahan Aidit tentang ¡§Makna apa dibalik kata "KEBLINGER" pemimpin PKI dalam peristiwa G30S-65¡¨?, kemudian menjadi berkembang setelah mendapat beberapa respon, seperti respon dari Bung Hesri, Bung Samiaji, Bung Sri Moeljono, dan mungkin yang lain. Saya ingin ikut berdiskusi dengan pendapat seperti berikut:

Persoalan pertama adalah apakah dalam peristiwa G30S-1965, Pimpinan PKI ¡§benar¡¨ atau ¡§tidak benar¡¨ telah keblinger seperti yang dimaksud Bung Karno ?. Apabila Pimpinan PKI (bukan PKI ?) benar, telah keblinger dalam peristiwa G30S seperti yang dikemukakan oleh Mbak Maria Harsono, maka diskusi tentang makna dari keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-65 dapat , dan saya kira diskusi inilah yang dikehendaki oleh Mbak Maria. Diskusi tentang makna keblinger-nya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965 adalah penting, baik bagi kita yang hanya untuk menghadapi masa kini (sekarang ini) saja, maupun kita yang berkepentingan untuk menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Paling tidak diskusi ini dapat membuka sebagian dari sisi-sisi penting dari peristiwa G30S-1965 yang masih dianggap gelap. Sebaliknya, apabila menganggap analisa Bung Karno dalam peristiwa G30S salah, artinya pimpinan PKI dianggap tidak keblinger atau menganggap yang keblinger adalah seluruh bangsa, seperti yang dikemukakan oleh Bung Asahan, atau Bung Karno yang keblinger (Bung Samiaji) maka dengan sendirinya tidak ada manfaatnya untuk mendiskusikan ¡§makna keblingernya pimpinan PKI¡¨ lebih lanjut. Diskusi ini dengan sendirinya berakhir setelah (Bung Asahan). pihak yang tidak sependapat, telah melakukan tuduhan yang tidak benar, berlebihan, kurang atau tanpa bukti, berbau sentimen, provokativ atau menjurus kepada fitnah. Artinya Bung Asahan sudah menutup pintu untuk apapun yang namanya kritik.

Saya melihat ada dua fakta yang dijadikan dasar analisa Mbak Maria dalam mendukung analisa Bung Karno tentang keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965, yakni pertama, fakta tentang adanya konflik intern di dalam partai, yakni konflik antara kelompok Ismail Bakri (disebut sebagai kelompok ML), kelompok (kekiri-kirian), dan kelompok moderat (Sudisman cs), dimana kelompok Aidit sebagai kelompok dominan, dan yang kedua, fakta tentang adanya keputusan PB PKI untuk tidak mendahului.

Saya setuju dengan Mbak Maria bahwa pimpinan PKI, (menurut Bung Djoko Sri Moeljono bisa seorang Aidit, bisa "beberapa", 2 atau 3 orang), ¡§memang benar¡¨ telah keblinger. Keblingernya pimpinan PKI disebabkan telah melanggar keputusan (strategis) PB PKI untuk ¡§tidak mendahului¡¨, dan lebih lagi dengan adanya pernyataan di Harian Rakyat tgl 2 Oktober 1965. Dengan adanya pernyataan tgl 2 Oktober ini, menurut Bung Bambang Hutagalung, pimpinan PKI telah melarang semua anggota dan simpatisan PKI melakukan perlawanan

Lebih dari itu, saya berpendapat bahwa keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965 adalah merupakan puncak dari akumulasi kesalahan politik dan organisasi PKI bersumber pada kesalahan ideologi. PKI tidak pernah mau belajar pada kesalahan-kesalahan yang telah dibuat pada masa lampau, seperti kesalahan yang dibuat pada tahun 1926, 1945, dan tahun 1948. dalam peristiwa Madiun tahun 1948 pimpinan PKI menuding Hatta sebagai , karena provokasinya, maka dalam peristiwa G30S-1965 menuding Soeharto sebagai penyebab dibantainya ratusan ribu anggota maupun simpatisan PKI. Sehingga sampai saat sekarang ini yang selalu kita persoalkan hanya bagaimana mengadili Soeharto, bagaimana meminta kompensasi ataupun rehabilitasi. Siapa yang kita suruh mengadili Soeharto ? Siapa yang kita tuntut untuk memberi kompensasi atau rehabilitasi ? Apakah ini bukan suatu ilusi ?

Makna dari keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965 adalah bagaimana kita bisa melakukan koreksi dengan benar atas kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat pada masa yang lalu. Makna pengakuan akan keblingernya pimpinan PKI dalam peristiwa G30S-1965 tidak lain adalah pengakuan atas kesalahan PKI dalam peristiwa tahun 1965.

Jakarta, 13 Oktober 2005

Waki Waji

***************************

From: maria harsono

Sent: Saturday, October 15, 2005 6:15 AM

Subject: Makna keblingernya pimpinan PKI

tambahan keterangan sedikit:

kekuatan revolusioner adalah kekuatan yg setia kepada revolusi agustus 45, PKI yg mamu membikin Indonesia menjadi negara satelit Moskow kaya Cuba cuma kulitnya revolusioner, isinya adalah reaksioner, adalah pengkhianatan thd revolusi agustus 45 dan Pancasila.

maria harsono emhar76@yahoo.com.hk

================================

Bapak Waki Waji yth,

Saya tertarik sekali dengan uraian point (4) bapak, yaitu mengenai Mengapa PKI bisa keblinger, hal ini disebabkan PKI tidak bisa secara baik menyimpulkan kesalahan2 1926, 1945, dan 1948. PKI lebih banyak mencari kesalahan lawan2nya, kesalahan Kolonial Belanda, kesalahan Hatta, kesalahan Suharto dan kesalahan nekolim dlsb.

Dewasa ini saya memperhatikan masih ada secuil (karena jumlahnya paling banter cuma ratusan orang tua yg sudah jompo dan ubanan) sisa2 PKI yg berkepala batu tidak mau memeriksa kesalahan2 PKI, cuma maki2 Suharto biadab, menuntut agar Suharto diseret ke pengadilan. . . . . . . .

Tapi orang2 ini rajin menyebarkan racun2 berbisa ke tengah2 generasi muda Indonesia yang masih hijau pengalaman perjuangan politiknya, selalu me-nutup2i kesalahan2 serius dari PKI, selalu mem-besar2kan kesalahan Suharto dengan orbanya. Mengapa saya tampil ke media internet ini, justeru karena tidak tega melihat anak muda dicekoki propaganda palsu sisa2 Komunis semacam itu. Takut mereka kelak jadi umpan peluru kayak pembantaian 1966 lagi, sedangkan yang menghasut ngumpet di luarnegeri.

Mengapa kekuatan revolusioner dalam AD begitu benci kepada kekuatan reaksioner PKI, mengapa CIA terlibat dalam gerakan pembasmian PKI di Indonesia?

Satu hal yang sering dilupakan atau sengaja dilupakan, fakta hidup bahwa PKI adalah sekutu bahkan kakitangan Gerakan Komunis Internasional yang berpusat di Moskow dan Beijing, dengan Stalin dan Mao Tjetung sebagai gembongnya, yang berkhayal membikin seluruh dunia menjadi merah, membikin Indonesia menjadi negara satelit mereka.

Tanpa kita menyadari fakta ini, kita tidak bisa memahami mengapa kekuatan revolusioner Indonesia begitu benci kepada PKI dan sejak lama mau membasminya. Kitapun tidak bisa memahami mengapa CIA ikut campur tangan dalam menying-kirkan Sukarno dan membasmi PKI.

ABRI yang dilahirkan dalam kanca revolusi Agustus 1945, adalah kekuatan utama kaum revolusioner Indonesia. PKI sangat menonjol sifat reaksionernya dalam peristiwa Madiun, yang mau membikin Indonesia menjadi jajahan Moskow.

CIA sebagai invisible gouvernment dari USA selalu waspada terhadap kaki tangan Moskow yang mengacau di berbagai negeri terbelakang, terutama bekas jajahan negeri kapitalis Barat.

Campur tangan CIA adalah kewajaran dalam konteks Perang Dingin. Jika Indonesia betul2 mempertahankan garis politik non Blok, bersikap netral dalam menghadapi bentrokan 2 superwower. Menjalankan politik bersahabat dengan seluruh bangsa2 di dunia dan semua negara di dunia. Maka Indonesia akan seperti Thailand, Singapura, Malaysia, India dll, tidak mengenal apa yang dinamakan tragedi nasional 65 yang menyeret korban jiwa yang begitu besar.

Mengapa PKI dengan terang2an menyebut dirinya sebagai Partai tipe Lenin? Mengapa pimpinan PKI getol berkunjung ke Moskow dan Beijing?

Ciri2 utama Partai tipe Lenin adalah merebut kekuasaan politik dengan kekerasan bersenjata, mendirikan diktatur burjuis kecil (diktatur proletariat cuma mereknya saja, tetapi isinya adalah diktatur burjuis kecil yang mengaku dirinya sebagai elemen termaju proletar). yang membikin kaum revolusioner dalam ABRI selalu waspada, selalu siap menghancurkan PKI jika mau coba2 meniru Lenin merebut kekuasaan dengan kekerasan bersenjata. G30S adalah petualangan avonturisme dari PKI. Adalah contoh tipikal PKI mau merebut kekuasaan dgn kekerasan bersen-jata.Mengapa berakhir dengan kegagalan?

Sisa2 PKI ber-teriak2, bahwa PKI tidak ada niat secuilpun untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan bersenjata. Ini adalah penipuan yang paling tidak tahu malu dan paling kurang ajar. G30S menemui kegagalan disebabkan oleh sigapnya kekuatan revolusioner AD yang dipimpin oleh Suharto, yang menolak perintah Sukarno untuk mengangkat Pranoto (minimal simpatisan PKI) sebagai pengganti A. Jani. , dalam tubuh PKI sendiri terjadi cakar2an antara berbagai faksi, antara faksi Aidit, faksi Sudisman, faksi Ismail Bakri dan faksi revisionis Nyoto. sebabnya mengapa PKI tidak mampu menyatukan pendapat, menyatukan langkah serempak dan  kilat untuk melakukan perlawanan terhadap offensif revolusioner dari Suharto. Belakangan terjadi kompromi antara faksi Sudisman dan faksi Ismail Bakri, sebab faksi Aidit dan faksi Nyoto menjadi berantakan setelah gembongnya mati terbunuh. Kompromi ini menelurkan apa yang dinamakan Otokritik Politbiro CC PKI 1966. pokok dari Otokritik ini adalah TIDAK mau mengakui kesalahan utama PKI, bahkan secara membabi buta meneruskan petualangan politiknya dengan menunjukan jalan keluar PKI adalah KIBARKAN TINGGI2 PANJI MERAH MARXISME-LENINISME FIKIRAN MAO TJETUNG, melakukan pemberontakan bersenjata di Blitar Selatan dan Kalbar, berkhayal dari desa kepung kota kaya di Cina.

Mengapa rekonsiliasi nasional sangat sulit terlaksana?

Hal ini per-tama2 disebabkan oleh secuil sisa2 PKI masih terus ber-kaok2 menyatakan dirinya sebagai orang suci yang tak berdosa, masih ber-kaok2 menuntut pahlawan nasional Suharto supaya diseret ke pengadilan. Selama kalian tidak mengakui kesalahannya, bagaimana mungkin rekonsiliasi nasional bisa terwujud?

Hari ini, tgl 15 Oktober 2005, secuil sisa2 PKI bikin pertemuan di Holland, pertemuan semacam ini pasti digunakan oleh sisa2 PKI buat mohon belas kasihan kepada rakyat Indonesia, bahwasanya mereka samasekali tak berdosa, bahwa PKI adalah kelompok orang suci yang tangannya tidak berlumuran darah. Saya ingin peringat-kan mereka, bahwa semakin sering kegiatan itu diadakan, semakin kepalabatu menyatakan PKI tak berdosa, semakin jauh REKONSILIASI NASIONAL terwujud. PKI dan sisa2nya memang betul2 keblinger, mereka berkhayal lawan2 politiknya ikut keblinger, sama dengan berkhayal matahari terbit di ufuk barat.

ttd.
Maria Harsono.

****************************

Asahan Aidit wrote:>

Ya, memang pada hari ini, 15 Oktober 2005, di Amsterdam, tepatnya tadi pagi jam 11.00, gedung tempat pertemuan bagi peringatan 40 tahun tragedi berdarah G30S-65 telah dipenuhi oleh para undangan yang selain yang berdomisili di Belanda, tapi juga berdatangan banyak teman dari Swedia, Jerman, Perancis dan bahkan yang dari Indonesia. Semangat mengutuk perbuatan keji anti kemanusiaan dari Suharto, tidak berubah bermutasi satu milimikronpun. Ratusan pengunjung yang memenuhi undangan bukan saja yang dari korban tragedi 65, tapi juga yang bukan korban, orang-orang Indonesia yang hidup di Belanda dan bahkan dari orang-orang Belanda sendiri yang bersimpati kepada rakyat Indonesia korban penyembelihan Suharto. Setiap selesai seseorang yang memberikan ceramah, lalu diberikan kesempataan pada setiap hadirin untuk mengajukan pendapat secara bebas. Banyak pendapat yang diajukan maupun pertanyaan yang sangat berbeda beda dari berbagai sudut pandang. Tapi tidak ada satu pendapat serongpun yang diajukan yang bersifat membela ataupun menutupi dosa-dosa Suharto dalam membunuh jutaan manusia Indonesia yang tidak bersalah sesudah terjadi peristiwa G30S-65 , apalagi yang menganjurkan agar minta ampun pada Suharto dan tentu saja tidak sorangpun yang mengusulkan agar Suharto diangkat jadi pahlawan Nasional. Jadi saya harus sangat mengecewakan harapan orang yang mendambakan Suharto dianggap sebagai pahlawan nasional. Jauh panggang dari api kata pepatah. Dari kaum muda yang masih berusia 4 tahun ketika peristiwa terjadi,atau malah yang belum lahir itu, ketika memberikan pendapat, juga tidak punya pikiran aneh dan serong dan memang di antara para hadirin yang terdiri dari bermacam latar belakang sosial, asal usul serta pandangan politik serta agama, ternyata tidak ada seorangpun yang keblinger dan mengagumi Suharto sebagai pahlawan nasional atau bapak pembangunan. Di mata setiap orang, Suharto adalah seorang diktator fasis yang punya dosa yang tak terbilangkan besarnya terhadap bangsa Indonesia yang telah dia bikin mati, bikin bodoh, bikin sengsara, bikin keblinger seperti dia sendiri. Kalau ada orang mengira bahwa pertemuan tadi pertemuan yang hanya untuk membenarkan kesalahan PKI, pertemuan para manusia tua bangka yang berkepala batu menganggap diri suci dan tidak mau mengakui kesalahan-kesalahan dalam intern Partai, maka perkiraan yang demikian, dengan sangat sayang ,saya harus sekali lagi orang uang punya persangkaan demikian. Dan pula manusia-manusia korban G30S-65 yang dianggap sebagai "bersembunyi" di luar negeri, juga adalah anggapan yang sama sekali meleset. Ini orang-orang yang dituduh bersembunyi, malahan menuntut janji-janji Yusril yang kosong melompong itu yang pernah menjanjikan akan mengurus kepulangaan para korban G30S-65 dengan cara yang mudah dan terhormat. Tidak ada seorangpun yang bersembunyi dan semuanya legal dan ingin pulang ke tanah air mereka ,sebagai hak suci warga negara Indonesia yang telah dilanggar secara kasar oleh Suharto semasa Orba.

Semua dugaan meleset dan pikiran-pikiran serong berpihak ke Suharto dan mengutuk (pada hakekatnya) semua korban G30S-65, ternyata pikiran yang terpencil, tersisihkan dan bahkan juga adalah yang sesungguhnya keblinger, sesat jalan, putus asa secara tragis yang mungkin sudah tak mungkin diselamatkan lagi Betapapun besarnya perbedaan pendapat, bahkan di dalam keluarga sendiripun, adalah wajar, normal, di alam demokrasi atau ingin menuju masyarakat yang demokratis. Tapi bila telah menyebrang ke pihak Suharto, ke pihak musuh secara terang-terangan, blak-blakan dan sambil mencaci maki pula maka itu adalah sudah menjadi dua front yang antagonistis. Di sini bukan lagi perjuangan saling meyakinkan di antara sesama kawan, tapi sudah menjadi dua front yang antagonistis yang tidak mungkin didamaikan. Diskusi akan menjadi sia-sia: Keyakinanmu, keyakinanmulah! Keyakinanku keyakinankulah.

asahan aidit.

******************************

ali mohamad <rssidr@yahoo.com.au> wrote:

To: sastra-pembebasan@yahoogroups.com

CC: Kang Becak <kbecak@yahoo.com>

Date: Sun, 23 Oct 2005 10:11:07 +1000 (EST)

Subject: Re: #sastra-pembebasan# G30S/PKI (mengapa bukan gestok ?) Tragedi Nasional 1965!

Yth semua.

Engga usah..... pakai saja G30S tapi tampa embel-embel PKI. Peristiwa itu kan  bukan hanya menyangkut PKI tapi pelaku gerakannya banyak. Dan kalau dilihat awalnya bukankah itu punya kaitan dengan dewan jenderal. Diluar saling tuduh marilah sekarang kita berpikir jernih. Situasi politik 65 memang diwarnai dengan semangat anti kolonialisme, imperialisme termasuk boneka Inggris yang namanya Malaysia. Subandrio kan memunculkan dokumen Gilcrist yang didapat ketika menyerbu kedutaan Inggris beberapa waktu sebelumnya. Jangan lupa Umardani itu muncul karena peristiwa gagalnya AURI membantu peristiwa Aru. (Saat itu atas tuduhan Soedomo dan Mursid, AURI tidak berbuat sesuatu makanya Suryadarma berhenti sebagai menpangau). Padahal kelebihan Umar Dani karena soal senioritas saja. Ketika Soekarno mulai curiga pada Yani (Yani kan makin dekat pada Amerika ?. Ingat penyerbuah Riau zaman PRRI, Amerika bantu TNI AD), otomatis Umar Dani dekat dengan Soekarno, maka diangkat dia sebagai panglima mandala dalam Dwikora. Cilakanya Soeharto jadi wakilnya. Tapi Umar Dani kurang tegas ketika peristiwa G30S meletus (istilah G30S benar juga, memang gerakannya sudah mulai tanggal 30 September 1965 malam hari) seolah dia baru menyadari apa yang terjadi. Dan seolah tidak punya hubungan dengan Supardjo. Apa benar ? (baca bukunya Heru Atmodjo). Apakah Soekarno juga pura-pura tidak tahu ?. Artinya sebenarnya semuanya sudah curiga atau setengah tahu awal gerakan peristiwa G30S. Dan saatnya ya ketika munculnya isu dewan jenderal itu. Cilakanya lagi PKI terbawa kelibat. Padahal memang sudah dikonsep mau dihancurkan. (baca tulisan saya the unseen structure). Coba pikirkan kalau pakai teori counterfactual, andaikata penugasan penculikan para jenderal TNI tidak disambung dengan exsekusi, apa jadinya. Belum tentu PKI dihabisi. Bisa-bisa pemerintahan Soekarno jalan terus. Atau katakanlah kalau Soekarno nurut Soeharto mau disuruh bubarkan PKI, maka Soekarno tetap presiden. Dan tentara tidak jadi pemain

tunggal. Sebenarnya ada dua tokoh penting yang bisa ngedep agar Soeharto tidak naik. Pertama adalah Ibrahim Adjie (dia kuat) dan Umar Dani. Keduanya mestinya bisa kontak satu sama lain. Dibawah Pangti (Soekarno) dalam 24 jam kemelut Jakarta mestinya bisa beres. Bukankah Pak Martadinata juga nurut Soekarno. Kenapa jadi Soeharto yang naik ?. Dia kan pemain rangking kedua. Ini mungkin juga kurang tegasnya Soekarno, padahal gerakan Untung itu amburadul (baca bukunya Heru Atmodjo). Tap sudahlah nasi kan sudah jadi bubur. Yang penting bagaimana PKI jangan terus menerus jadi kambing hitam sampai ahir zaman. Akibatnya parah karena urusan partai sangat melekat dengan tokoh. Dan tokoh punya anak cucu. Dalam PKI setelah G30S kan juga terjadi kemelut internal (baca pembelaan Soedisman). Kita juga perlu bertanya kenapa PKI diam saja ketika G30S meletus. Apa engga bisa mengadakan pembersihan internal partai ?. Mungkin yang paling baik pakai strateginya PSI dan Masyumi, yaitu bubarkan partai sendiri.

Ini sih cuman ngomongan jalanan. Jangan diambil hati yah.......

**********************************************

heri latief <herilatief@yahoo.com> wrote:

saya suka memperhatikan gaya penulis yg nulis puisi dari kejadian yang tela terjadi.

misalnya kang becak yg ngakunya tinggal di jepang ini punya gaya nulis puisi yg sederhana aja, gak njelimet,  lumrah dan langsung nyodok ke inti masalah.

GESTOK...

tokoh besar politik indonesia di jaman 65

masuk daftar nama yang tercemar akibat bermain api terbakar tangan sendiri?

riwayat politik kita memang licik bin munafik semua orang tau, semua orang tau...siapa yang berani membunuh demokrasi musti bertanggung jawab pada kebenaran sejarah!

************************************

Kang becak <kbecak@yahoo.com> wrote:

 

PKI,
Lembaran sejarah hitam,

Kini mulai berlubang.

Jangan bertanya siapa yang salah, Dalam Politik,

Karena tidak mungkin ada presiden yang mengkudeta dirinya sendiri.

Tabir hitam mulai terkuak, Ketika Presiden Sukarnopun di "PKI-kan".

Suharto,
Memobilisasi PKI,

Untuk menghabisi orang-orang pro Sukarno seperti Jend. A Yani dan Nasution. Untuk kemudian ia hianati pula PKI demi kekuasaan.

Untuk kekuasaan, Ia habisi pula orang-orang yang telah membantunya menumpas PKI Bagaimana Suharto menghabisi karier Sumitro dan Sarwo Edhi, Bahkan Ali Murtopo, mati dalam kondisi yang tidak jelas.

Tapi mengapa orang masih saja menyebutkan sebagai G30S/PKI, Bukan Gestok, Seperti yang telah diteriakkan Bung Karno ?

Sejarah perebutan kekuasan, Memang sengaja diburamkan.

Seburam fungsi kekuasaan dalam kehidupan.

**********************************************

Yth Bapak PK, eh, Buk Maria Harsono,

Apakah Ibu mau mengutuk Bapak anda sebagai pimpinan Pemuda Rakya, yang lari terbirit-birit dari satu tempat ke tempat lain untuk menyelamatkan dirinya dan meninggalkan tanggung jawab sebagai pimpinan pemuda yang merupakan onderbow PKI. Saya kira baik juga anda mengutuknya melalui milis ini. Dengan demikian, walaupun anda sembunyi di Hongkong, rakyat Indonesia mungkin mau memaafkan kejahatan anda dan anda yang meninggalkan anggota Pemuda Rakyat dicincang oleh rezim Orba fasis Soeharto.Dengan teriak-teriak, anda mau membersihkan diri dan dan bapak anda. Ah, jangan gitu dong. Jangan ekstrem kiri lari ke ekstrem kekanan, memuja pembunuh Soeharto dan mengangkatnya jadi pahlawan. Kalau demikian, nanti anda akan terus menjadi badut politik dan bunglon.

Kesawan.
==========

----- Original Message -----

From: maria harsono

To:

Sent: Saturday, October 22, 2005 5:02 PM

Subject: [HKSIS] Akankah PKI hidup kembali

Asahan yth,

terharu saya membaca surat bapak ini, sungguh keterlaluan mereka yang selalu meng-hubung2kan bapak dengan DNA. Tampaknya bapak cuman anggota biasa, bukan pimpinan, lebih2 bukan pimpinan pusat (Polit Biro).

nasional 65-66 memberi pelajaran yang sangat berharga buat rakyat Indonesia, yaitu jangan main2 dengan api revolusi, sebab akan membakar diri sendiri, dan membakar para simpatisan diri sendiri. Pada 1950, setelah berdiri RIS, ter-lebih2 setelah berdiri RI, sebetulnya revolusi Agustus 45 sudah selesai, yang belum selesai adalah pembangunan ekonomi. Tapi PKI terus menerus mengobarkan api revolusi, selalu mengatakan revolusi agustus 45 telah gagal, karena kekuasaan belum jatuh ditangan PKI. berjuang untuk merebut kekuasaan politik, artinya harus menyingkir-kan oknum2 anti Komunis yg berada dalam kabinet RI. terakhir oknum2 anti Komunis ini dilukiskan sebagai 3 setan kota dan 7 setan desa, harus disingkirkan kaum kepala batu ini.

pimpinan PKI tidak sadar, bahwa tidak ada penguasa yang mau dengan sukarela turun dari panggung sejarah, turun dari panggung kekuasaan politik?

pimpinan PKI sudah lupa akan peristiwa Madiun yang dilukiskan sebagai teror putih ke-2? (keterangan: teror putih pertama adalah 1926, teror putih ke-3 adalah 1965)

1948, anggota masih sedikit, maka korbannya juga tidak banyak. Ketika 1965 anggota dan simpatisan PKI sudah meliputi jumlah 20 juta, maka tidak heran yang mati terbunuh mencapai 600 ribu bahkan ada yg bilang 3 juta.

bapak tidak mau di-hubung2kan dgn abangnya DNA, maka per-tama2, bapak harus mengutuk DNA, karena DNA main2 dgn api revolusi, akhirnya bukan saja dirinya terbakar, juga menyeret korban adik2nya Murad, Sobron dan Asahan, menyeret korban rakyat yang tidak berdosa.

me-nyalah2kan orang antiKomunis, mereka pasti akan membasmi PKI dan pengikut-nya jika dianggap PKI dan pengikutnya sangat berbahaya dan mau membasmi mereka.

pasti ikut campur tangan dlaam usaha membasmi PKI, karena PKI menganggap imperialis AS adalah musuh nomersatu rakyat Indonesia.

memperhatikan, banyak sisa2 PKI di Eropa maupun di Indonesia belum sadar akan kesalahan fatal PKI, kebisaannya cuma mengutuk Suharto dan Orba, tapi tidak berani mengutuk pimpinan Partainya sendiri, terutama Politbiro CC PKI yang menjadi biangkerok G30S.

melihat bapak masih memupuri PKI, se-olah2 PKI mau menempuh jalan damai, se-olah2 PKI tidak ada persiapan untuk perjuangan bersenjata. Mengapa bapak masih terus menerus menipu generasi muda Indonesia?

SANGAT MUSTAHIL jika PKI mau menempuh jalan parlementer dan jalan damai, orang antiKomunis begitu kejamnya membantai ratusan ribu anggota dan simpatisan PKI.

adalah logika yang sangat sederhana sekali, dimana ada aksi pasti ada reaksi, aksinya tambah keras, reaksinya juga tambah keras. Aksinya tambah kejam, maka reaksinya juga bertambah kejam.

ragu2 bapak bisa sadar dari kekeliruan serius ini, rupanya bapak2 ini seperti yang dilukiskan oleh Mao Tjetung, gagal, mengacau lagi, gagal lagi terus sampai musnah.

Harsono

**********************************
<annakarenina@quicknet.nl>

sendiri bukan mahluk politik dan saya sangat benci dengan politik. Tapi saya menyedari, sekali lahir ke dunia, maka tak terhindarkan akan terlibat dalam politik dan karenanya harus mempelajari dan ngerti politik. Partai politik adalah sarangnya para demagog dan orang-orang munafik yang korban mereka, pertama-tama adalah orang-orang yang tidak ngerti politik. Seandainya berjuta massa yang dibunuhi Suharto itu, ngerti sedikit politik, tentu pembantaian tak akan sedemikian hebatnya dan pasti akan menemui perlawanan. Tapi karena buta politik oleh tidak terdidik baik akan soal-soal politik elementer, mereka jadi korban terbesar, tidak tahu apa-apa meskipun juga tidak berdosa. Karenanya rakyat Indonesia harus mendapatkan pendidikan politik, kesedaran poltik agar tidak menjadi kuda tunggangan para penguasa dan budak-budak Partai politik dan ngerti politik bukan berarti harus masuk partai tertentu atau menjadi politikus (kalau memang tidak suka). Buta politik, lebih berbahaya daripada buta huruf.Pendekatan saya pada politik bukanlah sebagai hobby atau ingi njadi politikus, tapi didorong oleh kewaspadaan agar tidak terjerumus ke jurang penipuan politik dan jadi budak buta tuli dari politik. Jadi semakin saya benci terhadaap politik, semakin terdorong untuk mempelajarinya. Untuk turut-turut jadi pendiri Partai politik?. Saya bukan organisator dan tidak punya bakat secuilpun untuk jadi organisator. Organisator yang baik adalah orang-orang yang selalu datang terlambat menghadiri rapat, memilih pekerjaan yang paling ringan dan paling sedikit untuk dirinya sendiri dan paling ahli membagi -bagi pekerjaan untuk orang lain hingga dia sendiri tidak kebagian pekerjaan.

kadang-kadang, politik, juga bisa memberikan inspirasi untuk dunia kepenulisan, termasuk penulisan sastra. Sastrawan yang tidak ngerti politik, tidak mungkin akan menghasilkan karya sastra yang berarti apalagi bermutu tinggi karena politik adalah bagian dari kehidupan, bagian dari pemikiran sosial dan juga bagian dari pemikiran budaya manusia. Mungkin yang saya benci itu adalah bagian-bagian politik yang kejam dan biadab, munafik dan penuh tipu daya.

saja mau mendirikan PKI yang bagaimana tapi kalau soal nama, apalah arti sebuah nama. Partai Komunis tidak sama dengan Partai yang bukan Komunis dan ini adalah masaalah hakekat, inti dari isi sebuah partai politik. Hanya rakyat yang ahir-ahirnya yang akan menentukan apakah Partai Komunis masih diperlukan atau tidak dan bukan larangan atau anjuran sekelompok orang. Kalau dia harus lahir, dia akan lahir dengan berbagai cara, tidak tergantung apakah TAP MPRS XXV 1966 dicabut atau tidak.Atau dia tidak lahir-lahir meskipun sudah dibolehkan atau dibiarkan lahir. Semua itu akan ditentukan oleh kesedaran politik bangsa Indonesia. Tapi yang jelas generasi muda sekarang ini belum sepenuhnya bebas dari trauma politik dan dari peristiwa mandi darah 65 akibat efek lanngsung maupun tidak langsung politik pembodohan dan pemberangusan daya kritis generasi muda. Bahkan yang dari generasi orang-orang PKI sendiripun tidak sedikit orang-orang tua yang tidak bisa jadi dewasa, sedangkan generasi yang lebih mudanya terlalu cepat menua tapi dengan sifat kekanak-kanakan dalam berpolitik. Mereka lebih banyak menggunakan perasaan sentimen pribadi daripada sikap politik yang krtitis dan menggunakan metode analisis dalam menanggapi masaalah-masaalah politik praktis maupun teoritis. Umpamanya karena saya adalah adik dari DN.Aidit, setiap ada perbedaan pendapat, saya lalu dikutuk karena adik DN Aidit, seolah apa saja yang saya katakan sudah tak ada harganya, tidak bernilai dan diremehkan serendah rendahnya, seolah hak-hak pribadi saya sebagai manusia, pemikiran serta pendapat saya hanya cocok sebagai penghuni keranjang sampah. Semua yang bernama aidit maupun berbau aidit diasosiasikan sebagai setan sebagaimana yang telah terprogram dalam komputer Suharto dan Orba-nya. Namun saya yakin, sentimen pribadi dalam politik tidak akan menyelesaikan soal dan kita akan terus hidup dalam lautan soal-soal yang tidak bisa diselesaikan.

asahan aidit.

----- Original Message -----

: Hutagalung Bambang

: Friday, October 21, 2005 11:22 AM

: Re: [HKSIS] Akankah PKI hidup kembali

Maria yg budiman,

tidak akan hidup kembali. Ini dimaksudkan PKI model lama yg dilahirkan pada 1920 dan tamat riwayatnya pada 1966.

PKI yg didirikan oleh Moskow melalui agennya yg bernama Sneevleet (Partai Komunis Belanda).

yang dik Maria bilang itu, sedikitpun tak ada bau2nya PKI, mengapa sih mesti make nama PKI? kenapa nggak pake nama baru misalnya POM (Partai Orang Miskin) atau PAR (Partai Akar Rumput).

kita tidak berbeda pendapat, cuma pengemukaannya saja yg beda.

Hutagalung.

maria harsono <emhar76@yahoo.com.hk> wrote:

Pak Bambang yth,

berbeda pendapat dengan bapak dalam pasal ini.

berpendapat PKI masih ada kemungkinan hidup kembali, sebab masih ada 40-60 juta penganggur dan lapisan akar rumput yang merupakan lahan subur buat kelahiran kembali PKI.

PKI yang akan dilahirkan kembali itu, cuma namanya saja sama dgn PKI dulu, tapi segala-galanya serba baru, yg dimaksud dgn serba baru?

Partai yang akan dibangun dibimbing oleh Pancasila, yang anti perjuangan klas, anti diktatur proletariat, anti Leninisme, anti Stalinisme dan anti Maoisme.

Menggalang front persatuan se-luas2nya dengan seluruh bangsa Indonesia yang setuju dengan Pancasila, tanpa perduli asal klas, asal Ras, keyakinan agamanya dan kesukuannya. Yang terpenting adalah kekuatan yang anti revolusi dan anti revolusioner.

Memperjuangkan hak2 azasi manusia dan azas2 demokrasi dengan jalan parlementer, merebut kekuasaan politik melalui pemilu.

Yang disebut sebagai TRI PANJI PKI gaya baru, yang akan membentuk pimpinan pusat baru, yang bersih dari unsur2 pengikut Lenin, Stalin Tjetung, dan DN Aidit, kira, PKI yang semacam ini pasti disambut dengan gembira kelahirannya oleh seluruh bangsa Indonesia yang cinta damai. Golkar ABRI dan Orba pasti mau bekerja sama dengan PKI seperti ini, yang menutup kemungkinan timbulnya tragedi nasional a la 1965, sebab tak ada lagi politik revolusioner main ganyang imperialisme, ganyang feodalisme, ganyang 10 setan dan siluman. Tak ada lagi cita2 membangun masyarakat yang tidak ada sistim penghisapan manusia atas manusia lagi, cita2 utopi yang menimbulkan ketegangan sosial saling ganyang antara klas penghisap dengan klas terhisap. Kontradiksi antara majikan dengan buruh diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat.

Bagaimana pak Asahan? Apakah ada minat untuk ikut menjadi salah seorang pendirinya?

Harsono.

*******************************

Bambang <bambanghutagalung1942@yahoo.co.uk>

tak mungkin hidup kembali. Tapi perlawanan rakyat melawan ketidak adilan, membasmi kemiskinan pasti akan berjalan terus, ini adalah sejarah.. Yang sudah masuk museum (PKI), cuma dijadikan bahan studi, diskusi dan perdebatan, seperti perdebatan antara Emhar versus Asahan.

Hutagalung

***************************************

<annakarenina@quicknet.nl> wrote:

Aidit:

AKANKAH PKI HIDUP KEMBALI

periode 1951-1965 adalah dilahirkan untuk menempuh jalan damai. Tapi ternyata kemudian ditindas dengan kekerasan oleh kekuatan-kekuatan anti Komunis dalam negeri dengan kerja sama kekuatan-kekuatan anti Komunis Internasional. PKI periode ini tidak dilahirkan untuk berontak, tidak membangun kekuatan bela diri, tidak membangun tentara sendiri dan tidak punya daeran basis bersenjata seperti umpamanya di Vietnam atau di Malaya atau Philipina. Karena itu PKI selama periode itu adalah juga musuh bebuyutan kaum Trotsky yang menuduh PKI dan bahkan seluruh Partai-Partai Komunis yang di negeri-negeri sosialis seperti Unie Sovyet, Cina, dan di negeri-negeri Sosialis di Eropah Timur sebagai Partai-Partai Komunis Stalinis yang mereka anggap telah menjadi Partai-Partai Penghianat dan agen Stalin, agen Mao dan lebih belakangan lagi sebagai agen Pablois. Menurut kaum Totsky , semua Partai Komunis dalam merebut kekuasaan haruslah berontak dalam rangka r! evolusi permanen sebagai dasar teori mereka. Revolusi tidak boleh istirahat, atau dibikin bertahap-tahap tapi harus terus-terusan berevolui dan menyalakan pemberontakan di seluruh dunia bagi mencapai kemenangan ahir secara bersama-sama. Tapi rupanya yang tidak mengikuti teori revolusi permanen ini, mereka lebih suka istirahat dan jangan terus terusan berevolusi dan berontak karena, itu bikin capek, tidak bisa relax dan juga jadinya hasil revolusi tidak bisa dinikmati di tengah jalan dan harus menunggu lama. Alasan mereka bukan sama sekali konyol dan buktinya kaum Totsky yang berteori revolusi permanen itu, tidak didengarkan orang banyak dan bahkan banyak menerima tentangan hingga teori mereka tidak laku dan tidak hanya itu, bila seorang kader dicap sebagai "Trotskys" ketika itu, kira-kira sama kerasnya sepeti di jaman Suharto, seseorang kena maki: "Dasar lu PKI"

ketika PKI dihancurkan Suharto karena dituduh memberotak untuk merebut kekuasaan negara, kaum Trotsky seperti bangun kembali dari kuburannya untuk mengutuk PKI sambil membenarkan teori mereka: Nah, itulah kalau tidak berani berontak dan mengharamkan pemberontakan, kalian dibantai sampai lumat. Sesungguhnya kaum Trotsky tidak hanya menuduh PKI adalah penghianat ,anti berontak, tapi juga membela PKI hadapan Suharto dengan bukti yang paling meyakinkan, memang PKI tidak ada pikiran untuk berontak dan lebih tahan dibantai daripada harus berontak .PKI 51-65 memang dilahirkan tidak untuk berontak dan tidak pernah ada bukti-bukti untuk itu kecuali tuduhan dan fitnah yang tidak pernah dibuktikan dan hanya dibuatkan bukti palsu dengan perencanaan panjang, teliti dengan kerja sama Internasional anti Komunis Sedunia untuk menghancurkan PKI.

PKI memilih jalan damai dan tidak mendengar nasihat kaum Trotsky agar memberontak saja. Provokasi Madiun 1948, sedikit banyak telah memperingatkan PKI, setiap pergesekan senjata dengan kaum reaksioner dalam negeri adalah cuma menghidupkan teror dan kematian untuk diri sendiri. Mengapa?. Karena PKI sudah sangat terlambat untuk mempersenjatai diri dan massa rakyat yang akan diajak memberontak.Tidak bisa meniru revolusi Cina yang dari desa-desa mengepung kota dan merebut kota-kota. Juga tidak bisa meniru revolusi Rusia dan lalu PKI mengambil jalan tengah. Jalan damai dan lalu membikin teori-teori sendiri seperti umpamanya "Teori 2 Aspek": Pro rakyat dan anti rakyat, pada hakekatnya adalah jalan revolusi damai tanpa memegang senjata, tanpa perang, tapi mengharapkan agar "Aspek Pro Rakyat"dalam bangunan atas di kalangan musuh bisa direvolusionerkan secara damai yang akan diharapkan melancarkan revolusi damai yang berpihak! kepada PKI. Ilusi yang indah itu, bukannya sama sekali terdengar konyol atau goblok. Ada saatnya ketika PKI membesar secara spektakuler dengan jutaan anggota dan puluhan juta simpatisan dan pengaruh PKI menjalar kemana-mana bahkan hingga ke dalam intern angkatan bersenjata sekalipun. Prestasi menonjol demikian sudah pasti tidak bisa dibilang adalah hasil pemikiran orang-orang konyol dan goblok kalau tidak mau menganggap bahwa rakyat Indonesia itu sudah super goblok. Tapi kepintaran manusia, sering-sering adalah juga kebodohannya sendiri. PKI sempat menjadi Partai yang sombong dan arogan. Di saat-saat beginilah faktor subyektif yang sudah tak bisa dikekang itu, bisa membuat mala petaka, apalagi hal itu dipertontonkan dengan kurang ajarnya di depan musuh. Sedangkan musuh itu kejam dan biadab serta licik. PKI hancur binasa bersama massa pengikut atau simpatisannya dan bahkan dengan puluhan juta massa yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu tentang PKI maupun politik. Akibat semua i! ni adalah sifat kejam dan lalim dari musuh yang bukan dilakukan oleh PKI. besar hingga sekarang adalah, mengapa orang-orang PKI beserta massa-nya, dan juga berjuta rakyat yang dikorbankan musuh, tidak melawan, tidak memberontak untuk bela diri demi menghentikan kekejaman dan pejagalan musuh. PKI adalah partai yang tidak siap untuk dikejami atau melawan kekejaman. Salah satu sebab pokoknya adalah ilusi yang telah begitu mendalam yang menganggap jalan damai yang ditempuh PKI tidak memerlukan aksi bela diri yang dipersiapkan sebelumnya dan hanya semata menggantungkan diri pada "aspek pro rakyat" yang di kalangan musuh maupun yang sedang diajak bersahabat. Dan ketika perangkap telah mengena, penghianatan di kiri kanan, muka belakang, hanya turut mencambuk PKI yang sudah terjepit seperti tikus yang terperangkap. Ada pepatah Melayu: "Tikus melupakan perangkap, tapi perangkap tidak pernah melupakan tikus". Begitulah nasib PKI, di depan kaum reaksioner yang diajaknya berdamai dan bersahabat, ia melupakan bahwa musuh tetap saja musuh yang 24 jam menganga seperti mulut perangkap. Sang tikus masih saja terlena oleh teori "aspek pro rakyat".Dan ketika mulut perangkap mengatup, yang dianggap "aspek pro rakyat" tiba-tiba menjelma jadi aspek anti rakyat, dan hancurlah PKI.

pertanyan yang tanpa tanda tanya sebagai judul tulisan ini: "Akankah PKI hidup kembali " yang dari satu pertanyaan menimbulkan berbagai pertanyaan lainnya seperti:

"Bisakah PKI bangun kembali"

"Perlukaah PKI dihidupkan kembali"

"Siapa yang akan menghidupkan kembali PKI"

"Bagaimana cara menghidupkan kembali PKI"

"Apa mungkin PKI kembali dihidupkan"

masih bisa dibikin pertanyaan yang bagus-bagus dan jelek-jelek lainnya.

hal, teori berevolusi memang telah ada masaalah dan bukan hanya itu, bahkan telah timbul pertanyaan apakah revolusi masih diperlukan, mengingat korban dan kegagalan yang sangat besar. "Berusaha, gagal, berusaha, gagal, berusaha lagi gagal lagi dan terus berusaha hingga mencapai kemenangan".

terlalu banyak dilakukan dan tetap gagal atau pada ahir-ahirnya toh, gagal. Tapi memang ada sesuatu yang tetap saja tak hilang-hilang di kepala manusia: melawan ketidak adilan, melawan anti kemanusiaan oleh manusia. Apakah ide demokrasi semata akan mampu memimpin perjuangan yang demikian. Kita sering mendengar: "Untuk berevolusi, harus ada teori revolusi". Dalam kenyataan, teori revolusi itu lahir oleh telah terjadinya sebuah revolusi. Tapi teori revolusi yang baru itu tidak pernah melahirkan revolusi yang baru. Tapi dengan begini bukan berarti telah terjadi satu kebuntuan, bahkan lebih terasa terlalu banyak teori yang ditawarkan tapi saling berlawanan. Apakah rakyat itu sendiri yang akan berevolusi tanpa menggunakan teori yang manapun. Mereka cuma bilang: " aku sudah tidak tahan lagi! ". Dan ini jauh lebih berbahaya dari peringatan "Bahaya laten PKI" karena PKI sudah laten tidak berbahaya. Dia sudah mati.

aidit.

******************************

From: Waji Waki

To: annakarenina@quicknet.nl

Cc:

Sent: Tuesday, October 25, 2005 12:13 AM

Subject: respon tehadap Akankah pki hidup kembali

Ini sebuah analisa serius yang menggugah pemikiran setiap orang dan bukan menjawab tulisan seseorang dengan celaan, makian, merendahkan orang lain dan menganggap diri sendiri yang paling hebat. Saya menghargai dan menghormati seseorang bukan dari setuju atau tidak setuju dengan pendapat orang lain, tapi menilai pemikiran dan analisanya serta argumentasinya. Namun yang punya kebiasaan merendahkan orang lain dengan makian dan sinisme, saya juga telah terbiasa, bahkan sudah sangat terbiasa, seperti makan nasi sehari-hari. Saya sudah biasa direndahkan yang itu juga berarti saya telah turut menonjolkan dan meninggikan orang yang merendahkan saya.

hormat untuk Sdr. Wajiwaki

asahan aidit

******************************

Wajiwaki:

Asahan mengajukan pertanyaan: „Akankah PKI hidup kembali“, dan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya seperti: "Bisakah PKI bangun kembali", "Perlukah PKI dihidupkan kembali", "Siapa yang akan menghidupkan kembali PKI", "Bagaimana cara menghidupkan kembali PKI", dan Apa mungkin PKI kembali dihidupkan" ? jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, sangat tergantung kepada siapa yang akan menjawab.

yang menganggap revolusi sosialis dapat dicapai melalui perjuangan parlementer, yang selanjutnya saya sebut sebagai kelompok pertama, seperti kelompok PKI (1951-1965) tentu akan menjawab dengan keyakinan: „ya“, PKI (1951-1965) akan hidup kembali, (1951-1965) bisa dan perlu dihidupkan kembali. Kelompok-kelompok ini akan selalu berusaha untuk menghidupkan kembali PKI (1951-1965), tentu dengan prinsip cara-cara revolusi-parlementer. Hanya saja cara revolusi-parlementer yang ditempuh bisa berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lainnya, cara yang ditempuh kelompok-kelompok ini bisa berbeda dengan cara parlementer yang ditempuh pada masa 1951-1965 (dimana pada masa itu PKI diberi hak oleh rezim Soekarno untuk exist secara legal, sedangkan pada masa rezim orde baru dan orde reformasi sekarang ini, keberdaan PKI dilarang oleh undang-undang, yakni TAP MPRS No XXV). Walaupun diantara kelompok ini ada yang berusaha untuk mengulang cara yang lama (1951-1965), yakni dengan cara melakukan perjuangan untuk menghidupkan kembali PKI secara legal, seperti yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk aktivitasnya, seperti: menuntut dicabutnya TAP MPRS No XXV, usaha-usaha melakukan rekonsiliasi dengan rezim yang berkuasa. masa orde reformasi sekarang ini, kelompok yang masih mempertahankan teori revolusi-parlementer ini, baik dalam satunya kata dengan perbuatan maupun yang berbeda antara kata dengan perbuatannya, menggunakan berbagai cara, seperti ada yang menggunakan partai (tidak menggunakan kata komunis) yang untuk mencapai tujuannya bergerak secara legal, ada juga yang menggunakan organisasi massa! sebagai alat untuk menciptakan situasi revolusioner, setelah situasi revolusioner yang dimaksud tercapai, kemudian PKI (illegal) akan mengambil alih kekuasaan.

lain, yang selanjutnya saya sebut sebagai kelompok kedua, yang berbeda dan berseberangan dengan kelompok pertama yang telah saya sebut tadi, adalah kelompok yang masih percaya kepada kebenaran teori Marx dan Lenin tentang kemutlakan revolusi bersenjata. Uni Sovyet dan semua negara komunis di Eropa Timur, begitu juga pengaruh gemerlapannya kehidupan kapitalais tidak menggoyah-kan kepercayaan kelompok ini terhadap kebenarannya teori Marx dan Lenin tentang revolusi bersdenjata tersebut. Kelompok ini akan menjawab pertanyaan Bung Asahan dengan tegas: „tidak“.. PKI (1951-1965) atau PKI dengan garis parlementer ini tidak boleh hidup kembali, PKI (1951-1965) tidak perlu dihidupkan kembali. Karena PKI (1951-1965) atau PKI garis parlementer ini bukan hanya telah mengorbankan dengan sia-sia anggotanya dan rakyat Indonesia, tetapi juga telah menghambat dan menghalang-halangi proses perjalanan revolusi sosialis di  Idonesia.

Dengan kelompok pertama, kelompok kedua menganggap tidak ada arti menuntut penghapusan TAP MPRS no XXV kepada penguasa, karena yang bisa menghapus TAP XXV hanya revolusi bersenjata. Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok kedua akan menuntut pemulihan hak-hak korban 1965, apalagi meminta-minta kompensasi kepada penguasa, karena hanya melalui revolusi hak-hak dan kompensasi tersebut dapat dipulihkan. dengan kelompok pertama, kelompok kedua tidak akan meminta-minta rekonsiliasi dengan kelompok feodalis dan kapitalis birokrat kakitangan kapitalisme global, atau muka baru neokolonialis dan imperialis, karena di dalam sejarah memang tidak pernah terjadi rekonsiliasi antara dua kekuatan yang saling bertentangan dan saling meniadakan! ini.

Kedua berbeda dengan kaum Trotskys, karena teori revolusi permanennya Troskys bukan hanya berbeda tetapi juga bertentangan dengan teori revolusi bersenjata Marx dan Lenin. Walaupun kaum Trotskys bersebarangan dengan PKI (1951-1965), bukan berarti kaum Trotskys sejajar dengan kelompok kedua, seperti halnya perbedaan kaum Trotskys dengan kelompok pertama (PKI 1951-1965) tidak dengan sendirinya dapat mensejajarkan PKI 1951-1965 dengan PK Uni Sovyet (dibawah Lenin dan Stalin) atau PKT (dibawah Mao).

Komunis yang akan dan yang perlu dibangun kembali adalah Partai Komunis yang mendasarkan kepada garis revolusi bersenjata, Partai Komunis illegal. Partai Komunis yang demikian hanya dapat dibentuk melalui praktek aksi-aksi untuk membentuk daerah-daerah basis.

25 Oktober 2005

Waki

******************* 0 0 0 0 0 0 0 0 *******************



Next

Previous


(c) 2005 Dihimpun oleh: cynth@wirantaprawira.de